Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

About Me

Kamis, 09 Oktober 2014


 

Pemilu menganggap sama suara (baca : hak pilih) laki-laki dan perempuan, orang shalih dan orang jahat, muslim dan kafir, alim dan jahil, ahlu halli wal ‘aqdi (ulama dan cendikiawan) dengan pemusik serta penari.

Inilah hakikat demokrasi : Dalam demokrasi tidak ada bedanya antara singa dan anjing. Padahal sebagian hewan ada yang lebih utama daripada orang-orang kafir di sisi Allah Ta’ala,

أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS; al-Araaf; 179)

Demokrasi adalah produk orang yang menganggap bahwa “Anjing” bisa lebih mulia dari bapak dan ibu, dari rakyat dan umat secara keseluruhan. Dan ini adalah kejahatan menurut islam.

Prinsip persamaan ala demokrasi seperti ini bukanlah satu hal yang baru. Demokrasi berakar dari perilaku yahudi. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الأمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.”(QS; Ali Imran; 75)

Inilah karakter Yahudi mereka mengatakan, tidak ada tempat bagi orang-orang ummi di sisi kami. Yang mereka maksud dengan “ummi” disini adalah orang-orang Arab. Mereka mengatakan, tidak ada dosa pada kami bila kami menipu orang-orang Arab dan berbuat jahat kepada mereka. Tidak cukup sampai di situ, mereka bahkan menyatakan bahwa itu berasal dari hukum Allah. Dan benarlah firman Allah,

وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS;  Ali Imran ; 78)

Orang-orang yahudi tidak memiliki jalan lain selain mempersamakan orang-orang Arab dengan keledai dan anjing. Bahkan seekor anjing menurut mereka lebih mulia daripada kaum muslimin. Acuan mereka adalah acuan yang dibuat setan untuk mereka.

Dalil-dalil yang menunjukkan pengharaman persamaan.

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?”(QS; al-Qalam ; 35-36)

Bagaimana pun tingginya pertimbangan seorang jahat dia akan tetap menyamakan orang mukmin dengan orang kafir. Ini adalah pandangan yang batil tidak ada harganya sama sekali dalam timbangan ahkamul hakimin (hakim yang paling adil) Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.”(QS; al-Jatsiyah; 21)

Betapa buruknya hukum yang mempersamakan orang zalim seperti orang yang adil, orang yang rusak seperti orang yang baik dan orang yang kafir seperti orang yang beriman kepada Allah. Bolehkah mempersamakan tukang parkir jalanan dengan seorang menteri negara dalam pangkat, gaji dan tugasnya?

Apabila hal ini tidak boleh, maka bagaimana demokrasi mengizinkanmu melakukan perbuatan yang sia-sia ini dan kamu berbuat kerusakan di muka bumi?

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.”(QS; al-Ankabut ; 4)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الأرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?”(QS; Shad; 28)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS; al-A’raf; 179)

Inilah hukum Allah. Tidak ada persamaan selama-lamanya. Derajat orang kafir tidak bisa disamakan dengan derajat orang muslim selama-lamanya. Sesungguhnya orang-orang kafir hanya layak disederajatkan dengan binatang. Bahkan lebih rendah lagi.

Allah berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”(QS; at-Tin ; 4-6)

Lalu, adakah orang yang hina lebih hina dan lebih rendah dari yahudi-yahudi pencetus demokrasi

Ketahuilah bahwa sistem pemilu ini adalah hukum paling bobrok yang di terima manusia dalam masalah ini. Adapun Islam telah memberikan hak masing-masing orang.

Kehinaan apa lagi yang lebih parah lagi bagi rakyat selain kehinaan ini?

Adalah al-Qur’an telah membela dan mengangkat derajat kita karena kita umat Islam. Kami katakan dengan tegas, “Tidak! Kita tidak harus menjadi seperti yang diinginkan orang-orang yahudi!” Wal’iyadzu billah

Sebagian orang mempersoalkan mengapa kita berpendapat bahwa demokrasi ini bobrok? Mengapa kita mengatakan demokrasi kufur?

Untuk itu kami jawab : kalian lupa bahwa sebelum ini kalian telah menyaksikan betapa sosialisme pernah mencapai kejayaannya, dan pernah di anggap sistem sosial yang paling adil. Padahal bersamaan dengan itu, tidak ada di dalamnya sebiji dzarrah pun keadilan. Sehingga dari situ jelaslah duduk perkaranya. Kemudian kalian sadari dan saksikan kembali bahwa ternyata tidak ada kezaliman yang lebih berbahaya dan lebih buruk di muka bumi ini selain sosialisme dan demokratisme.

Karena itu, jangan kamu beerpikiran sempit, dan picik, dan menerima begitu saja hujjah-hujjah demokrasi. Negara-negara Islam telah berdiri sejak puluhan abad yamg silam. Apakah mereka dahulu butuh kepada sistem demokrasi? Apakah mereka mengatakan dahulu; kita impor saja sitem ala Eropa?

Memang dari zaman ke zaman senantiasa ada kezhaliman pada diri sebagian penguasa kaum muslimin. Namun dalam urusan kekuasaan, mereka merasa cukup dan tidak membutuhkan sesuatu dari luar mereka. Terlebih lagi hal ini tidak ada contohnya pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya.

Saya bertanya kepada para “Ulama” yang tenggelam di dalam hizbiyyah, yang kehizbiyahannya telah melalaikan mereka dari ilmu syar’I; “Wahai para U;ama, apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasukan orang-orang munafik untuk ikut bermusyawarah bersama kaum mukminin?”

Jawabnya : tentu tidak! Tidak sama sekali!

Wahai para Ustadz! Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyertakan orang yang pandir untuk bermusyawarah bersama kaum mukminin? 

Jawabnya : Tidak

Wajai para Doktor! Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengikutsertakan wanita-wanita kaum mukminin dalam kancah perpolitikan umat? 

Jawabnya : Tidak!

Wahai para cendikiawan pergerakan! Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengikut sertakan wanita-wanita Madinah yang terdiri dari kalangan budak, untuk bermusyawarah bersama kaum mukminin?

Juga tidak!.

Kalian telah menzalimi Abdurrahman bin Auf dengan mengatakan bahwa beliau pernah bermusyawarah bersama kaum perempuan. Tahukah kalian bahwa kisah tersebut tidak Shahih? Dan akan datang keterangan mengenai hal ini pada bab Syubhat Kedua.

Alangkah jauhnya perbedaan. Di mana letak kesamaan permasalahan yang mereka lakukan dari permaslahan Abdurrahman yang disandarkan kepadanya secara dusta? Mereka telah mewajibkan wanita memilih sehingga mereka bertanya kepada perempuan-perempuan bodoh, artis-artis, bahkan para pelacur.

Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa demokrasi sama dengan syura dalam Islam, maka kami katakan kepada mereka,

م كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا

Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. “(QS; al-Kahfi; 5)

Bagaimana mungkin demokrasi itu sama dengan syura? Padahal ia tidak terdapat dalam agama islam, juga tidak pernah ternyata dalam tarikh (sejarah) islam. Akan tetapi demokrasi ini berasal dari Eropa. Saya telah menyinggung perbedaa-perbedaan antara syura dengan demokrasi dalam bab tersendiri, silahkan di lihat kembali.

Maka bagaimana boleh mempersamakan suara seorang muslim ahli sunnah dengan suara sosialis, kafir atau ahli bid’ah?

Bagaimana boleh mempersamakan suara orang alim yang bartakwa dan shalih dengan suara orang yang jahat dan munafik? Bagaimana boleh mempersamakan suara orang yang berakal dengan orang tolol, yang suka mencela, menghina, berdusta, melaknat, menipu dan membuat makar?

Kezhaliman terbesar apalagi setelah ini? Barangsiapa dari kalangan hizbiyun yang hendak menghinakan dirinya maka lakukanlah! Adapun jiwa-jiwa kami demi Allah adalah mulia. Kami tidak mungkin menerima pembagian yang merugikan ini.

Sistem pemilu mempersamakan suara laki-laki dan perempuan padahal Allah telah berfirman ;

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى

dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”(QS; Ali Imran; 36)

Juga Allah telah menjadikan persaksian seorang perempuan setengah dari persaksian seorang lelaki. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan alasannya, yakni bahwa perempuan itu kurang akalnya. Maka bagaimana kita menyamakan akal seorang perempuan dengan akal seorang lelaki?

System pemilu mempersamakan suara orang lalim dengan orang jahil padahal Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ 

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"(QS; az-Zumar ; 9)

Dan firma-Nya yang lain,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,”(QS; an-Nahl ; 43)

Allah menjadikan orang yang tidak mengetahui sebagai pihak yang seharusnya bertanya kepada orang yang lebih berilmu. Allah tempat meminta tolong dan kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.   


DI Salin Rio Kristianto

Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat
Penulis Abu Nashrr Muhammad bin ‘Abdillah al-Iman
Kata pengantar : Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.
Penerbit Maktabah al-Furqan


تنوير الظلمات بكشف مفا سد وشبهات الإنتخابات



0 komentar: