Popular Posts
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
About Me
- Unknown
Minggu, 31 Mei 2015
Bismillah,
Dari sebagian kaum
muslimin yang banyak melakukan kenduri kematian, yang notabene didalamnya ada
ritual Tahlilan, sebagian dari mereka terutama yang memiliki latar belakang
pendidikan di pesantren-pesantren tradisional di negri ini, ternyata mereka
menyandarkan amalan mereka tersebut diantaranya kepada kitab I’anatuth
Thalibin. Apa itu kitab I’anatuth Thalibin ?
Kitab I’anatuth
Thalibin (إعانة الطالبين) adalah
kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid
Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab
Fathul Mu’in (فتح ال...معين لشرح قرة العين بمهمات
الدين لزين الدين بن عبد العزيز المليباري الفنانى).
Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu
kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh.
Berkaitan dengan acara kendurian orang mati/tahlilan ini, maka berikut ini nukilan dari kitab tersebut :
Berkaitan dengan acara kendurian orang mati/tahlilan ini, maka berikut ini nukilan dari kitab tersebut :
Berikut teks
lengkapnya;
وقد اطلعت على سؤال
رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك .(
وصورتهما ) ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في
العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر
معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل
الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة
الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام ـ بما
له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي ـ بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى
التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث
قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟
“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni
pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي
مكة المشرفة) tentang apa yang
dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan
(juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran
(penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai
(bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat
mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang
khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para
pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi
kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan
karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka
membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian
keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan
menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang
ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa
kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut
secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang
lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية)
dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat
ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu
diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?
أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
“Penjelasan sebagai
jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على
سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده,
Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.
“Iya.., apa yang
dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan
menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi
yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya
kaidah-kaidah agama dan mendorong Islamd serta umat Islam” [1]
PENJELASAN :
Jika kitab mereka
sendiri telah mengatakan seperti hal tersebut diatas, lalu bagaimana mungkin
mereka menyandarkan perbuatan tersebut kepada kitab ini?
Dari apa yang ada di
dalam kitab I’anatuth Thalibin ini sendiri, maka nampaklah dihadapan kita,
bahwa mereka-mereka yang melegalkan dan mengadakan kendurian orang mati, yang
notabene ada ritual tahlilan didalamnya, ternyata MEREKA dengan ro'yu dan hawa
nafsu mereka, telah membantah dan menyelisihi kitab pegangan mereka sendiri.
Allahul musta'an.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar