Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Minggu, 07 September 2014
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT
DUNIA.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini
turunya Allah Ta’ala ke langit dunia dengan turun yang haqiqi, [1]
tanpa tasybih (penyerupaan) dengan turunnya makhluk, juga tanpa tamtsil
(penyamaan sifat turunya Allah seperti turunnya makhluk) serta tanpa takyif
(menggambarkan hakikat bagaimana turunya Allah). Berdasarkan beberapa riwayat
hadits Shahih yang dating dari Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. [2]
Di dalam ash-Shahihain dari Abu
Hurairah, bahwasannya Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
يَنْزِلُ
رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ
يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.
“Rabb
kami Tabaaraka wa Ta’aalaa turun ke langit dunia pada setiap malam ketika
tinggal sepertiga malam terakhir, lalu berfirman,”Barangsiapa yang berdo’a
kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’anya, barangsiapa yang meminta
kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi permintaanya, dan barangsiapa yang memohon
ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.’” [3]
Hadits tentang turunnya Allah
(an-nuzuul) ini merupakan hadits-hadits yang mutawatir (diriwayatkan oleh orang
banyak yang menurut akal mustahil mereka berdusta). Ibnu Qayyim menyebutkan
sebanyak 59 Shahabat yang meriwayatkan hadits tentang turunnya Allah ke langit
dunia ini. [4]
KAPAN WAKTU TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA?
Terdapat riwayat yang
berbeda-beda tentang penentuan waktu turunnya Allah ke langit dunia. Di
antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah terdahulu yang menunjukkan
bahwa turunnya Allah terjadi pada sepertiga malam terakhir. Dan ini merupakan
riwayat yang paling shahih, sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian. Namun
ada pula beberapa riwayat lain yang berbeda.
Dalam menyikapi perbedaan riwayat
ini, para ulama menempuh jalan Tarjih (mengambil pendapat yang lebih kuat dan
tepat) atau al-jam’u bainar riwayaat (menyatukan semua riwayat untuk mengambil
satu kesimpulan)
Al-Hafidz Ibnu Hajar menuturkan,”
Tidak terdapat perbedaan riwayat az-Zuhri tentang penentuan waktu. Namun
terjadi perbedaan di antara riwayat dari Abu Hirairah dengan yang lainnya.
Ath-Thirmidzi mengomentari,”(Bahwa) riwayat Abu Hurairah merupakan riwayat yang
paling Shahih dalam masalah ini dari semua riwayat yang ada."[5]
Hal itu semakin diperkuat pula dengan adanya perbedaan pada ruwat (rangkaian
penutur hadits) di antara riwayat-riwayat yang berbeda tersebut.
Sebagian Ulama lain menempuh
metode al-jamu’, bahwa riwayat-riwayat tersebut bermuara pada enam point,
yaitu,
1. turunya Allah ke langit
dunia terjadi ketika tinggal sepertiga malam terakhir
2. Terjadi ketika sepertiga malam pertama telah berlalu
3. Terjadi pada sepertiga malam pertama atau tengah malam.
4. Pada tengah malam
5. Pada tengah malam atau sepertiga malam terakhir
6. Terjadi secara mutllak tanpa penentuan waktu.
Adapun riwayat yang menunjukkan
pada kemutlakannya, mengandung makna yang terikat pula. Adapun riwayat yang
menggunakan kata او(atau), jika kehadirannya karena demikian
adanya atau disebabkan adanya keraguan (dalam meriwayatkannya), maka yang lebih
meyakinkan adalah harus diutamakan daripada yang masih diragukan (dengan metode
tarjiih) dan jika kata او (atau)
tersebut ada karena bimbang di antara dua hal yang sama kuatnya, maka
riwayat-riwayat itu disatukan (dengan metode al-Jam’u) dengan kesimulan
bahwa turunnya Allah ke alngit dunia terjadi sesuai dengan perbedaan situasi
dan kondisi, karena keadaan waktu malam yang lebih cepat masuk dalam sebuah
wilayah komunitas tertentu, sementara untuk wilayah komunitas yang lai waktu
malam itu lebih lambat masuk.”
Pendapat lainnya
mengatakan,”Ada kemungkinan turunya Allah ke langit dunia terjadi pada
sepertiga malam pertama. Sedangkan pendapat ini cenderung mengatakan bahwa hal
ini terjadi pada tengah malam atau sepertiga malam kedua.
Pendapat lainnya
menyatakan,”Ada kemungkinan bahwa waktu turunya Allah ke langit dunia terjadi
di semua waktu yang disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits terdahulu. Dan
dimungkinkan juga bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikabarkan tentang
salah satu dari peristiwa perkara tersebut. Yang terjadi pada satu waktu , lalu
beliau mengabarkan berita tersebut. Kemudian beliau dikabarkan kembali tentang
peristiwa serupa, yang terjadi di waktu yang berbeda kemuadian beliau
mengabarkannya. Selanjutnya, para Shahabat menukilkan semua kejadian ini dari
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuai dengan berita yang mereka dapatkan
masing-masing . Wallaahu A’lam
KEUTAMAAN DAN KEBERKAHAN DI
SAAT-SAAT TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA
Penjelasannya adalah sebagai berikut
:
Pertama, bahwa waktu (nuzul
Ilaahi) turunnya Allah ke langit dunia ini merupakan waktu terkabulnya do’a
orang-orang yang memanjatkannya, dan waktu dipenuhinya segala kebutuhan
orang-orang yang meminta dalam perkara dunia maupun akhirat, sebagaimana yang
diutarakan dalam hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia.
Dalam Shahih Muslim tertera
sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa ia mengatakan:” Aku mendengar
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya pada waktu malam
terdapat satu waktu yang tidaklah seorang Muslim memohon kepada Allah kebaikan
dunia dan akhirat yang bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan ia akan
diberi Allah apa yang ia minta. Dan hal itu terjadi pada setiap malam.”[6]
Mungkin “Waktu yang dikabulkan”
yang dimaksud dalam hadits di atas, adalah bertepatan dengan waktu turunnya
Allah kelangit dunia yang pada saat itu juga semua do’a dikabulkan oleh Allah.
Sesungguhnya ilmu tentang hal itu hanya ada sisi Allah Ta’ala.
Adapun sebab tidak terkabulnya
do’a kebanyakan orang yang memohon pada waktu yang mulia ini, Imam al-‘Aini [7]
memberikan tanggapannya tentang masalah ini. Dia mengatakan :”Sesungguhnya
tidak diterimanya do’a di waktu-waktu terkabulnya do’a ini karena adanya cela
(cacat) dalam satu syarat dari syarat-syarat do’a. seperti dalam masalah
menjaga makanan, minuman dan pakaian, atau karena orang yang berdo’a terlalu
tergesa-gesa, do’anya ditujukan untuk suatu perkara yang berdosa, atau untuk
memutuskan silaturrahim, atau boleh jadi do’anya telah dikabulkan, namun
realisasinya diakhirkan ke waktu lain, dimana realisasi terkabulnya do’a
tersebut sesuai kehendak Allah (Yang Maha mengetahui kebaikan untuk hambanya),
bisa ketika di dunia ini maupun di akhirat nanti.”[8]
Keuda, bahwa waktu yang diberkahi
(Turunya Allah ke langit dunia) ini, merupakan waktu pengampunan bagi orang-orang
yang memohon ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjamin hal
itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits turunya Allah kelangit dunia. Dalam
al-Qur’an al-Karim, Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang memohon ampunan
di waktu Sahur (Yaitu, waktu sepertiga malam terakhir) dengan firman-Nya:
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ
“……Dan yang memohon ampun di waktu sahur.”(QS; Ali ‘Imraan: 17)
Dan
firman-Nya:
وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan di
akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”(QS; Adz-Dzaariyaat; 18)
Disebutkan
bahwa Nabi Ya’qub ketika mengatakan kepada anak keturunannya,
“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabb-ku (QS; Yusuf; 98)”,
sesungguhnya dia menakhirkan perkataanya itu kepada mereka hingga waktu sahur, [9] yaitu di akhir malam.
” سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي
“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabb-ku (QS; Yusuf; 98)”,
sesungguhnya dia menakhirkan perkataanya itu kepada mereka hingga waktu sahur, [9] yaitu di akhir malam.
Karena
itu generasi Salafush Shalih selalu mengutamakan shalat malam (qiyaamul lail)
di akhir malam daripada di awal malamnya, [10]
dengan harapan dapat bertepatan dengan waktu turunya Allah ke langit dunia.
Karenanya, akhir malam adalah waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat
sunnah.
Tidak
diragukan lagi bahwa bagi sebagian orang, akhir malam merupakan waktu yang
menyebabkan semakin terasanya kenikmatan bermunajat, kelezatan beribadah, semerbaknya
do’a dan berbagi kegiatan ibadah lainya. Hal ini tidak lain karena pengaruh
dari suasana turunnya Allah ke langit dunia. [11]
Dan
pengaruh positif lainnya dari suasana turunnya Allah ke langit dunia ini, bahwa
mimpi yang terjadi pada waktu yang penuh barakah ini adalah benar. Sebagaimana
yang terdapat dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam bersabda,
" أصدق ااالر ؤيا بالا سحار"
“Sebenar-benar
mimpi adalah mimpi di waktu Sahur (Akhir Malam)” [12]
Ibnu
Qayyim menuturkan,”Mimpi yang paling benar adalah mimpi di waktu shaur. Karena
waktu Sahur itu merupakan waktu turunnya Allah ke langit dunia, waktu dekatnya
rahmat dan Maghfirah (ampunan) Allah, dan waktu diamnya Syaitan-syaitan.” [13]
Seperti
yang telah dikemukakan sebelumnya, sehubungan dengan pembahasan tentang
Fadhiilah hari ‘Arafah, bahwa pada hari yang mulia itu Allah Ta’ala turun ke
langit dunia, dan Allah Ta’ala membangga-banggakan para jama’ah Haji di hadapan
para Malaikat, dan banyaknya jama’ah Haji yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala
pada hari ini dari adzab Neraka.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menjelaskan akibat positif dari waktu
turunnya Allah ke langit dunia ini di hari ‘Arafah: ”Sudah di maklumi bahwa
akan turun kepada orang-orang yang ber-Haji di padang ‘Arafah kelezatan iman,
rahmat, cahaya dan barakah yang manisnya kenikmatan tersebut tidak dapat
diungkapan dengan kata-kata.” [14]
Wallaahu a’lam.
Semoga artikel
ini ada manfaatnya.
Di salin Rio
Kristianto
[1]
Tentang masalah trunya Allah ke langit dunia secara hakikat (Sesungguhnya) dan
bukan dimaknai secara majazi (metafora), dapat dilihat dalam kitab
Mukhtasharush Shawaa-iqil Mursalah ‘alal jahmiyyah wal Mu’atthilah, karya Ibnu
Qayyim al-Jauziyah II/217
[2] Untuk memperkaya wawasan menganai turunnya Allah ke langit dunia ini, silahkan merujuk ke beberapa Kitab seperti Kitaabut Tauhiid karya Ibnu Khuzaimah I/ 289-327, Kitaabus Syarii’ah milik al-Ajurri hal. 306-314, Kitaabun Nuzuul milik adh-Daraquthni dan Kitab Syarh Hadiits an-Nuzuul karya Ibnu Taimiyyah.
[3] HR. al-Bukhari VIII/ 197 Kitaabut Tauhiid dan Shahiih Muslim I/ 521 Kitab Shaatul Musaafiriin.
[2] Untuk memperkaya wawasan menganai turunnya Allah ke langit dunia ini, silahkan merujuk ke beberapa Kitab seperti Kitaabut Tauhiid karya Ibnu Khuzaimah I/ 289-327, Kitaabus Syarii’ah milik al-Ajurri hal. 306-314, Kitaabun Nuzuul milik adh-Daraquthni dan Kitab Syarh Hadiits an-Nuzuul karya Ibnu Taimiyyah.
[3] HR. al-Bukhari VIII/ 197 Kitaabut Tauhiid dan Shahiih Muslim I/ 521 Kitab Shaatul Musaafiriin.
[4]
Mukhtasharush Shawaa-iq al-Mursalah II/ 232
[5] Lihat Sunan at-Thirmidzi II/309
[6] HR.Muslim I/521 Kitab Shalaati Musaafirin bab Fil Lalili Saa’atun Mustahaabbun Fiihaa ad-Du’aa’.
[7] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Musa Abu Mihammad Badrudin al-‘Aini al-Hanafi, seorang Imam Madzhab, Muhaddits dan Sejarahwan.
[8] ‘Umdatul Qaari’ Syarh Shahihil Muslim VII/ 201.
[9] Tafsiir Ibni Katsir I/354
[10] Kitab asy-Syarii’ah karya al-Ajurri hal. 309
[11] Syarh Hadiitsin Nuzuul, karya Ibnu Taimiyyah hal. 38
[5] Lihat Sunan at-Thirmidzi II/309
[6] HR.Muslim I/521 Kitab Shalaati Musaafirin bab Fil Lalili Saa’atun Mustahaabbun Fiihaa ad-Du’aa’.
[7] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Musa Abu Mihammad Badrudin al-‘Aini al-Hanafi, seorang Imam Madzhab, Muhaddits dan Sejarahwan.
[8] ‘Umdatul Qaari’ Syarh Shahihil Muslim VII/ 201.
[9] Tafsiir Ibni Katsir I/354
[10] Kitab asy-Syarii’ah karya al-Ajurri hal. 309
[11] Syarh Hadiitsin Nuzuul, karya Ibnu Taimiyyah hal. 38
Label:
AQIDAH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar