Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

About Me

Senin, 27 Oktober 2014


 

MEMBELANYA.

سادسا : الذب عنه :
إن الدفاع عن رسول الله صلى الله عليه و سم ونصرته، آية عظيمة من آيات المحبة والإ جلال، قال الله ـ تعالى ـ :

Membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampong halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS; al-Hasyr; 8)

ولقد سطر الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ أروع الأمثلة وأصدق الأعمال في الذب عن رسول الله صلى الله عليه و سلم، وفدائه بالأموال والأ ولاد والأنفس، في المنثط وامكره، في العسر واليسر، وكتب السير  عامرة بقصصهم وأخبارهم التي تدل على غاية المحبة و الإيثار والتعظيم.

Para Shahabat telah mengilustrasikan contoh terindah dan amalan yang paling jujur dalam membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta menebusnya dengan harta, anak dan nyawa, baik saat giat dan terpaksa, sulit maupun muda. Kitab-kitab sejarah sarat dengan kisah-kisah mereka dan berita-berita mereka menunjukkan puncak kecintaan, sikap mendahulukan kepentingan beliau ketimbang diri sendiri, dan pengagungan.

ومن ذلك أن أبا طلحة الأ نصاري ـ رضيالله عنه ـ كان يحمي الرسول صلى الله عليه وسلم في غزوة أحد، ويرمي بين يدية، ويقول : (( بأبي أنت وأمي، لا تشرف يصيبك سهم من سهام القوم، نحري دون نحرك ))

Di antaranya, bahwa Abu Thalhah al-Anshari melindungi Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada perang Uhud dan memanah di hadapannya, seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, jangan sampai salah satu panah kaum mengenaimu; cukup leherku saja bukan lehermu. “ [1]

وعن قيس بن أبي حازم قال : (( رأيت يد طلحة شلاء، وقى بها النبي صلى الله عليه وسلم يوم أحد ))

Dari Qais bin Abi Hazim, ia mengatakan, “Aku melihat tangan Thalhah terangkat untuk melindungi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada perang Uhud. “ [2]

وما أجمل ما قاله أنس بن النصريوم أحد لما انكثف المسلمون : اللهم إني أعتذر إليك مما صنع هؤلاء يعني أصحابه ، وأبرأ إليك مماصنع هؤلاء يعني المشر كين، ثم تقدم فاستقبله سعد، فقال : يا سعد بن معاذ، الجنة ورب النضر إني أجد ريحها من دون أحد، قال سعد : فما استطعت يا رسول الله ما صنع، قال أنس بن مالك : فوجدنابه بضعا وثمانين ضربة بالسيف أو طعته برمح أورمية بهم، ووجدناه قد قتل، وقد مثل به المشركون، فما عرفه أحد إلا أخته ينانه.

Betapa indahnya apa yang dikatakan Anas bin Nadhr pada perang Uhud, ketika umat Islam kalah, “Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap apa yang diperbuat oleh mereka (yakni para Shahabatnya) dan aku berlepas dari Mu dari apa yang diperbuat oleh mereka (yakni Musyrik). Kemudian ia masji lalu Sa’ad menemuinya, maka ia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, Surga dari Uhud.” Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya.” Anas bin Malik berkata, “Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur, dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya. “ [3]

Membela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengharuskan beberapa hal. Di antaranya :

1.      Membela Para Sahabatnya Radhiyallahu anhu

Umat telah sepakat bahwa semua Sahabat adalah terpercaya dan adil dan bahwa mereka itu sebaik-baik umat sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Telah mutawatir nash-nash dari al-Qur’an dan bahwa as-Sunnah yang menjelaskan hal itu, antara lain ;

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

   Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). “ {QS; al-Fath; 18}

Allah Ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

 “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. “{QS; al-Fath; 29}

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah mencaci maki salah seorang Sahabatku : sebab salah seorang kalian seandainya menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakan) salah seorang mereka dan tidak pula mencapai saparuhnya. ‘ [4]

Hak-hak para Sahabat banyak sekali, di antaranya :

A.     Mencintai dan meridhai mereka.

Allah Ta’ala berfirman ;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 “ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." {QS; al-Hasyr; 10}

B.      Mengikuti jalan mereka dan emncontoh sunnah mereka Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; 

فإنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُـنَّتِي وَسُـنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهِا وَعَضُّوا عَلًيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“ Sesungguhnya siapa yang masih hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang bayak. Maka berpeganglah dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku; berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham .” [5]

Tetapi ahli bid’ah menyimpang berkenaan dengan hak para Sahabat. Mereka tidak mengakui keutamaan mereka dan terlebih dahulu beriman, bahkan mencaci maki dan mengurangi martabatnya. Bahkan ahli bid’ah yang berlebih-lebihan telah mnuduh mereka berdusta, munafik dan berkhianat. Karena itu Aisyah berkata,

أمروا أن يستغفر وا لأصحاب رسوالله صلى الله عليه وسلم فسـبُّوهم.

“ Mereka diperintahkan supaya memintakan ampunan buat para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi malah mencaci maki mereka. “ [6]

Mencaci makai para Sahabat sama halnya dengan mencaci maki Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; sebab mereka adalah para kekasihnya. Karena itu Imam Mali dan selainnya berkata,

إنما أراد هؤلاء الرافضة الطعن في الرسول ليقول القائل : رجل سوءكان له أصحاب سوء، ولو كان رجلاً صا لحاً لكان أصحابه صالحين.

“Para Rafidhah itu hanyalah hendak menikam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, supaya orang mengatakan,’ Orang yang bruruk mempunyai para Sahabat yang buruk. Seandainya ia orang baik niscaya para Sahabatnya pun baik.” [7]

Ibnu Taimiyah berkata ;

وأما الر افضة في الصحابة، وباطن أمرهم الطعن في الرسالة.

“Adapun Rafidhah maka mereka telah mencaci maki para Sahabat, padahal sebenarnya mereka bermaksud mencaci maki Risalah ini.” [8]

2.      Membela para isterinya, para Ummahatul Mukminin.

Termasuk membela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah membela kehormatannya dan kehormatan para isterinya yang suci, khususnya Ummul Mukminin Aisyah yang Allah telah membebaskannya (dari segala tuduhan) dari atas langir ketujuh dalam ayat-ayat yang akan di baca hingga hari kiamat. Dia berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ ؛ لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ ؛ لَوْلا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ ؛ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ؛ إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ؛ وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ ؛ يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 “ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar; mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." ; mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta. ; Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.;  (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. ; dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar." ; Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.’ {QS; An-Nur; 11-17}

Imam Malik berkata,

من سبأبابكر جلد، ومن سب عائشة قتل، قيل له: لم؟ قال : من ر ماها فقد خالف القرآن.
’’Barangsiapa mencaci maki Abu Bakar harus dicambuk dan barangsiapa mencaci maki Asiyah harus dibunuh.’’ ditanyakan kepadanya, ‘’Mengapa?’’ ia menjawab, ‘’Barangsiapa menuduhnya maka ia telah menyelisihi al-Qur’an.’’[9]

Ibnu Katsir berkata,

وقد أجمع العلماء ـ رحمهم الله ـ قاطبة على أن من سبَّها بعد هذا الذي ذكره في هذه الآية فإنه كافر لانه معاند للقرآن

“ Para Ulama semuanya telah bersepakat bahwa siapa yang mencaci maki Aisyah, sesudah Allah menyebutkan hal ini dalam ayat, maka ia kafir, karena ia menentang al-Qur’an. “ [10]

Tuduhan kepada para isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kebatilan merupakan penghinaan terbesar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena itu, al-Qurtubi berkata mengenai tafsir firmannya,


“ Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya,”

يعني في عائثة لانَّ مثله لا يكون إلا نظير القول في المقول عنه بعينه، أو فيمن كان في مر تبة من أزواج النبي صلى الله عليه وسلم، لما في ذلك من أذية رسول الله صلى الله عليه وسلم في عرضه وأهله، وذلك كفر من فاعله
 
“ Yakni mengenai Aisyah, karena semisalnya hanyalah ucapan yang sebanding dengan pernyataan tersebut atau terhadap orang yang semartabat dengannya dari isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena perbuatan tersebut merupakan penghinaan terhadap kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarganya, dan itu kafir bagi siapa yang melakukannya.” [Tafsir al-Qurtubi XII/52]

Rio Kristianto 
 
di Amdil dari ;

حقوق النبي صلى الله عليه وسلم بين الإجلال والإخلال





[1] Al-Bukhari, V/33 no. 4064; Fath VII/ 418. 
[2] Al-Bukhari, V/33 no. 4063; Fath VII/ 416. 
[3] Al-Bukhari, III/305, V/31 no.2805, 4047, al-Fath VI/27, VII/411. 
[4] Muslim II/1968 no. 2541 
[5] Ahmad, IV/127, Abu Dawud no. 7046, ath-Thirmidzi no. 2676; Ibnu Majah no. 43 Sanadnya Shahih 
[6] Muslim dalam at-Tafsir III/ 2317 no. 3022 
[7] Munhaj as-Sunnah VII/ 459 
[8] Minhaj as-Sunnah III/ 463. 
[9] Ash-sharim al-Maslul, hal. 571 
[10] Tafsir al-Qur’an al-Azhim III/ 276

0 komentar: