Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
Oktober
(14)
- BUKTI CINTA DAN PENGAGUNGAN KEPADA NABI SHALLALLAH...
- PRINSIP PERSAMAAN YANG TIDAK SYAR’I
- KESAMAAN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH PARA RASUL
- Mengambil Pelajaran…
- Jilbab
- Hukum dan Cara Mengusap Telinga ketika Berwudhu
- WAJIB MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR DAN MUSYRIK
- INTERAKSI DENGAN NON MUSLIM YANG DI BOLEHKAN
- Mencabut Uban di Kepala dan Jenggot
- Celaan Mengangkat & Memilih Orang Kafir
- Kondisi Masyarakat Abad Pertama dan Kedua
- Waspadai Tipu Daya Musuh
- Solusi Mengambil Anak Angkat
- Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya
-
▼
Oktober
(14)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
Oktober
(14)
- Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya
- Solusi Mengambil Anak Angkat
- Waspadai Tipu Daya Musuh
- Kondisi Masyarakat Abad Pertama dan Kedua
- Celaan Mengangkat & Memilih Orang Kafir
- Mencabut Uban di Kepala dan Jenggot
- INTERAKSI DENGAN NON MUSLIM YANG DI BOLEHKAN
- WAJIB MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR DAN MUSYRIK
- Hukum dan Cara Mengusap Telinga ketika Berwudhu
- Jilbab
- Mengambil Pelajaran…
- KESAMAAN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH PARA RASUL
- PRINSIP PERSAMAAN YANG TIDAK SYAR’I
- BUKTI CINTA DAN PENGAGUNGAN KEPADA NABI SHALLALLAH...
-
▼
Oktober
(14)
About Me
- Unknown
Senin, 27 Oktober 2014
MEMBELANYA.
سادسا
: الذب عنه :
إن
الدفاع عن رسول الله صلى الله عليه و سم ونصرته، آية عظيمة من آيات المحبة والإ
جلال، قال الله ـ تعالى ـ :
Membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah salah
satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman,
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ
وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari
kampong halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah
dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya mereka itulah
orang-orang yang benar.” (QS; al-Hasyr; 8)
ولقد
سطر الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ أروع الأمثلة وأصدق الأعمال في الذب عن رسول الله
صلى الله عليه و سلم، وفدائه بالأموال والأ ولاد والأنفس، في المنثط وامكره، في
العسر واليسر، وكتب السير عامرة بقصصهم
وأخبارهم التي تدل على غاية المحبة و الإيثار والتعظيم.
Para Shahabat telah mengilustrasikan contoh terindah dan
amalan yang paling jujur dalam membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
serta menebusnya dengan harta, anak dan nyawa, baik saat giat dan terpaksa,
sulit maupun muda. Kitab-kitab sejarah sarat dengan kisah-kisah mereka dan
berita-berita mereka menunjukkan puncak kecintaan, sikap mendahulukan
kepentingan beliau ketimbang diri sendiri, dan pengagungan.
ومن
ذلك أن أبا طلحة الأ نصاري ـ رضيالله عنه ـ كان يحمي الرسول صلى الله عليه وسلم في
غزوة أحد، ويرمي بين يدية، ويقول : (( بأبي أنت وأمي، لا تشرف يصيبك سهم من سهام
القوم، نحري دون نحرك ))
Di antaranya, bahwa Abu Thalhah al-Anshari melindungi Rasul
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada perang Uhud dan memanah di hadapannya,
seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, jangan sampai salah satu
panah kaum mengenaimu; cukup leherku saja bukan lehermu. “ [1]
وعن
قيس بن أبي حازم قال : (( رأيت يد طلحة شلاء، وقى بها النبي صلى الله عليه وسلم
يوم أحد ))
Dari Qais bin Abi Hazim, ia mengatakan, “Aku melihat tangan
Thalhah terangkat untuk melindungi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada
perang Uhud. “ [2]
وما
أجمل ما قاله أنس بن النصريوم أحد لما انكثف المسلمون : اللهم إني أعتذر إليك مما
صنع هؤلاء يعني أصحابه ، وأبرأ إليك مماصنع هؤلاء يعني المشر كين، ثم تقدم فاستقبله
سعد، فقال : يا سعد بن معاذ، الجنة ورب النضر إني أجد ريحها من دون أحد، قال سعد :
فما استطعت يا رسول الله ما صنع، قال أنس بن مالك : فوجدنابه بضعا وثمانين ضربة
بالسيف أو طعته برمح أورمية بهم، ووجدناه قد قتل، وقد مثل به المشركون، فما عرفه
أحد إلا أخته ينانه.
Betapa indahnya apa yang dikatakan Anas bin Nadhr pada perang
Uhud, ketika umat Islam kalah, “Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap
apa yang diperbuat oleh mereka (yakni para Shahabatnya) dan aku berlepas dari
Mu dari apa yang diperbuat oleh mereka (yakni Musyrik). Kemudian ia masji lalu
Sa’ad menemuinya, maka ia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, Surga dari Uhud.”
Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya.” Anas bin Malik
berkata, “Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau
lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur, dan kaum musyrikin telah
mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara
perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya. “ [3]
Membela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengharuskan
beberapa hal. Di antaranya :
1.
Membela Para Sahabatnya Radhiyallahu
anhu
Umat telah sepakat bahwa semua Sahabat adalah terpercaya dan
adil dan bahwa mereka itu sebaik-baik umat sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam. Telah mutawatir nash-nash dari al-Qur’an dan bahwa as-Sunnah yang
menjelaskan hal itu, antara lain ;
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ
تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap
orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka
Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas
mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat
(waktunya). “ {QS; al-Fath; 18}
Allah Ta’ala berfirman,
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى
الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا
مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ
أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ
الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“ Muhammad itu adalah
utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka
ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka
tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala
yang besar. “{QS; al-Fath; 29}
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا
تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ
أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ
وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah mencaci maki salah seorang Sahabatku : sebab salah
seorang kalian seandainya menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak
menyamai satu mud (yang diinfakan) salah seorang mereka dan tidak pula mencapai
saparuhnya. ‘ [4]
Hak-hak para Sahabat banyak sekali, di antaranya :
A.
Mencintai dan meridhai mereka.
Allah Ta’ala berfirman ;
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ
لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“ Dan orang-orang yang
datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb
Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu
dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap
orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi
Maha Penyayang." {QS; al-Hasyr; 10}
B.
Mengikuti jalan mereka dan emncontoh
sunnah mereka Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;
فإنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُـنَّتِي
وَسُـنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهِا
وَعَضُّوا عَلًيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“ Sesungguhnya
siapa yang masih hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang bayak.
Maka berpeganglah dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat
petunjuk sesudahku; berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi
geraham .” [5]
Tetapi ahli bid’ah menyimpang berkenaan dengan hak para
Sahabat. Mereka tidak mengakui keutamaan mereka dan terlebih dahulu beriman,
bahkan mencaci maki dan mengurangi martabatnya. Bahkan ahli bid’ah yang
berlebih-lebihan telah mnuduh mereka berdusta, munafik dan berkhianat. Karena
itu Aisyah berkata,
أمروا
أن يستغفر وا لأصحاب رسوالله صلى الله عليه وسلم فسـبُّوهم.
“ Mereka
diperintahkan supaya memintakan ampunan buat para Sahabat Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi malah mencaci maki mereka. “ [6]
Mencaci makai para Sahabat sama halnya dengan mencaci maki
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; sebab mereka adalah para kekasihnya. Karena
itu Imam Mali dan selainnya berkata,
إنما
أراد هؤلاء الرافضة الطعن في الرسول ليقول القائل : رجل سوءكان له أصحاب سوء، ولو
كان رجلاً صا لحاً لكان أصحابه صالحين.
“Para Rafidhah
itu hanyalah hendak menikam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, supaya
orang mengatakan,’ Orang yang bruruk mempunyai para Sahabat yang buruk.
Seandainya ia orang baik niscaya para Sahabatnya pun baik.” [7]
Ibnu Taimiyah berkata ;
وأما
الر افضة في الصحابة، وباطن أمرهم الطعن في الرسالة.
“Adapun Rafidhah maka mereka telah mencaci maki para Sahabat,
padahal sebenarnya mereka bermaksud mencaci maki Risalah ini.” [8]
2.
Membela para isterinya, para
Ummahatul Mukminin.
Termasuk membela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah
membela kehormatannya dan kehormatan para isterinya yang suci, khususnya Ummul
Mukminin Aisyah yang Allah telah membebaskannya (dari segala tuduhan) dari atas
langir ketujuh dalam ayat-ayat yang akan di baca hingga hari kiamat. Dia
berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ
شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ
مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ ؛ لَوْلا
إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا
وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ ؛ لَوْلا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ
فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ
الْكَاذِبُونَ ؛ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ؛ إِذْ
تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ
بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ؛ وَلَوْلا
إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا
سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ ؛ يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا
لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“ Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah
baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang
dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar
dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar; mengapa di waktu
kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak
bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:
"Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." ; mengapa mereka (yang
menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah
karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah
orang- orang yang dusta. ; Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya
kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang
besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.; (ingatlah) di waktu kamu menerima berita
bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak
kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.
Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. ; dan mengapa kamu tidak berkata,
diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi
kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang
besar." ; Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang
seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.’ {QS; An-Nur;
11-17}
Imam Malik
berkata,
من
سبأبابكر جلد، ومن سب عائشة قتل، قيل له: لم؟ قال : من ر ماها فقد خالف القرآن.
’’Barangsiapa mencaci maki Abu Bakar harus dicambuk dan
barangsiapa mencaci maki Asiyah harus dibunuh.’’ ditanyakan kepadanya,
‘’Mengapa?’’ ia menjawab, ‘’Barangsiapa menuduhnya maka ia telah menyelisihi
al-Qur’an.’’[9]
Ibnu Katsir
berkata,
وقد أجمع العلماء ـ رحمهم الله ـ قاطبة على أن من سبَّها
بعد هذا الذي ذكره في هذه الآية فإنه كافر لانه معاند للقرآن
“ Para Ulama
semuanya telah bersepakat bahwa siapa yang mencaci maki Aisyah, sesudah Allah
menyebutkan hal ini dalam ayat, maka ia kafir, karena ia menentang al-Qur’an. “
[10]
Tuduhan
kepada para isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kebatilan
merupakan penghinaan terbesar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena
itu, al-Qurtubi berkata mengenai tafsir firmannya,
“ Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat
yang seperti itu selama-lamanya,”
يعني في عائثة لانَّ مثله لا يكون إلا نظير القول في
المقول عنه بعينه، أو فيمن كان في مر تبة من أزواج النبي صلى الله عليه وسلم، لما
في ذلك من أذية رسول الله صلى الله عليه وسلم في عرضه وأهله، وذلك كفر من فاعله
“ Yakni mengenai Aisyah, karena semisalnya hanyalah ucapan yang
sebanding dengan pernyataan tersebut atau terhadap orang yang semartabat
dengannya dari isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena
perbuatan tersebut merupakan penghinaan terhadap kehormatan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarganya, dan itu kafir bagi siapa yang
melakukannya.” [Tafsir al-Qurtubi XII/52]
Rio Kristianto
di Amdil dari ;
حقوق النبي صلى الله عليه وسلم بين الإجلال والإخلال
[1]
Al-Bukhari, V/33 no. 4064; Fath VII/ 418.
[2]
Al-Bukhari, V/33 no. 4063; Fath VII/ 416.
[3]
Al-Bukhari, III/305, V/31 no.2805, 4047, al-Fath VI/27, VII/411.
[4]
Muslim II/1968 no. 2541
[5]
Ahmad, IV/127, Abu Dawud no. 7046, ath-Thirmidzi no. 2676; Ibnu Majah no. 43
Sanadnya Shahih
[6]
Muslim dalam at-Tafsir III/ 2317 no. 3022
[7]
Munhaj as-Sunnah VII/ 459
[8]
Minhaj as-Sunnah III/ 463.
[10]
Tafsir al-Qur’an al-Azhim III/ 276
Label:
AQIDAH
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)