Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Blog Archive

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive

About Me

Minggu, 07 September 2014

MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dunia dengan turun yang haqiqi, [1] tanpa tasybih (penyerupaan) dengan turunnya makhluk, juga tanpa tamtsil (penyamaan sifat turunya Allah seperti turunnya makhluk) serta tanpa takyif (menggambarkan hakikat bagaimana turunya Allah). Berdasarkan beberapa riwayat hadits Shahih yang dating dari Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. [2]

Di dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah, bahwasannya Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

 “Rabb kami Tabaaraka wa Ta’aalaa turun ke langit dunia pada setiap malam ketika tinggal sepertiga malam terakhir, lalu berfirman,”Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’anya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi permintaanya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.’” [3]


Hadits tentang turunnya Allah (an-nuzuul) ini merupakan hadits-hadits yang mutawatir (diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal mustahil mereka berdusta). Ibnu Qayyim menyebutkan sebanyak 59 Shahabat yang meriwayatkan hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia ini. [4]


KAPAN WAKTU TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA?


Terdapat riwayat yang berbeda-beda tentang penentuan waktu turunnya Allah ke langit dunia. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah terdahulu yang menunjukkan bahwa turunnya Allah terjadi pada sepertiga malam terakhir. Dan ini merupakan riwayat yang paling shahih, sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian. Namun ada pula beberapa riwayat lain yang berbeda.


Dalam menyikapi perbedaan riwayat ini, para ulama menempuh jalan Tarjih (mengambil pendapat yang lebih kuat dan tepat) atau al-jam’u bainar riwayaat (menyatukan semua riwayat untuk mengambil satu kesimpulan)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menuturkan,” Tidak terdapat perbedaan riwayat az-Zuhri tentang penentuan waktu. Namun terjadi perbedaan di antara riwayat dari Abu Hirairah dengan yang lainnya. Ath-Thirmidzi mengomentari,”(Bahwa) riwayat Abu Hurairah merupakan riwayat yang paling Shahih dalam masalah ini dari semua riwayat yang ada."[5] Hal itu semakin diperkuat pula dengan adanya perbedaan pada ruwat (rangkaian penutur hadits) di antara riwayat-riwayat yang berbeda tersebut.


Sebagian Ulama lain menempuh metode al-jamu’, bahwa riwayat-riwayat tersebut bermuara pada enam point, yaitu,


1.      turunya Allah ke langit dunia terjadi ketika tinggal sepertiga malam terakhir

2.      Terjadi ketika sepertiga malam pertama telah berlalu

3.      Terjadi pada sepertiga malam pertama atau tengah malam.

4.      Pada tengah malam

5.      Pada tengah malam atau sepertiga malam terakhir

6.      Terjadi secara mutllak tanpa penentuan waktu.


Adapun riwayat yang menunjukkan pada kemutlakannya, mengandung makna yang terikat pula. Adapun riwayat yang menggunakan kata    او(atau), jika kehadirannya karena demikian adanya atau disebabkan adanya keraguan (dalam meriwayatkannya), maka yang lebih meyakinkan adalah harus diutamakan daripada yang masih diragukan (dengan metode tarjiih) dan jika kata او (atau) tersebut ada karena bimbang di antara dua hal yang sama kuatnya, maka riwayat-riwayat itu disatukan (dengan metode al-Jam’u) dengan kesimulan bahwa turunnya Allah ke alngit dunia terjadi sesuai dengan perbedaan situasi dan kondisi, karena keadaan waktu malam yang lebih cepat masuk dalam sebuah wilayah komunitas tertentu, sementara untuk wilayah komunitas yang lai waktu malam itu lebih lambat masuk.”

Pendapat lainnya mengatakan,”Ada kemungkinan turunya Allah ke langit dunia terjadi pada sepertiga malam pertama. Sedangkan pendapat ini cenderung mengatakan bahwa hal ini terjadi pada tengah malam atau sepertiga malam kedua.


Pendapat lainnya menyatakan,”Ada kemungkinan bahwa waktu turunya Allah ke langit dunia terjadi di semua waktu yang disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits terdahulu. Dan dimungkinkan juga bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikabarkan tentang salah satu dari peristiwa perkara tersebut. Yang terjadi pada satu waktu , lalu beliau mengabarkan berita tersebut. Kemudian beliau dikabarkan kembali tentang peristiwa serupa, yang terjadi di waktu yang berbeda kemuadian beliau mengabarkannya. Selanjutnya, para Shahabat menukilkan semua kejadian ini dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuai dengan berita yang mereka dapatkan masing-masing . Wallaahu A’lam 


KEUTAMAAN DAN KEBERKAHAN DI SAAT-SAAT TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA


Penjelasannya adalah sebagai berikut :


Pertama, bahwa waktu (nuzul Ilaahi) turunnya Allah ke langit dunia ini merupakan waktu terkabulnya do’a orang-orang yang memanjatkannya, dan waktu dipenuhinya segala kebutuhan orang-orang yang meminta dalam perkara dunia maupun akhirat, sebagaimana yang diutarakan dalam hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia.


Dalam Shahih Muslim tertera sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa ia mengatakan:” Aku mendengar Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya pada waktu malam terdapat satu waktu yang tidaklah seorang Muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat yang bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan ia akan diberi Allah apa yang ia minta. Dan hal itu terjadi pada setiap malam.”[6]


Mungkin “Waktu yang dikabulkan” yang dimaksud dalam hadits di atas, adalah bertepatan dengan waktu turunnya Allah kelangit dunia yang pada saat itu juga semua do’a dikabulkan oleh Allah. Sesungguhnya ilmu tentang hal itu hanya ada sisi Allah Ta’ala.


Adapun sebab tidak terkabulnya do’a kebanyakan orang yang memohon pada waktu yang mulia ini, Imam al-‘Aini [7] memberikan tanggapannya tentang masalah ini. Dia mengatakan :”Sesungguhnya tidak diterimanya do’a di waktu-waktu terkabulnya do’a ini karena adanya cela (cacat) dalam satu syarat dari syarat-syarat do’a. seperti dalam masalah menjaga makanan, minuman dan pakaian, atau karena orang yang berdo’a terlalu tergesa-gesa, do’anya ditujukan untuk suatu perkara yang berdosa, atau untuk memutuskan silaturrahim, atau boleh jadi do’anya telah dikabulkan, namun realisasinya diakhirkan ke waktu lain, dimana realisasi terkabulnya do’a tersebut sesuai kehendak Allah (Yang Maha mengetahui kebaikan untuk hambanya), bisa ketika di dunia ini maupun di akhirat nanti.”[8]


Keuda, bahwa waktu yang diberkahi (Turunya Allah ke langit dunia) ini, merupakan waktu pengampunan bagi orang-orang yang memohon ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjamin hal itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits turunya Allah kelangit dunia. Dalam al-Qur’an al-Karim, Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang memohon ampunan di waktu Sahur (Yaitu, waktu sepertiga malam terakhir) dengan firman-Nya:
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ

“……Dan yang memohon ampun di waktu sahur.”(QS; Ali ‘Imraan: 17)


Dan firman-Nya:
وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”(QS; Adz-Dzaariyaat; 18)


Disebutkan bahwa Nabi Ya’qub ketika mengatakan kepada anak keturunannya,

 سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي 

 “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabb-ku (QS; Yusuf; 98)”, 

sesungguhnya dia menakhirkan perkataanya itu kepada mereka hingga waktu sahur, [9] yaitu di akhir malam.


Karena itu generasi Salafush Shalih selalu mengutamakan shalat malam (qiyaamul lail) di akhir malam daripada di awal malamnya, [10] dengan harapan dapat bertepatan dengan waktu turunya Allah ke langit dunia. Karenanya, akhir malam adalah waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat sunnah.


Tidak diragukan lagi bahwa bagi sebagian orang, akhir malam merupakan waktu yang menyebabkan semakin terasanya kenikmatan bermunajat, kelezatan beribadah, semerbaknya do’a dan berbagi kegiatan ibadah lainya. Hal ini tidak lain karena pengaruh dari suasana turunnya Allah ke langit dunia. [11]


Dan pengaruh positif lainnya dari suasana turunnya Allah ke langit dunia ini, bahwa mimpi yang terjadi pada waktu yang penuh barakah ini adalah benar. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

" أصدق ااالر ؤيا بالا سحار"




“Sebenar-benar mimpi adalah mimpi di waktu Sahur (Akhir Malam)” [12]


Ibnu Qayyim menuturkan,”Mimpi yang paling benar adalah mimpi di waktu shaur. Karena waktu Sahur itu merupakan waktu turunnya Allah ke langit dunia, waktu dekatnya rahmat dan Maghfirah (ampunan) Allah, dan waktu diamnya Syaitan-syaitan.” [13]


Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, sehubungan dengan pembahasan tentang Fadhiilah hari ‘Arafah, bahwa pada hari yang mulia itu Allah Ta’ala turun ke langit dunia, dan Allah Ta’ala membangga-banggakan para jama’ah Haji di hadapan para Malaikat, dan banyaknya jama’ah Haji yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala pada hari ini dari adzab Neraka.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menjelaskan akibat positif dari waktu turunnya Allah ke langit dunia ini di hari ‘Arafah: ”Sudah di maklumi bahwa akan turun kepada orang-orang yang ber-Haji di padang ‘Arafah kelezatan iman, rahmat, cahaya dan barakah yang manisnya kenikmatan tersebut tidak dapat diungkapan dengan kata-kata.” [14]

Wallaahu a’lam.
Semoga artikel ini ada manfaatnya.


Di salin Rio Kristianto




[1] Tentang masalah trunya Allah ke langit dunia secara hakikat (Sesungguhnya) dan bukan dimaknai secara majazi (metafora), dapat dilihat dalam kitab Mukhtasharush Shawaa-iqil Mursalah ‘alal jahmiyyah wal Mu’atthilah, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah II/217 
[2] Untuk memperkaya wawasan menganai turunnya Allah ke langit dunia ini, silahkan merujuk ke beberapa Kitab seperti Kitaabut Tauhiid karya Ibnu Khuzaimah I/ 289-327, Kitaabus Syarii’ah milik al-Ajurri hal. 306-314, Kitaabun Nuzuul milik adh-Daraquthni dan Kitab Syarh Hadiits an-Nuzuul karya Ibnu Taimiyyah. 
[3] HR. al-Bukhari VIII/ 197 Kitaabut Tauhiid dan Shahiih Muslim I/ 521 Kitab Shaatul Musaafiriin.
[4] Mukhtasharush Shawaa-iq al-Mursalah II/ 232 
[5] Lihat Sunan at-Thirmidzi II/309 
[6] HR.Muslim I/521 Kitab Shalaati Musaafirin bab Fil Lalili Saa’atun Mustahaabbun Fiihaa ad-Du’aa’. 
[7] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Musa Abu Mihammad Badrudin al-‘Aini al-Hanafi, seorang Imam Madzhab, Muhaddits dan Sejarahwan. 
[8] ‘Umdatul Qaari’ Syarh Shahihil Muslim VII/ 201. 
[9] Tafsiir Ibni Katsir I/354 
[10] Kitab asy-Syarii’ah karya al-Ajurri hal. 309 
[11] Syarh Hadiitsin Nuzuul, karya Ibnu Taimiyyah hal. 38 
[12] Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thirmidzi dalam kitab Sunannya IV/534 
[13] Madaarikus Saalikin I/52 
[14] Syarh Hadiitsin Nuzuul hal. 39

0 komentar: