Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
Oktober
(14)
- BUKTI CINTA DAN PENGAGUNGAN KEPADA NABI SHALLALLAH...
- PRINSIP PERSAMAAN YANG TIDAK SYAR’I
- KESAMAAN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH PARA RASUL
- Mengambil Pelajaran…
- Jilbab
- Hukum dan Cara Mengusap Telinga ketika Berwudhu
- WAJIB MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR DAN MUSYRIK
- INTERAKSI DENGAN NON MUSLIM YANG DI BOLEHKAN
- Mencabut Uban di Kepala dan Jenggot
- Celaan Mengangkat & Memilih Orang Kafir
- Kondisi Masyarakat Abad Pertama dan Kedua
- Waspadai Tipu Daya Musuh
- Solusi Mengambil Anak Angkat
- Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya
-
▼
Oktober
(14)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
Oktober
(14)
- Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya
- Solusi Mengambil Anak Angkat
- Waspadai Tipu Daya Musuh
- Kondisi Masyarakat Abad Pertama dan Kedua
- Celaan Mengangkat & Memilih Orang Kafir
- Mencabut Uban di Kepala dan Jenggot
- INTERAKSI DENGAN NON MUSLIM YANG DI BOLEHKAN
- WAJIB MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR DAN MUSYRIK
- Hukum dan Cara Mengusap Telinga ketika Berwudhu
- Jilbab
- Mengambil Pelajaran…
- KESAMAAN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH PARA RASUL
- PRINSIP PERSAMAAN YANG TIDAK SYAR’I
- BUKTI CINTA DAN PENGAGUNGAN KEPADA NABI SHALLALLAH...
-
▼
Oktober
(14)
About Me
- Unknown
Rabu, 08 Oktober 2014
Allah Ta’ala mengutus para rasul-Nya
dengan tugas yang sama, menyeru manusia agar beribadah kepada Allah Ta’ala
semata dan menjauhi thagut Allah Ta’ala berfirman;
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا
اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ
حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah
Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada
orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka
bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul).” (QS; an-Nahl; 16; 36)
Dakwah para rasul ini
merupakan seruan manuju hikmah diciptakannya manusia di dunia ini. Sebagaimana
firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS; adz-Dzariyat 51:
56)
Maksudnya, Allah Ta’ala
menciptakan mereka untuk diperintah beribadah kepada-Nya semata dan menjauhi
peribadahan kepada selain-Nya.
SEMUA UMAT MENENTANG
DENGAN ALASAN YANG SAMA.
Semua umat menentang
dakwah para rasul yang mulia dengan hujjah (argumen) yang sama, yaitu mengikuti
kebiasaan nenek moyang mereka. Dahulu, orang-orang Jahiliyah di Mekah –di zaman
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – melakukan perbuatan syirik dengan
tanpa bukti, tanpa petunjuk, dan tanpa argumen yang nyata, maka Allah Ta’ala
berfirman mengingkari mereka :
أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ
مُسْتَمْسِكُونَ بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا
عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
“Atau adakah Kami
memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur'an lalu mereka berpegang
dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati
bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang
mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka." (QS; az-Zukhruf 43;
21-22)
Inilah alasan perbuatan syirik mereka,
yaitu mengikuti jejak nenek moyang. Oleh karena itu, Allah
Ta’ala menjelaskan bahwa alasan mereka itu merupakan alasan semua orang kafir
pada zaman dahulu :
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ
إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى
آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu
seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang
hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati
bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut
jejak-jejak mereka." (QS; az-Zukhruf 43; 23)
ARGUMEN KAUM NUH 'alaihis-salaam
Nabi Nuh adalah rasul
pertama kali yang Allah Ta’ala utus di muka bumi, kaum beliau adalah
orang-orang musyrik pertama kali di sunia ini. Beliau menyeru umat beliau untuk
mengesakan ibadah hanya bagi Allah Ta’ala semata, sebagaimana firman-Nya :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ
اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh
kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka
mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"(QS; al-Mukminun 23; 23)
Namun kaum beliau mengingkari kerasulan beliau, dengan
alasan bahwa mereka tidak pernah mendengar seruan nabi Nuh itu pada masa nenek
moyang mereka. Allah Ta’ala berfirman memberitakan hal ini :
فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلا
بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ
لأنْزَلَ مَلائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الأوَّلِينَ
“Maka pemuka-pemuka orang
yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah
manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi
dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang
malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek
moyang kami yang dahulu.”( QS; al-Mukminun 23; 24)
ARGUMEN SUKU ‘AD KAUM
NABI HUD. 'alaihis-salaam
Setelah kehancuran Kaum
Nabi Nuh manusia menjadi banyak kembali. Muncul kemusyrikan pada suku ‘Ad, maka
Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud :
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ
مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ
“Dan (Kami telah mengutus)
kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak
bertakwa kepada-Nya?"(QS; al-A’raf 7 ; 65)
Kemudian lihatlah
bantahan suku ‘Ad ini kepada Nabinya, mereka berargumen membela perbuatan
mereka dengan kebiasaan nenek moyang mereka!
قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ
يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
“Mereka berkata:
"Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan
meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah
azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang
benar".(QS; al-A’raf 7; 70)
ARGUMEN SUKU TSAMUD KAUM
NABI SHALIH 'alaihis-salaam.
Demikian juga suku
Tsamud, mereka melakukan syirik dengan sebab Taqlid kepada nenek moyang mereka.
Dengan hikmah-Nya, Allah Ta’ala mengutus Nabi Shalih kepada mereka :
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا
اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ
وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي
قَرِيبٌ مُجِيبٌ
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka
Saleh. Saleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada
bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian
bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi
memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS; Hud; 11; 61)
Namun bagaimana sikap
suku Tsamud? Mereka tidak berbeda dengan para pendahulu mereka sesama
orang-orang Kafir. Mereka menentang dakwah Nabi Shalih dengan alasan mengikuti
nenek moyang!
قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا
أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا
تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ
“Kaum Tsamud berkata: "Hai Saleh,
sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan,
apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak
kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan
terhadap agama yang kamu serukan kepada kami."(QS;
Hud 11; 61)
ARGUMEN KAUM IBRAHIM 'alaihis-salaam
Allah Ta’ala berfirman
mengisahkan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya dan kaumnya :
وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ
عَالِمِينَ إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي
أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada
Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui
(keadaan) nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:
"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?" (QS;
al-Anbiya 21 ; 51-52)
Maka apakah jawaban
mereka kepada Nabi Ibrahim?
قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ
“Mereka menjawab:
"Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya".(QS;
al-Anbiya’ 21 : 53)
Mendengar jawaban klasik
tersebut, dengan tegas Nabi Ibrahim memvonis mereka dengan kesesatan yang nyata
,
قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu
berada dalam kesesatan yang nyata".(QS; al-Anbiya’ 21 ; 54)
ARGUMEN KAUM SYU’AIB 'alaihis-salaam
Kaum yang lain adalah kaum Nabi Syu’aib di Madyan,
Allah Ta’ala berfirman :
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا
اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ
وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ
يَوْمٍ مُحِيطٍ
“Dan kepada (penduduk)
Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu
kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang
baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang
membinasakan (kiamat)." (QS; Hud 11/ 84)
Bantahan mereka serupa
dengan orang-orang kafir sebelumnya :
قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ
آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لأنْتَ
الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
“Mereka berkata: "Hai
Syuaib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang
disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami
kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat
penyantun lagi berakal." (QS; Hud 11 ; 87)
KEADAAN
KAUM NABI YUSUF 'alaihis-salaam
Nabi Yusuf diutus kepada
bangsa Mesir beliau sudah memulai dakwah ketika berada di dalam penjara. Beliau
mengingatkan kawannya di penjara bahwa kemusyrikan yang dilakukan oleh bangsa
mesir waktu itu hanyalah dibuat oleh mereka sendiri dan nenek moyang mereka.
Allah Ta’ala mengisahkan perkataan beliau ;
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ
اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً
سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak
menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan
nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun
tentang nama-nama itu.” (QS; 12; 39-40)
ARGUMEN KAUM NABI MUSA 'alaihis-salaam
Nabi Musa dan Nabi Harun
juga diutus kepada bangsa Mesir selain kepada Bani Israil. Allah Ta’ala
berfirman tentang keduannya :
ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى وَهَارُونَ إِلَى فِرْعَوْنَ
وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
“Kemudian sesudah
rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Firaun dan pemuka-pemuka
kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka
menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa
“ (QS; Yunus; 10;75)
Namun ternyata Fir’aun
dan pemuka-pemuka kaumnya menolak dakwah kedua Rasul mulia itu dengan argumen
yang sama seperti orang-orang kafir yang lain .
قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ
آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الأرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا
بِمُؤْمِنِينَ
“Mereka berkata:
"Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami
dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai
kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua."
(QS; Yunus 10;78)
ARGUMEN KAUM NABI
MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Rasul terakhir yang Allah
utus di dunia ini mengalami hal yang sama. Kaum Quraisy lebih memilih mengikuti
nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala
berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ
نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ
يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ
“Dan apabila dikatakan
kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab:
"(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak
kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak
mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala
(neraka)? “(QS; Luqman 31; 21)
Bahkan tokoh-tokoh
Quraisy berusaha menghalangi keislaman Abu Thalib, paman Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, dengan argumen mengikuti agama orang tuannya. Maka akhirnya,
Abu Thalib lebih memilih kekafiran daripada keimanan. Hal ini dikisahkan di
dalam Hadits berikut ini :
عَنِ
سَعِيدُ بْنُ المُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ
الوَفَاةُ، جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ
عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ،
فَقَالَ: " أَيْ عَمِّ قُلْ: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ
لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ " فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ
أَبِي أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ [ص:113]،
وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا
كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ،
Dari Sa’id bin al-Musayyab, dari
bapaknya, dia berkata : “Ketika kematian mendatangi Abu Thalib, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjengguknya. Beliau mendapat Abu Jahal dan
‘Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah di dekat Abu Thalib. Beliau berkata ;
“Wahai pamaku, katakanlah La ilaha illallah, sebuah kalimat yang aku
akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allah Ta’ala!” Abu Jahal dan Abdullah
bin Abi Umayyan mengatakan : (Wahai Abu Thalib) apakah engkau akan meninggalkan
agama Abdul Muthalib?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus menerus
menawarkan kalimat itu kepadanya, dan keduannya, dan keduannya juga mengulangi
perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang dikatakan Abu Thalib kepada
mereka bahwa dia di atas Agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan La
illaha illallah.” (HR. al-Bukhari ; no. 4772 dan Muslim no. 24)
Demikian pula setelah beliau
berhijrah ke Madinah. Orang-orang Yahudi yang termasuk umat dakwah beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka
daripada mengikuti petunjuk yang beliau bawa dari Allah Ta’ala :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ
نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا
يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan
kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka
menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti
juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan
tidak mendapat petunjuk?" (QS; al-Baqarah 2; 170)
PENUTUP
Setelah kita mengetahui
sikap para umat terhadap para rasul mereka, yang menentang al-Haq dengan
argumen mengikuti nenek moyang, maka tidak heran betapa banyak masyarakat
sekarang yang menolak al-Haq dengan argumen tradisi orang tua, warisan leluhur,
adat kebiasaan suku, atau semacamnya.
Namun yang aneh ada
sebagian kaum muslimin yang mengikuti pola pikir jahiliyah ini dan meninggalkan
al-Kitab dan as-Sunnah, padahal Hujjah telah datang kepada mereka. Maka dengan
sedikit tulisan ini, semoga menyadarkan kita bahwa nilai kebenaran itu
ukurannya adalah wahyu yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
dengan wujud al-Kitab dan sunnah, dengan pemahaman yang benar dari para Ulama
Ahlus Sunnah wal- Jama’ah. Dan kita tidak boleh menentangnya dengan ajaran dari
guru, tokoh, nenek moyang, atau lainnya. Wallahu Musta’an.
Oleh Ustadz Abu Ismâ’îl Muslim al-Atsari
lihat : almanhaj.or.id
Label:
DAKWAH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar