Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Kamis, 18 September 2014

Agama Islam adalah agama yang sangat sempurna. Islam mengatur
seluruh aspek kehidupan. Tercermin dalam surat an-Nahl/16 ayat 89, Allah Ta'ala
berfirman:
وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ
لِلْمُسْلِمِينَ
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitâb (Al-Qur`ân) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri" [an-Nahl/16:89]
Bahkan, Islam telah mengatur dan menjelaskan tata cara buang
air. Demikian pula, Islam telah mengatur dan menjelaskan masalah perpolitikan.
Islam memberikan konsep yang jelas untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil dan
benar. Dan berikut, tulisan ini akan membahas secara ringkas, bagaimana mewujudkan
kepemimpinan tersebut.
Sebagaimana fenomena yang nampak di masyarakat kita, terdapat
dua kubu di tengah kaum muslimin yang berjuang dan menghabiskan waktunya untuk
mewujudkan kepemimpinan yang adil. Kubu yang pertama, terdiri dari orang-orang
yang menghalalkan politik non Islami, atau paling tidak berkecimpung di
dalamnya. Kubu yang kedua, terdiri dari orang-orang yang menghalalkan darah
para penguasa (pemerintahan), atau paling tidak berusaha menggulingkannya.
Manakah di antara kedua kubu ini yang sesuai dengan syariat?
Jika kedua kubu itu tidak sesuai dengan syariat, lantas bagaimana sikap kita?
KILAS BALIK SEJARAH
Sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kita
menengok ke masa lalu. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai
berdakwah hingga akhirnya tercipta sebuah daulah, yaitu Daulah Islamiyah,
karena beliau adalah suri teladan kita.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus di
tengah-tengah kaum yang sangat buruk agama, masyarakat dan perpolitikannya. Meski
keberadaannya di tengah kaum yang sedemikian parah, ternyata, ketika berada di
Makkah, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah berusaha untuk
melakukan pemberontakan, merebut kekuasaan, ataupun menggunakan cara-cara licik
untuk menggulingkan atau membunuh pemimpin-pemimpin kaum musyrikin Makkah.
Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menggunakan cara
tersebut? Jawabannya, karena cara tersebut bukan cara yang tepat.
Bahkan, ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
berdakwah secara terang-terangan dan banyak manusia yang mulai masuk Islam,
maka kaum Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah untuk membujuknya.
'Utbah bin Rabi'ah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
وَإِنْ
كُنْتَ تُرِيْدُ شَرَفًا سَوَّدْنَاكَ عَلَيْنَا حَتَّى لاَنَقْطَعَ أَمْرًا
دُوْنَكَ وَإِنْ كُنْتَ تُرِيْدُ مُلْكًا مَلَّكْنَاكَ عَلَيْنَا
"Jika engkau menginginkan kedudukan, maka kami akan
menjadikanmu sebagai tuan kami, sehingga kami tidak akan memutuskan suatu
perkara tanpamu. Jika engkau menginginkan kerajaan, maka kami akan menjadikanmu
sebagai raja kami" [2]
Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima
tawaran itu? Jawabannya, adalah tidak! Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam tidak menerimanya? Padahal dengan demikian, sepertinya beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bisa berdakwah dengan menggunakan kekuasaannya.
Jawabannya, karena cara tersebut bukanlah cara yang tepat.
Sebagai buktinya adalah Raja Najasyi rahimahullah yang telah
masuk Islam; kendati sudah berada di tampuk kepemimpinan, tetap saja
kekuasaannya tidak bisa dipergunakan untuk merubah masyarakatnya.
Beda halnya ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berada di Madinah, pada saat itu, kaum muslimin cukup banyak dan memiliki
kekuatan iman, sehingga dengan mudahnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam mengatur mereka dan membentuk sebuah Daulah Islamiyah, yaitu daulah yang
sangat kita dambakan untuk sekarang ini.
KESHÂLIHAN PEMERINTAH TERGANTUNG KEPADA KEADILAN DAN
KESHÂLIHAN MASYARAKATNYA
Ketahuilah, keadilan dan keshâlihan pemerintah tergantung
kepada keadilan dan keshâlihan masyarakatnya. Dalam hal ini berlaku hukum
sebanding. Jika masyarakat tidak adil dan tidak shâlih, bagaimana mungkin
mereka mengharapkan pemerintah yang adil dan shâlih? Cobalah kita renungi
ayat-ayat berikut ini.
Allah Ta'ala berfirman.
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي
بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang
zalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa-apa yang mereka
usahakan". [al-An'âm/6:129].
Allah Ta'ala berfirman.
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ
نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا
الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka
Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati
Allah), tetapi mereka melakukan kefasikan dalam negeri itu, maka sepantasnya
berlaku terhadap perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya". [al-Isrâ`/17:16].
Ayat ini sangat jelas menerangkan, kefasikan masyarakat suatu
negeri bisa membinasakan negeri tersebut.
Allah Ta'ala berfirman.
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ
أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا
"Dan (penduduk) negeri itu telah kami binasakan ketika
mereka berbuat kezhaliman". [al-Kahfi/18:59].
Begitu pula disebutkan dalam hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَتْرُكُ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ
وَالنَّهْىَ عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ إِذَا
ظَهَرَ فِيكُمْ مَا ظَهَرَ فِى الأُمَمِ قَبْلَكُمْ. قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَمَا ظَهَرَ فِى الأُمَمِ قَبْلَنَا قَالَ
الْمُلْكُ فِى صِغَارِكُمْ وَالْفَاحِشَةُ فِى كِبَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِى
رُذَالَتِكُمْ
"Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: "Rasulullah pernah ditanya, 'Ya, Rasulullah! Kapankah amar ma'ruf
dan nahi mungkar akan kami tinggalkan?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, 'Jika tampak di tengah-tengah kalian, apa-apa yang tampak di tengah-tengah
umat-umat sebelum kalian,' Kami pun bertanya: 'Ya Rasulullah! Apa yang tampak
di tengah-tengah umat sebelum kami?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata, '(Ketika) kerajaan/kekuasaan berada di tangan anak-anak muda [3]
di antara kalian, perbuatan-perbuatan fâhisy (dosa besar) dilakukan oleh
orang-orang yang tua [4]
di antara kalian, dan ilmu disebarkan oleh orang yang hina [5]
di antara kalian" [6]
Hadits ini menjelaskan keterkaitan antara perbuatan dosa
dengan amar ma'ruf nahi mungkar. Ketika amar ma'ruf nahi mungkar sudah
ditinggalkan, maka ini menjadi tanda kebinasaan suatu kaum.
Al-Walîd ath-Tharthûsi rahimahullah berkata: "Sampai sekarang masih terdengar
orang-orang berkata, 'amalan-amalan kalian adalah pekerja-pekerja kalian',
sebagaimana kalian sekarang ini; maka seperti itulah kalian akan dipimpin. Di
dalam Al-Qur`ân terdapat ayat yang semakna dengan ini (al-An'âm/6 ayat 129,
seperti telah disebutkan di atas)'."
'Abdul-Mâlik bin Marwân berkata,"Wahai, rakyatku! Bersikap adillah
kepada kami! (Bagaimana mungkin) kalian menginginkan dari diri-diri kami
seperti yang dijalankan oleh Abu Bakar dan 'Umar, sedangkan kalian tidak
mengerjakan seperti apa-apa yang mereka amalkan?!" [7]
Setelah kita mengetahui, bahwa keshalihan dan keadilan
pemerintah tergantung pada keshalihan dan keadilan masyarakatnya, maka tidak
ada jalan lain untuk mewujudkannya kecuali dengan melakukan perubahan terhadap
masyarakatnya.
BERITA DARI NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM TENTANG
KEADAAN UMAT DI MASA DATANG DAN CARA MENGATASINYA
Keadaan masyarakat seperti yang ada sekarang ini sudah
dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, begitu pula cara
penyelesaiannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ
بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ
وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى
تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
"Jika kalian berjual beli dengan cara 'înah [8]
dan mengambil ekor-ekor unta serta kalian telah ridho dengan pertanian [9]
dan meninggalkan jihad, maka Allah akan
menimpakan kepada kalian kehinaan. Allah tidak akan menghilangkannya sampai
kalian kembali kepada agama kalian" [10].
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللَّهِ
مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّى أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ
الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا
تَنَافَسُوهَا ، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
"Demi Allah! Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan dari
diri kalian. Akan tetapi, aku takut jika dunia dilapangkan kepada kalian,
sebagaimana dilapangkan kepada umat-umat sebelum kalian, sehingga kalian
berlomba-lomba (untuk mendapatkannya) sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba,
dan dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana menghancurkan mereka".
[11]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
« يُوشِكُ
أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الأُكَلَةُ
عَلَى قَصْعَتِهَا. قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا
يَوْمَئِذٍ قَالَ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ
كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ
مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ. قَالَ قُلْنَا
وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
"Sebentar lagi umat-umat (agama lain) akan menyerbu
kalian dari segala penjuru sebagaimana orang-orang yang makan menyerbu piring
makannya," kami pun bertanya, "Apakah pada saat itu jumlah kami
sedikit?" Beliau berkata, "Jumlah kalian pada saat itu banyak. Akan
tetapi, kalian akan menjadi buih-buih seperti buih-buih air. Allah akan
mencabut rasa takut atau segan dari hati musuh-musuh kalian, serta menjadikan
al-wahn di hati-hati kalian." Kami bertanya, "Apakah al-wahn
itu?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Cinta kehidupan
(dunia) dan takut kepada kematian" [12].
Hadits-hadits di atas menerangkan keadaan kaum muslimin,
bahwasanya mereka akan terlena dengan dunia, bodoh dan jauh dengan agama,
hatinya tidak pernah terbetik untuk berjihad, sehingga Allah akan menjadikan
mereka hina dan binasa, dan menjadikan musuh-musuh tidak takut dengan mereka.
Benarlah yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Semua yang disebutkan itu telah benar-benar terjadi.[13]
Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam juga menjelaskan bahwa kaum muslimin tidak akan kembali jaya kecuali
jika mereka kembali kepada agamanya. Tidak lain, yaitu dengan melakukan
tashfiyah (pembersihan) dan tarbiyah (pendidikan/pengajaran).[14]
Syaikh 'Abdul-Mâlik Ramdhâni hafizhahullâh menjelaskan,
"Tashfiyah, yaitu membersihkan Islam dari ajaran-ajaran lain yang masuk ke
dalamnya. Dan tarbiyah, yaitu mendidik atau mengajarkan Islam yang sebenarnya
(asli) kepada manusia, yaitu men-tashfiyah tauhid dari syirik, men-tashfiyah sunnah
dari bidah, men-tashfiyah fikih dari pendapat-pendapat baru yang lemah,
men-tashfiyah akhlak dari perilaku umat-umat yang binasa dan hina, dan
men-tashfiyah hadiits-hadiits Nabi yang shahîh dari yang dusta dan palsu".[15]
Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata, "Wajib untuk diketahui, mengapa
kaum muslimin pada saat ini tidak berhukum dengan hukum Islam kecuali di
beberapa daerah saja? Mengapa para dai Islam tidak menerapkan Islam pada diri
mereka sendiri sebelum menyuruh orang lain untuk memperaktekkan Islam di
negara-negara mereka? Jawabannya cuma satu, yaitu, karena mereka tidak mengenal
Islam kecuali secara global saja, atau mereka tidak men-tarbiyah diri mereka
dan orang lain berdasarkan Islam dalam kehidupan, akhlak, dan muamalah
mereka."[16]
KENYATAAN PAHIT
Nikmat menjadi thalibul-ilmi adalah nikmat yang sangat besar.
Akan tetapi, sangat sedikit kaum muslimin yang mengetahuinya. Betapa banyak
ayat, hadits dan atsar yang menunjukkan hal itu, sebagaimana tertulis di dalam
buku-buku agama. Akan tetapi, amat disayangkan, orang-orang yang sudah diberi
hidayah oleh Allah untuk menuntut ilmu yang hak, yang sudah mempelajari akidah
yang benar dan agama yang kuat, mereka banyak disibukkan dengan perkara duniawi
dan politik non Islami. Akibatnya, mereka yang tadinya berdakwah di
masjid-masjid dan rumah-rumah, sekarang justru meninggalkan masjid dan
masyarakatnya. Yang tadinya rajin belajar dan membaca buku di perpustakaan,
sekarang justru meninggalkan buku dan perpustakaannya. Yang tadinya memakai
pakaian yang islami, sekarang justru memakai pakaian Nashrani. Suatu kenyataan
yang sangat pahit!
Tidak sedihkah mereka melihat keadaan umat ini?
Politisi-politisi sangat gampang "dicetak", teknisi-teknisi sangat
mudah "ditelurkan", dokter-dokter sangat "ringan dimunculkan",
tetapi untuk mencetak para ustadz, para dai dan ulama tidaklah mudah. Kalau
bukan mereka, para penuntut ilmu agama, maka siapa lagi yang akan memperbaiki
umat ini.
Allah Ta'ala berfirman.
إِنَّ اللَّهَ لَا
يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu
kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".
[ar-Ra'd/13:11].
Dengan demikian, dari uraian di atas, dapatlah ditarik
kesimpulan, kedua kubu yang telah disebutkan atas, tidaklah berada dalam
kebenaran dan tidak sesuai dengan syariat. Dan tidak ada cara yang tepat untuk
mewujudkan kepemimpinan yang adil, kecuali dengan melakukan tashfiyah dan melakukan
tarbiyah kaum muslimin.
Syaikh 'Abdul-Mâlik Ramadhâni hafizhahullâh berkata:
"Permisalan dua kubu tersebut, seperti dua orang petani yang mendatangi
suatu lahan yang menghasilkan buah yang jelek. Yang satunya menanam tanaman (di
lahan itu), setiap kali tanaman itu berbuah matang, maka dia potong tanaman
itu. Yang satunya lagi menanam tanaman, memperbaiki akar-akarnya dan selalu
menyiraminya. Di antara mereka mana yang lebih bagus?"[17]
Jawabannya, tidak ada yang bagus. Orang yang kedua kendati
menghasilkan buah, maka buahnya bukanlah buah yang bagus, karena lahan yang
dipakai tidaklah cocok untuk bercocok tanam.
SEDIKIT NASIHAT
Oleh karena itu, sebagai pencari kebenaran hakiki, jangan
sampai kita mendahulukan 'âthifah (perasaan) setiap menimbang sesuatu.
Mengikuti 'âthifah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banyak kaum
muslimin mengikuti hawa nafsunya, sehingga pada akhirnya tersesat dari jalan
yang benar.
Syaikh al-'Utsaimin rahimahullâh mengingatkan, "Jika
kita ingin membangkitkan kaum muslimin dari tidur dan kelalaiannya, maka kita
harus berjalan sesuai dengan jalan-jalan yang tepat dan dengan asas yang kuat.
Karena, kita semua menginginkan agar hukum-hukum (yang ada semua kembali)
kepada Allah, dan kita menginginkan agar agama Allah tegak di atas bumi ini.
Ini adalah tujuan yang sangat besar. Akan tetapi, kalau hanya dengan 'âthifah
(perasaan). maka hal itu tidak akan pernah terwujud. Kita harus mengikat
'âthifah dengan syariat dan akal kita." [18]
Sekian. Mudah-mudahan bermanfaat. Tamma bi fadhlillaah wa
taufîqih.
Oleh Said Yai Al-Kumriini Disalin dari Majalah
As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M.
lihat :
[2]
Dihasankan oleh Syaikh al-Albâni. Lihat as-Sîrah an-Nabawiyah fî Dhau`il-Mashâdir
al-Ashliyah, hlm. 200 (??? Hlm. 178-179-Muslim).
[3]
Maksudnya, dipimpin oleh orang-orang yang tidak berpengalaman.
[4]
Maksudnya, kemaksiatan dilakukan oleh banyak orang sampai-sampai dilakukan pula
oleh orang-orang yang tua.
[5]
Maksudnya, ilmu disebarkan oleh orang-orang fasik yang hanya mengharapkan
dunia.
[6]
HR Ibnu Mâjah No. 4015. Al-Bûshiri berkata, "Isnadnya shahîh, rijalnya
tsiqât." Lihat perkataan al-Bûshirî dan penjelasan hadits ini di Hasyiah
as-Sindi, Beirut, Dârul-Ma'rifah, Jilid IV, hlm. 366.
[7]
'Sirâj al-Mulûk' hal. 100-101. Dinukil dari 'Fiqhussiyâsah asy-Syar'iah fi
Dhau`il-Kitâb was-Sunnah wa Aqwâl Salafil-Ummah, hlm. 171.
[8]
Jual beli yang mengandung riba di dalamnya. Hadits ini berlaku umum terhadap
semua penyimpangan dalam masalah syariat, seperti penyimpangan dalam akidah,
ibadah, muamalah, pernikahan, dll. Dan penyebutan 'inah di sini sebagai
perwakilan saja atas penyimpangan-penyimpangan tersebut.
[9]
Maksudnya, cinta dengan dunia dan melalaikan akhirat.
[10]
HR Abu Dâwud, no. 3462, dan yang lainnya. Dan hadits ini dishahîhkan oleh
Syaikh al-Albâni ddalam ash-Shahîhah, no. 11.
[11]
HR al-Bukhâri, no. 3157 dan Muslim no. 2971.
[12]
HR Ahmad di Musnad-nya, Jilid V, hlm. 278, dan yang lainnya. Dishahîhkan oleh
Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah Jilid II hal 647-648
[13]
Lihat keterangan yang lebih jelas di Badâ`iu al-Hikam bi Dzikri Fawâ`id Hadîts
Tadâ'i al-Umam yang ditulis oleh Syaikh Salim al-Hilâli.
[14]
Silahkan baca keterangan yang lebih jelas dalam kitab Ma'âlim al-Manhaj
as-Salafy fit-Taghyîr yang disusun oleh Syaikh al-Albâni.
[15]
Dinukil dari kitab Sittu Durar min Ushûli Ahlil-Atsar, hlm. 102.
[16]
Ma'âlim al-Manhaj as-Salafy fit-Taghyîr, hlm. 30.
[17]
Majalah al-Ishlâh, edisi ke-5, tahun 1428 H, hlm. 43 dengan judul Limadza la
Yalja' Ahlus-Sunnah fi Ishlâhihim ilal-hilli as-Siyasi wal-Hilli ad-Damawi.
[18]
Kitab beliau yang berjudul ash-Shahwah al-Islamiyah, hlm. 52.
Label:
PEMERINTAHAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar