Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
About Me
- Unknown
Jumat, 02 September 2016
Peringatan Malam Nishfu Sya'ban
Diriwayatkan
dari ‘Ikrimah - rahimahullah – bahwasannya ketika ia menafsirkan firman Allah
ta’ala :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا
كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya
Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah
yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh
hikmah” [QS. Ad-Dukhaan : 3 – 4] – ia berkata :
أن
هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة ، وينسخ الأحياء من
الأموات ، ويكتب الحاج فلا يزاد فيهم أحد ، ولا ينقص منهم أحد
”Bahwasannya
yang dimaksud malam dalam ayat tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban;
dibentangkan padanya perkara sunnah, dihapuskannya kematian dari kehidupan, dan
diwajibkannya haji (dari Allah kepada manusia). Maka tidaklah ditambah padanya
atau dikurangi darinya seorangpun” [Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an oleh
Al-Qurthubi 16/126].
Adapun
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat yang sama berkata :
يقول
تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال
عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر}، وكان ذلك في شهر رمضان
كما قال تبارك وتعالى :{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }.
وقد ذكرنا الأحاديث الواردة في ذلك في سورة البقرة بما أغنى عن إعادته
”Allah
ta’ala telah berfirman ketika menjelaskan Al-Qur’an Al-’Adhim bahwasannya Dia
menurunkannya di malam yang diberkahi. Malam tersebut adalah Lailatul-Qadar
sebagaimana firman Allah ta’ala : ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al
Qur'an) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadr : 1). Malam tersebut berada di bulan
Ramadlan sebagaimana firman Allah ta’ala : ”(Beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an”
(QS. Al-Baqarah : 185). Kami telah menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan
tentang hal tersebut dalam (pembahasan) QS. Al-Baqarah sehingga telah mencukupi
dan tidak perlu diulangi kembali” [Tafsir Ibni Katsir 1/215,216].
Beliau
berkata pula :
ومن
قال إنها ليلة النصف من شعبان كما روي عن عكرمة فقد أبعد النجعة ، فإن نص القرآن
في رمضان ا.هـ
.
”Barangsiapa
yang berkata bahwasannya malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban sebagaimana
diriwayatkan dari ’Ikrimah, sungguh hal ini sangat jauh (dari pengertian yang
benar). Karena Al-Qur’an telah menetapkannya bahwa hal itu terjadi di bulan
Ramadlan” [idem, 4/570 - selesai].
Dalam
menetapkan makna firman Allah ta’ala : ”pada suatu malam yang diberkahi” , para
ulama terbagi menjadi dua pendapat :
*Malam dimaksud adalah Lailatul-Qadr – dan
ini adalah pendapat jumhur ’ulama’.
*Malam dimaksud adalah malam Nishfu Sya’ban
– dan ini adalah pendapat ’Ikrimah.
Yang
rajih - wallaahu a’lam - adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa
yang dimaksud malam yang diberkahi pada ayat tersebut adalah Lailatul-Qadr.
Bukan malam Nishfu Sya’ban. Hal tersebut dikarenakan Allah ta’ala telah
menyatakannya dalam bentuk global : ”pada suatu malam yang diberkahi” ; dan
kemudian menjelaskannya (makna global/umum itu) dalam ayat : ”(Beberapa hari
yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Qur'an” ; dan juga firman Allah : ”Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan” [lihat Fathul-Qadir 4/137].
Maka
dengan ini, anggapan yang menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam Nishfu
Sya’ban – tidak diragukan lagi – merupakan anggapan yang bathil yang
menyelisihi nash Al-Qur’an yang sharih (jelas). Dan tidak diragukan lagi bahwa
segala sesuatu yang menyelisihi kebenaran maka hal itu adalah kebathilan.
Adapun beberapa hadits yang menjelaskan bahwa malam dimaksud adalah malam
Nishfu Sya’ban, maka hadits tersebut telah menyelisihi kejelasan makna yang
ditetapkan Al-Qur’an sehingga tidak berdasar, tidak shahih sanadnya sedikitpun
– sebagaimana dijelaskan oleh Al-’Araby dan yang lainnya dari kalangan muhaqqiqiin.
Sungguh sangat mengherankan jika ada seorang yang mengaku muslim menyelisihi
nash Al-Qur’an yang sharih tanpa adanya sandaran Al-Qur’an dan Sunnah yang
shahih [lihat Adlwaaul-Bayaan 7/319].
Syaikhul-Islam
Ibnu Taimiyyah (di sela-sela penjelasannya tentang waktu-waktu yang mempunyai
keutamaan yang sering dianggap mempunyai keutamaan, padahal tidak benar bahkan
terlarang) berkata :
ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان فقد روي في فضلها
من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنها ليلة مفضلة ، وأن من السلف من كان
يخصها بالصلاة ، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة .
ومن العلماء من السلف من أهل المدينة وغيرهم من الخلف
من أنكر فضلها ، وطعن في الأحاديث الواردة فيها كحديث إن الله يغفر لأكثر من عدد
غنم كلب ))، وقال لا فرق بينها وبين غيرها .
لكن الذي عليه أكثر أهل العلم ، أو أكثرهم من أصحابنا
وغيرهم على تفضيلها ، وعليه يدل نص أحمد، لتعدد الأحاديث الواردة فيها ، وما يصدق
ذلك من الآثار السلفية، وقد روي بعض فضائلها في المسانيد والسننوإن كان قد وضع
فيها أشياء أخر) ا.هـ
”Dalam
bab ini, yaitu tentang malam Nishfu Sya’ban, maka telah diriwayatkan padanya
keutamaan yang datang dari hadits-hadits marfu’ dan atsar-atsar yang
menunjukkan bahwa malam tersebut adalah malam yang utama/mulia. Beberapa ulama
salaf ada yang mengkhususkan padanya shalat dan juga puasa Sya’ban sebagaimana
tertera dalam hadits-hadits yang shahih.
Di
antara ulama salaf dari kalangan penduduk Madinah dan yang lainnya dari
kalangan ulama khalaf mengingkari tentang keutamaannya dan mencela
(mendla’ifklan) hadits-hadits yang menjelaskan tentangnya, seperti hadits :
”Sesungguhnya Allah mengampuni dosa lebih banyak dari jumlah domba Bani Kalb”.
[1] Tidak ada perbedaan antara malam tersebut dengan malam yang lainnya.
Akan
tetapi kebanyakan ulama atau kebanyakan dari shahabat kami dan yang lainnya
menganggapnya sebagai malam mulia. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh nash
Ahmad karena banyaknya hadits-hadits dan atsar-atsar kaum salaf yang
menjelaskan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Telah diriwayatkan
sebagaian keutamaan malam Nishfu Sya’ban dalam kitab-kitab musnad, sunan. Jika
riwayat-riwayat tersebut adalah lemah/palsu, tentu perkaranya adalah lain”
[lihat Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim 3/626-627, Majmu’ Fataawaa 23/123, dan
Al-Ikhtiyaaraat Al-Fiqhiyyah hal. 65].
Telah
shahih dari hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam yang menyebutkan
keutamaan malam Nishfu Sya’ban sehingga kita tidak perlu berdalam-dalam dalam
membahasnya [2]. Akan tetapi, jika keutamaan tersebut dihubungkan dengan
amalan-amalan khusus tertentu, maka pendapat ini perlu dikaji lebih lanjut. [3]
Menurut para peneliti, hadits-hadits yang menjelaskan amalan-amalan khusus di
waktu Nishfu Sya’ban semuanya bukan merupakan hadits yang shahih. Di antara
hadits-hadits tersebut adalah :
Pertama
Hadits ’Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu
’anhu secara marfu’ :
إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا
نهارها
”Apabila datang malam Nishfu Sya’ban,
maka lakukanlah shalat di waktu malamnya dan puasa di waktu siangnya”
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1378,
Ibnul-Jauzi dalam Al-’Ilal 2/561 serta Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman 3/378-379
dan Fadlaailul-Auqaat hal. 24. Status hadits ini adalah sangat lemah atau
bahkan palsu. Letak kelemahan hadits ini terletak pada rawi yang bernama Ibnu
Abi Sabrah (Abu Bakr bin ’Abdillah bin Muhammad bin Abi Sabrah). Ahmad bin
Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata tentangnya : ”Seorang yang memalsukan hadits”.
Lihat selengkapnya dalam Silsilah Adl-Dla’iifah no. 2132.
Kedua,
Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu
secara marfu’ :
من
صلى ليلة النصف من شعبان ثنتى عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة قل هو الله أحد ثلاثين
مرة ، لم يخرج حتى يرى مقعده من الجنة ويشفع في عشرة من أهل بيته كلهم وجبت له
النار
”Barangsiapa yang melakukan shalat di
malam Nishfu Sya’ban sebanyak 12 raka’at, dimana setiap raka’atnya membaca ”Qul
Huwallaahu Ahad” sebanyak 30 kali, tidaklah ia keluar hingga ia melihat tempat
duduknya di surga dan memberikan syafa’at terhadap 10 orang anggota keluarganya
yang telah ditentukan nasibnya di neraka”.
Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh
Ibnul-Jauzai dalam Al-Maudlu’aat 2/129. Sanadnya gelap yang terdiri dari para
perawi yang tidak diketahui identitasnya (majhul). Lihat juga Al-Manaarul-Munif
karya Ibnul-Qayyim hadits no. 177.
Ketiga,
Hadits ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu
’anhu secara marfu’:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة النصف من
شعبان قام فصلى أربع عشرة ركعة ثم جلس بعد الفراغ فقرأ بأم القرآن أربع عشرة مرة
وقل هو الله أحد أربع عشرة مرة وقل أعوذ برب الفلق أربع عشرة مرة وقل أعوذ برب
الناس أربع عشرة مرة وآية الكرسي مرة ولقد جاءكم رسول الآية ، فلما فرغ من صلاته
سألت عما رأيت من صنيعه فقال : من صنع مثل الذى رأيت كان له كعشرين حجة مبرورة
وكصيام عشرين سنة مقبولة ، فإن أصبح في ذلك اليوم صائما كان كصيام ستين سنة ماضية
وسنة مستقبلة
”Aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi
wasallam pada malam Nishfu Sya’ban. Beliau berdiri dan kemudian shalat sebanyak
14 raka’at. Kemudian beliau duduk setelah selesai dan membaca Al-Fatihah
sebanyak 14 kali, Qul- Huwallaahu Ahad sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi
Rabbil-Falaq sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi Rabbin-Naas sebanyak 14 kali, dan
ayat Kursi sekali; sungguh akan mendatangi kalian utusan dari ayat-ayat tadi.
Ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya, aku bertanya tentang apa yang aku
lihat dari yang beliau lakukan. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam
menjawab : ”Barangsiapa yang mengerjakan seperti yang yang engkau lihat tadi,
maka baginya seperti 20 kali haji mabrur, puasa yang diterima selama 20 tahun.
Apabila di keesokan harinya dia berpuasa, maka puasanya itu sama dengan puasa
60 tahun lamanya pada masa lampau atau masa yang akan datang”.
Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh
Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 2/131.
Keempat,
Dan yang lainnya dari hadits-hadits lemah
dan palsu.
Oleh
karena itu Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz berkata :
وأما ما اختاره الأوزاعي -رحمه الله- من استحباب
قيامها للأفراد ، واختيار الحافظ ابن رجب لهذا القول فهو غريب وضعيف،لأن كل شيء لم
يثبت بالأدلة الشرعية كونه مشروعاً لم يجز للمسلم أن يحدثه في دين الله، سواء فعله
مفرداً أو في جماعة ، وسواء أسره أو أعلنه لعموم قوله صلى الله عليه وسلم:((من عمل
عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد)) . وغيره من الأدلة الدالة على إنكار البدع والتحذير
منها
”Adapun
pendapat yang di[ilih oleh Al-Auza’i – rahimahullah – bahwa disunnahkannya
shalat malam sendirian pada malam Nishfu Sya’ban – dan didukung oleh Al-Hafidh
Ibnu Rajab – maka hal itu sangatlah aneh dan lemah, karena segala sesuatu yang
tidak ditetapkan oleh dalil syar’i yang disyari’atkan, maka tidak diperbolehkan
bagi seseorang untuk mengatakan sebagai bagian dari agama. Walaupun dikerjakan
secara individu atau kelompok, baik dirahasiakan atau diumumkan kepada orang
banyak. Hal ini sesuai dengan makna umum dari sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam : “Barangsiapa yang mengerjakan satu amalan yang bukan berasal
perintah kami, maka ia tertolak”. Dan yang lainnya dari dalil-dalil yang
menunjukan pengingkaran bid’ah dan menyuruhnya agar berhati-hati darinya”
[At-Tahdzir minal-Bida’ hal 13].
Wallaahu
a'lam.
Catatan
kaki :
[1]
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 739 dengan lafadh :
إن
الله عز وجل ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر
غنم كلب
”Sesungguhnya
Allah ’azza wa jalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban, dimana
pada malam itu Allah mengampuni (dosa) yang jumlahnya lebih banyak dari bulu
domba milik Bani Kalb” .
Hadits
ini diriwayatkan juga oleh Ahmad (6/238 no. 26060), ’Abdun bin Humaid (no.
1509), Ibnu Majah (no. 1389), dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (no. 199).
Sanad hadits ini adalah dla’if sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Syu’aib
Al-Arna’uth dan Syaikh Al-Albani. Letak kedla’ifannya adalah pada Hajjaaj bin
Arthaah. Ia seorang mudallis yang telah meriwayatkan secara ‘an’anah. Akan tetapi,
hadits ini adalah shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana disebutkan
oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1144. Beliau menyebutkan
sekurangnya ada delapan shahabat yang meriwayatkan hadits tersebut yang
masing-masing jalannya saling menguatkan satu sama lain. Wallaahu a’lam. –
Abul-Jauzaa’
Satu
hal yang perlu dicatat adalah bahwa keutamaan yang tertera pada hadits tersebut
bukanlah keutamaan yang khusus dimiliki oleh malam Nishfu Sya’ban tanpa
dimiliki oleh malam-malam yang lain. Bahkan keutamaan yang dimiliki oleh malam
Nishfu Sya’ban telah tercakup pada keumuman hadits :
ينزل
ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول من
يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له
”Rabb
kami tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga
malam yang terakhir, seraya berfirman : ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku,
maka Aku akan mengabulkan doanya. Dan barangsiapa yang meminta, maka aku akan
memberinya. Dan barangsiapa yang meminta ampunan dari-Ku, maka Aku akan
mengampuninya” [HR. Bukhari no. 1094 dan Muslim no. 758 dari shahabat Abu
Hurairah radliyallaahu ’anhu].
Dengan
kalimat ringkas dapat dikatakan : Keutamaan yang dimiliki malam Nishfu Sya’ban
juga dimiliki oleh malam-malam yang lainnya, terutama pada waktu sepertiga
malam yang terakhir.
[2]
Sebagaimana telah dituliskan penjelasannya pada catatan kaki no. 1.
[3]
Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama mengatakan
bahwa tidak dimakruhkan shalat seseorang di rumahnya atau berjama’ah (di
masjid) secara khusus di malam Nishfu Sya’ban sebagaimana pendapat Al-Auza’i,
Ibnu Rajab, dan Ibnu Taimiyyah. Kebalikannya, ’Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, Abu
Syammah Al-Maqdisi, dan jumhur ulama Malikiyyah mengatakan bid’ahnya amalan
tersebut di malam Nishfu Sya’ban [Al-Bida’ Al-Hauliyyah hal. 148; Maktabah
Ash-Shaid].
Label:
FIQIH
|
0
komentar
Sabtu, 21 Mei 2016
HINDARI PERDEBATAN DALAM AGAMA [1]
Ibnu Abbas mengatakan,
كَفَى بِكَ ظُلْمًا أَلاَّ تَزَالَ مُخَاصِمَا، وَكَفَى
بِكَ إِثْمَا أَلاَّ تَزَالَ مُمَارِيَا
“Cukup bagimu kezhaliman
bila engkau selalu berbantah-bantahan, dan cukup bagimu dosa jika engkau selalu
bermusuhan.” (Bahjatul Majalis 2/ 429 oleh Ibnu Abdil Barr)
Al-Imam Malik mengatakan,
لَيْسَ هَذَا الْجِدَالُ مِنَ الدِّيْنِ بِشَيْءٍ
“Tidaklah perdebatan ini
merupakan bagian dari agama sedikitpun.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 8/108 oleh
adz-Dzahabi)
Ma’ruf al-Karhi mengatakan;
إِذَا أَرَادَ الله بِعَبْدٍ شَرًّا، أَغْلَقَ عَنْهُ
بَابَ الْعَمَلِ، وَفَتَحَ عَلَيْهِ بَابَ الْجَدَلِ
“Apabila Allah menghendaki
terhadap hambanya kejelekan, maka akan ditutup darinya pintu amal, dan akan
dibukakan kepadanya pintu perdebatan.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 99/340, oleh
adz-Dzahabi)
Asy-Syafi’I mengatakan;
الْمِرَاءُ فِي الدِّيْنِ يُقْسِي الْقَلْبَ، وَيُوْرِثُ
الضَّغَائِنِ
“Berbantah-bantahan dalam
masalah agama akan mengeraskan hati dan mengakibatkan rasa dendam.” (Siyar A’lam
an-Nubala’ 10/28, oleh adz-Dzahabi)
Al-Qasim ibn Utsman al-Jau’I mengatakan;
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُخَاصِمُ فَهُوَ يُحِبُّ
الرِّئَاسِةَ
“ Jika engkau melihat
seseorang yang (gemar) membantah, maka berarti dia gila jabatan.” (Siyar A’lam
an-Nubala 12/79. Oleh adz-Dzhabai)
Umar bin Abdul Aziz mengatakan,
اِحْذَرْ الْمِرَاءَ، فَإِنَّهُ لاَ تُؤْمَنُ فِتْنَتُهُ
وَلاَ تُفْهَمُ حِكْمَتُهُ
“Berhati-hatilah dari
berbantah-bantahan, karena seorang tidak akan selamat dari fitnahnya, dan tidak
diketahui hikmahnya.” (Hilyatul Auliya’ 5/290 oleh Abu Nu’aim)
Tsabit ibnu Qurrah mengatakan;
إِيَّاكُمْ وَهَذَهِ الْخُصُوْمَاتِ، فَإِنَّهَا
تُحْبِطُ الأ عْمَالَ
“Hati-hatilah kalian dari
berbantah-bantahab karena ia akan menghapus amalan.” (Syarh Ushul I’tiqad
Ahlissunnah wal-jamaah 1/29, oleh al-Lalika’i)
Yahya Ibnu Katsir mengatakan bahwa Sulaiman berkata;
يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ فَإِنَّهَا لَيْسَ
فَيْهِ مَنْفَعَةٌ، وَهُوَ يُوْرِثُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الإِجْوَانَ
“Wahai anakku, jauhilah
perbuatan berbantah-bantahan, karena hal itu tidak ada manfaatnya sama sekali,
hanya akan menyebabkan permusuhan antara sesama saudara.” (Siyar A’lam
an-Nubala 4/549. Oleh adz-Dzhabai)
di salin Rio Kristianto
di salin Rio Kristianto
Label:
MANHAJ
|
0
komentar
Minggu, 31 Mei 2015
Bismillah,
Dari sebagian kaum
muslimin yang banyak melakukan kenduri kematian, yang notabene didalamnya ada
ritual Tahlilan, sebagian dari mereka terutama yang memiliki latar belakang
pendidikan di pesantren-pesantren tradisional di negri ini, ternyata mereka
menyandarkan amalan mereka tersebut diantaranya kepada kitab I’anatuth
Thalibin. Apa itu kitab I’anatuth Thalibin ?
Kitab I’anatuth
Thalibin (إعانة الطالبين) adalah
kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid
Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab
Fathul Mu’in (فتح ال...معين لشرح قرة العين بمهمات
الدين لزين الدين بن عبد العزيز المليباري الفنانى).
Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu
kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh.
Berkaitan dengan acara kendurian orang mati/tahlilan ini, maka berikut ini nukilan dari kitab tersebut :
Berkaitan dengan acara kendurian orang mati/tahlilan ini, maka berikut ini nukilan dari kitab tersebut :
Berikut teks
lengkapnya;
وقد اطلعت على سؤال
رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك .(
وصورتهما ) ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في
العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر
معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل
الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة
الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام ـ بما
له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي ـ بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى
التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث
قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟
“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni
pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي
مكة المشرفة) tentang apa yang
dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan
(juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran
(penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai
(bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat
mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang
khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para
pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi
kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan
karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka
membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian
keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan
menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang
ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa
kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut
secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang
lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية)
dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat
ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu
diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?
أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
“Penjelasan sebagai
jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على
سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده,
Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.
“Iya.., apa yang
dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan
menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi
yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya
kaidah-kaidah agama dan mendorong Islamd serta umat Islam” [1]
PENJELASAN :
Jika kitab mereka
sendiri telah mengatakan seperti hal tersebut diatas, lalu bagaimana mungkin
mereka menyandarkan perbuatan tersebut kepada kitab ini?
Dari apa yang ada di
dalam kitab I’anatuth Thalibin ini sendiri, maka nampaklah dihadapan kita,
bahwa mereka-mereka yang melegalkan dan mengadakan kendurian orang mati, yang
notabene ada ritual tahlilan didalamnya, ternyata MEREKA dengan ro'yu dan hawa
nafsu mereka, telah membantah dan menyelisihi kitab pegangan mereka sendiri.
Allahul musta'an.
Langganan:
Postingan (Atom)


