Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

About Me

Rabu, 08 Oktober 2014


 

Allah Ta’ala mengutus para rasul-Nya dengan tugas yang sama, menyeru manusia agar beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan menjauhi thagut Allah Ta’ala berfirman;

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS; an-Nahl; 16; 36)


Dakwah para rasul ini merupakan seruan manuju hikmah diciptakannya manusia di dunia ini. Sebagaimana firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS; adz-Dzariyat 51: 56)


Maksudnya, Allah Ta’ala menciptakan mereka untuk diperintah beribadah kepada-Nya semata dan menjauhi peribadahan kepada selain-Nya.


SEMUA UMAT MENENTANG DENGAN ALASAN YANG SAMA.


Semua umat menentang dakwah para rasul yang mulia dengan hujjah (argumen) yang sama, yaitu mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka. Dahulu, orang-orang Jahiliyah di Mekah –di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – melakukan perbuatan syirik dengan tanpa bukti, tanpa petunjuk, dan tanpa argumen yang nyata, maka Allah Ta’ala berfirman mengingkari mereka :

أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur'an lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka." (QS; az-Zukhruf 43; 21-22)


Inilah alasan perbuatan syirik mereka, yaitu mengikuti jejak nenek moyang. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa alasan mereka itu merupakan alasan semua orang kafir pada zaman dahulu :

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (QS; az-Zukhruf 43; 23)


ARGUMEN KAUM NUH 'alaihis-salaam


Nabi Nuh adalah rasul pertama kali yang Allah Ta’ala utus di muka bumi, kaum beliau adalah orang-orang musyrik pertama kali di sunia ini. Beliau menyeru umat beliau untuk mengesakan ibadah hanya bagi Allah Ta’ala semata, sebagaimana firman-Nya :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"(QS; al-Mukminun 23; 23)


Namun kaum beliau mengingkari kerasulan beliau, dengan alasan bahwa mereka tidak pernah mendengar seruan nabi Nuh itu pada masa nenek moyang mereka. Allah Ta’ala berfirman memberitakan hal ini :

فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لأنْزَلَ مَلائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الأوَّلِينَ

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.”( QS; al-Mukminun 23; 24)


ARGUMEN SUKU ‘AD KAUM NABI HUD. 'alaihis-salaam


Setelah kehancuran Kaum Nabi Nuh manusia menjadi banyak kembali. Muncul kemusyrikan pada suku ‘Ad, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud :

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"(QS; al-A’raf 7 ; 65)


Kemudian lihatlah bantahan suku ‘Ad ini kepada Nabinya, mereka berargumen membela perbuatan mereka dengan kebiasaan nenek moyang mereka!

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar".(QS; al-A’raf 7; 70)


ARGUMEN SUKU TSAMUD KAUM NABI SHALIH 'alaihis-salaam.


Demikian juga suku Tsamud, mereka melakukan syirik dengan sebab Taqlid kepada nenek moyang mereka. Dengan hikmah-Nya, Allah Ta’ala mengutus Nabi Shalih kepada mereka :

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS; Hud; 11; 61)


Namun bagaimana sikap suku Tsamud? Mereka tidak berbeda dengan para pendahulu mereka sesama orang-orang Kafir. Mereka menentang dakwah Nabi Shalih dengan alasan mengikuti nenek moyang!

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

Kaum Tsamud berkata: "Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami."(QS; Hud 11; 61)


ARGUMEN KAUM IBRAHIM 'alaihis-salaam


Allah Ta’ala berfirman mengisahkan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya dan kaumnya :

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?" (QS; al-Anbiya 21 ; 51-52)


Maka apakah jawaban mereka kepada Nabi Ibrahim?

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya".(QS; al-Anbiya’ 21 : 53)


Mendengar jawaban klasik tersebut, dengan tegas Nabi Ibrahim memvonis mereka dengan kesesatan yang nyata ,

قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".(QS; al-Anbiya’ 21 ; 54)


ARGUMEN KAUM SYU’AIB 'alaihis-salaam


Kaum yang lain adalah kaum Nabi Syu’aib di Madyan, Allah Ta’ala berfirman :

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS; Hud 11/ 84)


Bantahan mereka serupa dengan orang-orang kafir sebelumnya :

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لأنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

Mereka berkata: "Hai Syuaib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." (QS; Hud 11 ; 87)


KEADAAN KAUM NABI YUSUF  'alaihis-salaam
   

Nabi Yusuf diutus kepada bangsa Mesir beliau sudah memulai dakwah ketika berada di dalam penjara. Beliau mengingatkan kawannya di penjara bahwa kemusyrikan yang dilakukan oleh bangsa mesir waktu itu hanyalah dibuat oleh mereka sendiri dan nenek moyang mereka. Allah Ta’ala mengisahkan perkataan beliau ;

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.” (QS; 12; 39-40)


ARGUMEN KAUM NABI MUSA 'alaihis-salaam


Nabi Musa dan Nabi Harun juga diutus kepada bangsa Mesir selain kepada Bani Israil. Allah Ta’ala berfirman tentang keduannya :

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى وَهَارُونَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa “ (QS; Yunus; 10;75)


Namun ternyata Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya menolak dakwah kedua Rasul mulia itu dengan argumen yang sama seperti orang-orang kafir yang lain .

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الأرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ

Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua." (QS; Yunus 10;78)


ARGUMEN KAUM NABI MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam


Rasul terakhir yang Allah utus di dunia ini mengalami hal yang sama. Kaum Quraisy lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? “(QS; Luqman 31; 21)


Bahkan tokoh-tokoh Quraisy berusaha menghalangi keislaman Abu Thalib, paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan argumen mengikuti agama orang tuannya. Maka akhirnya, Abu Thalib lebih memilih kekafiran daripada keimanan. Hal ini dikisahkan di dalam Hadits berikut ini :

عَنِ سَعِيدُ بْنُ المُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ، جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، فَقَالَ: " أَيْ عَمِّ قُلْ: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ " فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ [ص:113]، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،

Dari Sa’id bin al-Musayyab, dari bapaknya, dia berkata : “Ketika kematian mendatangi Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjengguknya. Beliau mendapat Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah di dekat Abu Thalib. Beliau berkata ; “Wahai pamaku, katakanlah La ilaha illallah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allah Ta’ala!” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyan mengatakan : (Wahai Abu Thalib) apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muthalib?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus menerus menawarkan kalimat itu kepadanya, dan keduannya, dan keduannya juga mengulangi perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang dikatakan Abu Thalib kepada mereka bahwa dia di atas Agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan La illaha illallah.” (HR. al-Bukhari ; no. 4772 dan Muslim no. 24)


Demikian pula setelah beliau berhijrah ke Madinah. Orang-orang Yahudi yang termasuk umat dakwah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk yang beliau bawa dari Allah Ta’ala :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS; al-Baqarah 2; 170)


PENUTUP


Setelah kita mengetahui sikap para umat terhadap para rasul mereka, yang menentang al-Haq dengan argumen mengikuti nenek moyang, maka tidak heran betapa banyak masyarakat sekarang yang menolak al-Haq dengan argumen tradisi orang tua, warisan leluhur, adat kebiasaan suku, atau semacamnya.


Namun yang aneh ada sebagian kaum muslimin yang mengikuti pola pikir jahiliyah ini dan meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah, padahal Hujjah telah datang kepada mereka. Maka dengan sedikit tulisan ini, semoga menyadarkan kita bahwa nilai kebenaran itu ukurannya adalah wahyu yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan wujud al-Kitab dan sunnah, dengan pemahaman yang benar dari para Ulama Ahlus Sunnah wal- Jama’ah. Dan kita tidak boleh menentangnya dengan ajaran dari guru, tokoh, nenek moyang, atau lainnya. Wallahu Musta’an.

 Oleh Ustadz Abu Ismâ’îl Muslim al-Atsari

lihat : almanhaj.or.id




0 komentar: