Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

About Me

Selasa, 07 Oktober 2014




Adanya banyak partai dengan berbagai macam ragam dan macamnya dalam lembaga-lembaga perhimpunan masyarakat manapun, niscaya akan ada di sana tatanan sosial yang saling bertentangan dalam berbagai pandangan. Sebuah perbedaan pendapat yang tidak memungkinkan mencapai titik temu yang disepakati oleh semua pihak, di mana apa yang dipandang oleh salah satu partai itu baik, namun dalam pandangan partai lain tidaklah demikian, maka hal itu adalah tidak baik adanya. Demikian pula, apa yang dipandang oleh salah satu partai itu suatu kebahagian, maka di mata partai yang lain itu adalah kesengsaraan.

Terpecahnya persatuan kaum muslimin dengan terbagi-bagi pada partai-partai, tanpa adanya perselisihan, ini sangat tidak masuk akal dan tidak mungkin ada, tidak mungkin di dalamnya sepi dari perselisihan. Apalagi mereka sedang bertaruh dan berlomba dengan ambisi masing-masing. Jika kita melihat fenomena yang terjadi secara luas di negara-negara Islam yang mengatasnamakan negara Islam republik yang menjalankan politik negaranya dengan asas demokrasi, sistem multi partai, dan pemilu, mengekor pada asas demokrasi, sistem multi partai, dan pemilu, mengekor pada bangsa-bangsa barat, maka sekarang ini dapat kita lihat banyak sekali partai yang bermunculan di setiap negara Islam. Jika kita cermati secara jelas, tatap saja anggaran dasar dan asas setiap partai dan ketetapannya adalah berdiri di atas perselisihan dan perbedaan dengan partai-partai lainnya. Jika dampak ini terjadi di negara islam, di mana kita menjadi warganya, maka hendaknya kita melihatnya dengan kacamata pelajaran. Niscaya siapa saja yang dengan seksama mencermati dampak ini, akan mendapatkan berbagai keganjilan. Yaitu tidak mungkin para pembesar dan pendiri partai yang mempunyai ambisi untuk berkuasa dan mewujudkannya tanpa melalui partai mereka. Setelah itu, mereka akan kerahkan apa saja untuk meraih massa demi mewujudkan keinginan ambisinya. Jadi semua partai itu bertarung untuk saling menghancurkan satu sama lain dengan penuh ambisi yang akhirnya memperturutkan hawa nafsu.


Tidak ada dalam satu partai pun motto persatuan dan kebersamaan dengan pertai lainnya juga di dalamnya tidak ada etika akhlak yang kondusif. Yang ada hanya kepalsuan, kemunafikan, menutupi kebusukan. Demi meraih jabatan, apapun dilakukan dengan berbagai intrik, janji manis, dan program-program yang menggiurkan. Pokoknya berbagai usaha dilakukan, baik melalui cara yang diperbolehkan ataupun tidak.


Tidak diragukan lagi, setiap partai dan pembesar-pembesarnya, sifat dan sikap mereka sebenarnya adalah bukanlah orang-orang yang memang ahlinya menjalankan dan memikul berbagai tanggung jawab. Hal ini tidak bisa diharapkan seratus persen terdapat kebaikan darinya jika memenangkan pemilu, dalam menjalankan tanggung jawab tersebut. Karena siapa saja yang sadar dan tahu betapa beratnya tanggung jawab jabatan dan amanat pemerintahan serta pahit manisnya hasil yang akan diterimanya baik mengekor pada partai selama ada solusi lainnya. Apalagi untuk berjuang mati-matian di jalannya. Sedangkan siapa saja yang tidak sadar, ataupun tidak tahu tentang beratnya tanggung jawab dan berbagai konskuensinya, maka dia memang tidak pantas mengekor pada partai atau memangku jabatan. Walaupun dia melakukannya juga tidak ada yang dapat diharapkan lagi darinya berupa kebaikan, maupun kebahagiaan bagi masyarakat dan negara. Sebab, sudah kita ketahui betapa rakusnya mereka akan jabatan.


Sudah banyak terjadi di negara Muslim yaitu partai-partai ini, jika telah sampai pada tampuk jabatan, mereka mendatangkan berbagai musibah. Mereka layaknya seperti anjing-anjing penjajah dari negara lain, meracuni penduduk kaum muslimin, menyiksa dan mempermainkannya dengan semena-mena, menjalankan pemerintahan dengan keras dan tidak punya rasa malu sekalupun. Hingga akhirnya mereka menjadi hina di mata para musuh Islam. Akhirnya, hal itu mengendalikan mereka dengan semaunya dan merampas hasil bumi, mengendalikan hukum dalam negeri serta turut campur dalamnya. Ini disebabkan dahulunya, semasa kampanye ataupun pemilu mereka, para musuh Islam menyokong para pejabat itu yang sekarang berkuasa. Akhirnya, para pejabat pemerintahan itu harus membalas jasanya, dengan menjalankan pemerintahannya dengan jahat, mengotorinya dengan hal-hal yang dilarang dan dengan perbuatan keji lainnya, yang akan membuat kulit ini merinding dan hati teriris mendengarnya.


Sedangkan partai-partai yang tidak sampai pada tampuk jabatan dan tidak memperoleh simpati, maupun suara dari massa, maka hal ini menyebabkan bencana lain lagi, lebih dari yang telah disebutkan sebelumnya. Mereka bekerja sama dengan musuh islam untuk menyebar luaskan berita dusta, menciptakan berbagai permasalahan dalam hal-hal yang memerlukan perhatian khusus. Untuk memperlancar hal itu, partai-partai tersebut membuat kreasi permasalahan, baik yang berkenaan sosialisasi, kesejahteraan ataupun yang lainnya untuk meraih simpati suara. Lalu mereka balut berita dusta dengan fakta dan kenyataan memlalui berbagai penelitian yang dibuat-buat. Mereka membuat persepsi tuduhan bahwa partai yang berkuasa di pemerintahan sekarang tidak memperhatikan masyarakat dan kesejahteraannya, dan tidak memberikan hak semestinya pada setiap daerah. Tapi mereka hanya mengeruk kekayaannya setelah itu dicampakkan begitu saja. Inilah fenomena yang ditampakkan partai-partai yang kalah tersebut. Mereka ciptakan huru-hara dalam kehidupan bangsa, dengan menampakkan berbagai bencana pada masyarakat lalu menghasut untuk melawan pemerintahan yang ada, serta mengajak mereka menggugat dan menantang partai yang berkuasa bertarung kembali di pemilu. Sementara masyarakat yang dipengaruhi tidak sadar dan tidak tahu mana yang harus didukung dan tidak. Mereka hanya diperalat dan ikut-iutan saja.


Tidak bisa disembunyikan lagi, apapun yang dihasilkan dari perbuatan makar partai dalam meraih kemenangan, sampai kepada terpecahnya wilayah dalam satu negara setelah topan yang melanda dan hilangnya iman serta akhlak. Seperti terpisahnya Pakistan Timur dan Barat. Pakistan Barat sekarang berganti nama menjadi negara Bangladesh, setelah terjadi sengketa dan polemik perang yang berkepanjangan. Hal itu tidak terjadi, melainkan hanya karena alasan unsur bahasa dan unsur fanatisme terhadap daerah yang semasa dalam kampanye digembar-gemborkan oleh partai Rabithah ‘Awami untuk meraih suara terbanyak dan agar partai lainnya terpecah bersama terpisahnya wilayah negara.


Partai Rabithah ‘Awami yang dipimpin oleh Mujiburrahman mempunyai andil besar dalam terpisahnya wilayah Bangladesh dari Pakistan. Hal ini harusnya menjadi ibrah tersendiri bagi kaum muslimin yang berjiwa ikhlas, di mana sifat dan karakter perilaku partai tersebut seperti apa yang dilakukan para musuh islam terhadap kaum muslimin, dari segala rekayasa dan keberhasilan rencana busuk partai ini terhadap kaum muslimin. Di saat partai ini sibuk dengan kempanyenya yang menyeru tentang golongan dan kefanatikan, baik ras maupun bahasa, maka mulailah pemerintahan Hindu India yang telah lama memusuhi Islam turut campur tangan.

Sebab, sudah lazim negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Maka msuh-musuh Islam dari negara-negara lain akan turut campur untuk membuat kaum Muslimin hancur. Apalagi letak India yang berdekatan dan berdampingan dengan Pakistan Timur. India memberi bantuan kepada partai ini berupa materi dan personalitas, dengan diberinya wewenang penuh bagi warga Hindu yang menetap di Pakistan untuk menjadi warga negara itu dan mempunyai hak plilih dalam pemilu nanti, sebagaimana penduduk Muslim setempat. Jumlah mereka dari keseluruhan pemilih sebanyak 20 %. Amka saat pemilu berlangsung tahun 1981 M, semua orang hindu memberikan suaranya untuk partai ini. Bahkan banyak kecurangan yang mereka lakukan agar partai ini mencapai hasil yang banyak di parlemen. Sedangkan kaum muslimin yang jumlah suaranya dari total keseluruhan 80 % tidak memberikan suaranya kepada partai ini kecuali hanya sebanyak 12-15 %. Sisanya sebanyak 30-35% terpecah ke dalam berbagai macam partai. Sisanya lagi 30 % golput alias tidak memberikan suaranya. Hasil akhri pemilu ini, partai Rabithah ‘Awami mendapat suara terbanyak dan memenangkan pemilu kali ini dengan memperoleh hasil 34%. Partai-partai lain kalah karena terpecahnya suara kaum muslimin di setiap daerahnya. Berkat bantuan orang-orang hindu tersebut, partai inipun menguasai parlemen dan menang dalam memutuskan segala kebijakan negara.


Setelah itu, kejadian demi kejadian yang memilukan pun terjadi. Kerusakan kehancuran, hingga disintegrasi bangsa. Tangan kaum muslimin seakan terbelenggu di hadapan musuh islam. Mereka seperti boneka mainan. Berbagai propaganda membutakan kenyataan. Mata mereka tak pernah terbuka dan tidur panjang. Di saat semuanya telah hilang dan terasa pahit, mereka baru menyadarinya sungguh sangat terlambat.


Demikianlah! Walaupun partai Rabithah ‘Awami ini dan pendukungnya para musuh Islam tidak bisa menguasai sepenuhnya. Namun alergi dan gejala yang ditinggalkan serta dampak yang ditimbulkannya masih tetap menjadi penggenggu stabilitas keamanan dan ketentraman. Doktrin-doktrin mereka mampu membangkitkan jiwa pemuda militan yang mudah mereka tipu dan menjadi alat mainan. Para musuh Islam memainkannya sekehendak mereka dan kapan pun.


Inilah fenomena yang terus terjadi di perbatasan Pakistan setelah runtuhnya rezim Zulfikar Ali Buhto. Apalagi setelah dia tertangkap dan dipenjara, hingga akhirnya digantung di tiang gantungan. Allah Ta’ala tetapkan atasnya sebagai imbalan atas kekejian partai yang dia pimpin dan betapa hina perbuatannya terhadap bangsa dan kaum muslimin.


Walaupun partai-partai tersebut pada awalnya tidak menampakkan perpecahan dan perselisihan dalam hal aqidah ataupun fiqih, tetapi di saat mereka menerima tampuk jabatan pemerintahan mulailah tampak sifat fanatik dan ta’ashub mereka pada salah satu golongan yang beraqidah dan bermadzhab yang mereka ikuti saja. Hal ini disebabkan para pembesar partai-partai tersebut, memiliki latar belakang yang memang dari kalangan yang fanatik terhadap aqidah dan madzhab tertentu dalam islam serta dari berbagai golongan yang mempunyai latar belakang yang hina dan memilukan dalam sejarah perjalanan Islam.


Karenanya, suara mereka sedikit dan terpecah sehingga mustahil mencapai parlemen dan kursi jabatan di pemerintahan. Karena itu mereka melakukan tipu daya dengan menampakkan pada publik bahwa mereka adalah warga nasionalis yang menjunjung persatuan. Tapi setelah berhasil duduk dipemerintahan, mereka mulai berubah wujud kepada wujud asli yang berjiwa menyimpang dari ajaran islam dan menjadi boneka mainan para musuh Islam dan berbagai sekte golongan yang sesat.


Para pembesar partai-partai itu mulai bekerja untuk mengubah tatanan negara secara detail dan diam-diam. Meletakkan orang-orangnya pada jabatan strategis, dengan memberi wewenang hukum penuh pada mereka. Mengendalikan militer, lembaga keamanan dan itelejen negara sekehendaknya. Dan menyesuaikan kebutuhan mereka yang bermacam-macam. Setelah mereka menguasai semua daerah, mereka mengekang dan menindas kaum Muslimin yang tidak berdosa. Mereka menginginkan untuk membelenggu agama dan keimanan kaum Muslimin. Setelah berbagai kejadian melanda dan penyimpangan yang mereka lakukan. Mereka beralasan bahwa semua yang telah di lakukan dalam keadaan darurat dan ketetapan hukum adat. Mereka beralasan demikian untuk membebaskan dari tuduhan, atau dengan cara meminta untuk merevisi hukum dan peraturan serta hak-hak preogratif. Semuanya mereka lakukan semata-mata untuk melanggengkan kekuasaan dalam pemerintahan.


Inilah yang dilakukan oleh partai Bhuto terhadap keutuhan negara Pakistan. Akhirnya, orang-orang Syi’ah bekerja sama dengan orang-orang Qodiyan. Maka kedua golongan ini pun berusaha bahu membahu untuk memisahkan Pakistan Timur karena di sana tidak terdapat orang Syi’ah dan Qadiyan maupun ajarannya. Mereka juga dalam hal ini bekerja sama dengan para musuh Islam. Setelah Pakistan Timur terpisah, mereka pun mengambil alih tampuk hukum pada daerah-daerah yang lainnya dari pakistan, apalagi pada lembaga militernya. Bahkan para pengikut Qadiyah membuat kelompok Qadiyan tersendiri dan khusus dalam militer Pakistan yang diberi nama “al-Furqan” Sehingga berapa dari mereka memegang tampuk pimpinan pada pasukan angkatan udara Pakistan.


Dua golongan ini terus berusaha membentuk perubahan secara cepat dan mendadak pada paratur di setiap daerah pemerintah, kecuali berbagai kejadian yang luput dari perhatian mereka dan memerlukan waktu yang lama untuk mengubahnya. Kekejian pun terus terasa akibat dari perbuatan kedua golongan ini.


Berbagai kejadian dan kekejian yang ada padanya, menggerakkan kami untuk meneliti dengan mata untuk mengambil pelajaran dan terbuka tentang berbagai partai politik yang tidak di bangun berdasarkan perbedaan yang telah disebutkan. Atau di atas perbedaan yang bersifat prosedur langkah dan praktiknya, ataupun hikmah pandangan serta pemikirannya saja.

Fenomena ini juga tidak mendatangkan manfaat sedikit pun bagi Islam dan kaum Muslimin melainkan bencana dan kehancuran. Apakah masuk akal jika kita menjadikan adanya perselisihan dan perbedaan pada kaum muslimin sebagai alasan dibentuknya partai-partai? Sehingga kaum Muslimin yang telah tumbuh besar, kuat dan kokoh akan menuai hasil buahnya yang beracun?


Inilah yang menarik kita agar tidak memandang remeh dan sepele perkara ini, serta tidak menutup mata di depan ajakan yang membuai dan ceramah-ceramah yang menyilaukan di berbagai kalimatnya, dengan janji-janji dan harapan yang ditawarkan dari terbentuknya sistem partai-partai yang berlandaskan kepada asa Demokrasi. Ini adalah jalan lorong yang gelap yang tidak mendatangkan kebaikan sedikitpun, melainkan sumber bencana dan kehancuran.

Di salin Rio kristianto
dari 

الأحْزَابُ السّيَا سيَّةُ فِي الإِسْلاَمِ
Al-ahzab  as-  Siyassiyyah fil Islam
Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury


0 komentar: