Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
About Me
- Unknown
Minggu, 31 Mei 2015
Bismillah,
Dari sebagian kaum
muslimin yang banyak melakukan kenduri kematian, yang notabene didalamnya ada
ritual Tahlilan, sebagian dari mereka terutama yang memiliki latar belakang
pendidikan di pesantren-pesantren tradisional di negri ini, ternyata mereka
menyandarkan amalan mereka tersebut diantaranya kepada kitab I’anatuth
Thalibin. Apa itu kitab I’anatuth Thalibin ?
Kitab I’anatuth
Thalibin (إعانة الطالبين) adalah
kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid
Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab
Fathul Mu’in (فتح ال...معين لشرح قرة العين بمهمات
الدين لزين الدين بن عبد العزيز المليباري الفنانى).
Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu
kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh.
Berkaitan dengan acara kendurian orang mati/tahlilan ini, maka berikut ini nukilan dari kitab tersebut :
Berkaitan dengan acara kendurian orang mati/tahlilan ini, maka berikut ini nukilan dari kitab tersebut :
Berikut teks
lengkapnya;
وقد اطلعت على سؤال
رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك .(
وصورتهما ) ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في
العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر
معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل
الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة
الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام ـ بما
له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي ـ بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى
التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث
قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟
“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni
pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي
مكة المشرفة) tentang apa yang
dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan
(juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran
(penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai
(bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat
mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang
khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para
pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi
kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan
karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka
membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian
keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan
menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang
ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa
kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut
secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang
lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية)
dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat
ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu
diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?
أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
“Penjelasan sebagai
jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على
سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده,
Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.
“Iya.., apa yang
dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan
menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi
yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya
kaidah-kaidah agama dan mendorong Islamd serta umat Islam” [1]
PENJELASAN :
Jika kitab mereka
sendiri telah mengatakan seperti hal tersebut diatas, lalu bagaimana mungkin
mereka menyandarkan perbuatan tersebut kepada kitab ini?
Dari apa yang ada di
dalam kitab I’anatuth Thalibin ini sendiri, maka nampaklah dihadapan kita,
bahwa mereka-mereka yang melegalkan dan mengadakan kendurian orang mati, yang
notabene ada ritual tahlilan didalamnya, ternyata MEREKA dengan ro'yu dan hawa
nafsu mereka, telah membantah dan menyelisihi kitab pegangan mereka sendiri.
Allahul musta'an.
Senin, 25 Mei 2015
Antara Tanda Sujud Dan Dua Titik Hitam Di Kening
Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx
Jawab:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ
أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah
utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’
dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira
bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang
dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh
Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan
‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh
Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyukan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalahshalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا
حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا
هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى
هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu
Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut
mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah
anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat
ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata
kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu?
Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman.
Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam
Sunan Kubro no 3698)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا
فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ
صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar,
beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar
berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada
wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!”
(Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو
الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ :
لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu
Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal
‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih
baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ
سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ،
وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ
كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin
Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama
az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as
Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi
Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat
dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah
memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no
3701).
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ
(سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى
وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ
مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ
وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku
bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka
tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas
di wajah?
Jawaban beliau,
“Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu
bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda
yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat
Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij(baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij(baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin
Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang
shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu
hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para
shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar
dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata,
“Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua
telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada
Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya.
Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah
sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau
tidak memberinya.
Dia lantas berkata,
“Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ
هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ
تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ
الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ
يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari
arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian
dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati
tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat
dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali
kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul
muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al
Arnauth).
Oleh karena itu,
ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga
hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab
timbulnya bekas hitam di dahi.
Penulis:
Muhammad Abduh
Tuasikal
Label:
FIQIH
|
0
komentar
Kamis, 23 April 2015
Bismillah
was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Puasa Bulan Rajab
Pertanyaan:
Akhir-akhir
ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya,
apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau
hanya beberapa hari saja di bulan Rajab?
Hendra
Irawan (**hendra@***.com)
Jawaban:
Tidak
terdapat amalan khusus terkait bulan
Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah.
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab
adalah hadis dhaif dan tertolak.
Ibnu Hajar
mengatakan,
لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في
صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد
سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ
“Tidak
terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan
Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di
tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan
rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu
Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)
Keterangan
yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas
tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif,
beliau menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,
لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و
الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا
تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء
“Tidak
terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab.
Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama
bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah
bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)
Terkait
masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,
لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى
الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام
رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما
ورد في صيام الأشهر الحرم كلها
“Tidak ada
satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan
puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa
beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di
bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari
keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak
menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada
adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya”
(Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)
Keterangan
Ibnu Rajab yang menganjurkan adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan dalam
hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat
Al-Bahily ini mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah bertemu
dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun
kemudian, dia datang lagi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ya
Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,
“Siapa
anda?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Saya
Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab
sahabat
“Apa yang
terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
“Saya tidak
pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab
sahabat.
Menyadari
semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menasehatkan,
لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ
الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
Mengapa
engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari
setiap bulan.
Namun
Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,
“Puasalah
sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua
hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!”
“Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai
akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,
صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ
الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ
“Berpuasalah
di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan
haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR.
Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh
sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).
Bulan haram
artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang.
Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Puasa di Bulan Haram
Hadis
Mujibah Al-Bahiliyah menceritakan anjuan untuk berpuasa di semua bulan haram,
sebagaimana yang ditegaskan Ibnu Rajab. Itupun anjuran puasa ini sebagai
pilihan terakhir ketika seseorang hendak memperbanyak puasa sunah, sebagaimana
yang disarankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat
Al-Bahily. Karena itu, terlalu jauh ketika hadis ini dijadikan dalil anjuran
puasa di bulan rajab secara khusus, sementara untuk bulan haram lainnya, kurang
diperhatikan. Karena praktek yang dilakukan beberapa ulama, mereka berpuasa di
seluruh bulan haram, tidak hanya bulan rajab. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu
Rajab,
قد كان بعض السلف يصوم الأشهر الحرم كلها منهم
ابن عمر و الحسن البصري و أبو اسحاق السبيعي و قال الثوري : الأشهر الحرم أحب إلي
أن أصوم فيها
Beberapa
ulama salaf melakukan puasa di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar,
Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i. Imam Ats-Tsauri mengatakan,
“Bulan-bulan haram, lebih aku cintai untuk dijadikan waktu berpuasa.”
(Lathaiful Ma’arif, hlm. 213).
Para Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa
Kebiasaan
mengkhususkan puasa di bulan rajab telah ada di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu.
Beberapa tabiin yang hidup di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan
demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait
kegiatan bulan rajab yang mereka jupai.
Berikut
beberapa riwayat yang menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat
ini kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab,
yang membahas tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,
روي عن عمر رضي الله عنه : أنه كان يضرب أكف
الرجال في صوم رجب حتى يضعوها في الطعام و يقول : ما رجب ؟ إن رجبا كان يعظمه أهل
الجاهلية فلما كان الإسلام ترك
Diriwayatkan
dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan
beberapa orang yang melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya
di makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang
dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”
Dalam riwayat
yang lain,
كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة
“Beliau
benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).” (Lathaif
Al-Ma’arif, 215).
Dalam
riwayat yang lain, tentang sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,
أنه رأى أهله قد اشتروا كيزانا للماء واستعدوا
للصوم فقال : ما هذا ؟ فقالوا: رجب. فقال: أتريدون أن تشبهوه برمضان ؟ وكسر تلك
الكيزان
Beliau
melihat keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan
untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa
rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan
ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan
oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215,
Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi
Al-Ujb hlm. 35)
Ibnu Rajab
juga menyebutkan beberapa riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti
Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa
rajab sebulan penuh.
Sikap mereka
ini menunjukkan bahwa mereka memahami bulan rajab bukan bulan yang dianjurkan
untuk dijadikan waktu berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat
mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kesimpulan:
Kesimpulan
dari keterangan di atas,
- Tidak dijumpai dalil khusus yang menyebutkan keutamaan bulan rajab.
- Tidak dijumpai dalil yang menyebutkan keutamaan puasa rajab atau shalat sunah khusus di bulan rajab.
- Beberapa sahabat melarang orang mengkhususkan puasa khusus di bulan rajab atau melakukan puasa sebulan penuh selama bulan rajab.
- Dalil yang menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang melakukan puasa rajab adalah hadis dhaif, dan tidak bisa dijadikan dalil.
- Bagi orang yang rajin puasa, dibolehkan untuk memperbanyak puasa di bulan haram. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Al-Bahily. Hanya saja, hadis ini berlaku umum untuk semua puasa bulan haram, tidak hanya rajab.
Allahu
a’lam
Label:
FIQIH
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)


