Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Kamis, 18 September 2014
Oleh Ustadz Abu Ihsan al-Atsari
Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah
menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya: Pertama, adil dengan
ketentuan-ketentuannya. Kedua, ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam
menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum. Ketiga, sehat jasmani,
berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani
tugas kepemimpinan. Keempat, normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya
untuk bergerak dan bereaksi. Kelima, bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus
rakyat dan mengatur kepentingan negara. Keenam, keberanian, yang bisa digunakan
untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.
Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat
jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus
dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin
akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya.
Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, "Pemimpin
haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum
muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa
kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah
masyarakatnya!" [1]
Ibnul-Muqaffa' dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir
menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin:
"Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang
pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun
kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak,
(yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang
ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum".
Lebih lanjut ia mengatakan: "Pemimpin tidak akan bisa
berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan
bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa
akal yang bijaksana dan kehormatan diri".
Dia menambahkan: "Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi
para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak
ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah
ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah
membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun
tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang
baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika
demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan".
Ath-Thurthusyi dalam Sirâjul-Mulûk mengatakan: "Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
وَلَوْلَا
دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ
"Seandainya
Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain,
pasti rusaklah bumi ini" [al-Baqarah/2:251].
Yakni, seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka
bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela
orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang
lemah. Manusia akan saling memangsa. Segala urusan menjadi tidak akan teratur,
dan hiduppun tidak akan tenang. Rusaklah kehidupan di atas muka bumi. Kemudian
Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan kepemimpinan.
Allah l mengatakan, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas
semesta alam. - al-Baqarah/2 ayat 251- yaitu dengan mengadakan pemerintahan di
muka bumi, sehingga kehidupan manusia menjadi aman.
Karunia Allah Azza wa Jalla atas orang yang zhalim, ialah
dengan menahan tangannya dari perbuatan zhaliman. Sedangkan karunia-Nya atas
orang yang dizhalimi, ialah dengan memberikan keamanan dan tertahannya tangan orang
yang zhalim terhadapnya.
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu telah meriwayatkan, bahwa
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ
العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ.
"Tiga doa
yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka,
dan doa orang yang dizhalimi" [2]
Diriwayatkan, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي
عِبَادَةِِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ
اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ
شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ
"Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain
naungan-Nya: (1) Seorang imam yang adil (2) Seorang pemuda yang menghabiskan
masa mudanya dengan beribadah kepada Allah. (3) Seorang yang hatinya selalu
terkait dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah,
berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah. (6) Lelaki yang diajak
seorang wanita yang cantik dan terpandang untuk berzina lantas ia berkata:
"Sesungguhnya aku takut kepada Allah". (5) Seorang yang
menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
disedekahkan oleh tangan kanannya. (6) Seorang yang berdzikir kepada Allah
seorang diri hingga menetes air matanya." [3]
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata,"Amal seorang
imam yang adil terhadap rakyatnya sehari, lebih utama daripada ibadah seorang
ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun."
Qeis bin Sa'ad berkata,"Sehari bagi imam yang adil,
lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun."
Masruq berkata,"Andaikata aku memutuskan hukum dengan
hak sehari. maka itu lebih aku sukai daripada aku berperang setahun fi
sabilillah."
Diriwayatkan bahwa Sa'ad bin Ibrâhîm, Abu Salamah bin
Abdurrahmân, Muhammad bin Mush'ab bin Syurahabil dan Muhammad bin Shafwan
berkata kepada Sa'id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit: "Menetapkan hukum
secara hak satu hari, lebih utama di sisi Allah, daripada shalatmu sepanjang
umur".
Kebenaran perkataan ini akan nampak jelas, jika melihat
kebaikan yang didapatkan rakyat karena kebaikan pemimpinnya.
Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata,"Apabila seorang
pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah
akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak
dan pada segala sesuatu. Dan apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan
kebaikan dan keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah akan menurunkan
berkah pada penduduknya."
Umar bin 'Abdul-Aziz rahimahullah berkata,"Masyarakat
umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin).
Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan
khusus itu adalah para pemimpin. Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
"Dan
peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zhalim saja di antara kamu" [al-Anfâl/8:25].
Al-Walid bin Hisyam berkata,"Sesungguhnya rakyat akan
rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya
pemimpin."
Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja'far al-Manshur:
"Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan
jika ia rusak, maka rusaklah umat." Abu Ja'far al-Manshur (ia adalah
pemimpin) bertanya: "Siapa dia?" Sufyan menjawab: "Engkau!"
Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi
bersama rakyatnya. Rakyat mendapat bagian keadilan yang sama, tidak ada yang
diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan
melakukan kezhalimannya. Adapun pihak yang lemah tidak merasa putus asa
mendapatkan keadilan. Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Pemimpin yang
baik, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa aman dan orang-orang
yang bersalah merasa takut. Pemimpin yang buruk, ialah pemimpin yang
orang-orang tak bersalah merasa takut dan orang-orang yang bersalah merasa
aman."
Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata kepada al-Mughirah
ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: "Hai Mughirah, hendaklah
orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut
terhadapmu".
Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Seburuk-buruk
harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika
dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang
baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan
keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang
dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh
burung elang.
Oleh karena itu dikatakan, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat
lebih baik daripada pemimpin yang takut kepada rakyat.
Seorang pemimpin, hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Maaf
dari orang yang kuat adalah fadhilah. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin,
ibarat mahkota bagi seorang raja. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengatakan:
خُذِ
الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah
engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh". [al-A'râf/7:199].
Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang
menganjurkan memberi maaf:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ
وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ
"(yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". [Ali 'Imrân/3:134].
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ
وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
"dan (bagi)
orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf. -asy-Syûra/42 ayat 37- kecuali bila
yang dilanggar itu adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala.
'Aisyah
Radhiyallahu 'anha berkata,"Aku tidak pernah melihat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam membalas dendam terhadap kezhaliman yang
dilakukan terhadap beliau. Hanya saja, bila sesuatu dari hukum Allah dilanggar,
maka tidak ada satupun yang dapat menghadang kemarahan beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam."
Ketika Uyainah bin Hishn masuk menemui Umar bin al-Khaththab
Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Hai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau
tidak memberi kami secara cukup dan engkau tidak menghukum di antara kami
secara adil!" Marahlah Umar dan beliau ingin memukulnya. Salah seorang
saudaranya berkata: "Hai Amirul- Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah berfirman, (yang artinya): Jadilah engkau pema'af dan suruhlah
orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang
bodoh. -al-A'râf/7 ayat 199 dan sesungguhnya dia ini termasuk orang
bodoh".
Demi Allah, ketika ia mendengar ayat itu dibacakan, Umar
tidak jadi memukulnya. Karena Umar seorang yang sangat komitmen mengikuti
Kitabullah.
Seorang pemimpin hendaklah memiliki sifat kasih sayang. Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ
مَنْ فِي السَّمَاءِ
"Sayangilah
orang-orang di bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu".[4]
Orang yang paling berhak menjadi pemimpin ialah yang paling
kasih lagi paling penyayang. Sebaik-baik pemimpin ialah yang bisa menjadi
teladan dan pemberi hidayah bagi rakyatnya, dan seburuk-buruk pemimpin ialah
pemimpin yang menyesatkan. Dahulu dikatakan, bahwa rakyat berada di bawah agama
pemimpinnya. Jika bagus agama pemimpinnya, maka bagus pulalah agama rakyatnya.
Jika kacau agama pemimpinnya, maka kacau pulalah agama rakyatnya.
Dalam hadits Tsauban Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي
أَئِمَّةً مُضِلِّينَ
"Sesungguhnya,
yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan".
[5]
Di dalam kitab ash-Shahîh disebutkan, Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam pernah bersabda:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ
وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ
عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ
عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya,
Allah tidak mengangkat ilmu sekaligus dari umat manusia, namun Allah
mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa
seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin.
Ketika ditanya, mereka mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu. Akhirnya mereka
sesat lagi menyesatkan" [6]
Imam ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata,"Resapilah
hadits ini baik-baik. Sesungguhnya, musibah menimpa manusia bukan karena ulama,
bila para ulama telah wafat lalu orang-orang jahil mengeluarkan fatwa atas
dasar kejahilannya, saat itulah musibah menimpa manusia."
Ia melanjutkan perkataannya: "Umar Ibnul-Khaththab
Radhiyallahu 'anhu telah menerangkan maksud tersebut. Dia berkata,'Seorang yang
amanat tidak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanat, lantas
wajar saja kalau ia berkhianat'."
Wallahu a'lam bish-Shawab.
[1]
Adhwâ'ul-Bayân, I/67.
[2]
HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani
rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1432
[3]
HR. Bukhari dan Muslim
[4]
HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani t dalam Shahih Sunan at
Tirmidzi, no. 1924
[5]
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan
shahîh
[6]
HR. Bukhari
Label:
PEMERINTAHAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar