Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Kamis, 25 September 2014

Para ulama – dulu dan sekarang – berbeda pendapat
dalam permasalahan menyentuh mushhaf Al-Quran dalam keadaan tidak suci.
Pendapat mereka terbagi menjadi dua kelompok besar : melarangnya dan
membolehkannya. Berikut akan dibahas secara ringkas permasalahan tersebut.
Pendapat
yang melarangnya.
Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala:
لا
يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ
Juga dengan riwayat :
عَنْ
أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، قَالَ: فِي كِتَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: " لا يُمَسُّ الْقُرْآنُ إِلا عَلَى طُهْرٍ
"
Dari Abu Bakr bin Hazm, ia berkata : “Dalam kitab
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dituliskan untuk ‘Amru bin Hazm
: ‘Al-Qur’an tidak boleh disentuh kecuali dalam keadaan suci” [1].
Juga beberapa riwayat yang ternukil dari salaf :
حَدَّثَنَا
ابْنُ نُمَيْرٍ، قَالَ: نَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ
ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ لَا يَمَسُّ الْمُصْحَفَ إِلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, ia
berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’,
dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya tidaklah menyentuh mushhaf kecuali orang
yang suci [2].
Dalam riwayat Ibnul-Mundzir disebutkan dengan
lafadh :
لا
يَمَسُّ الْمُصْحَفَ إِلا مُتَوَضِّئٌ
“Tidaklah menyentuh mushhaf kecuali orang
yang berwudlu” [Al-Ausath no. 629].
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ، نا الْحَسَّانِيُّ، نا وَكِيعٌ، نا الأَعْمَشُ، عَنْ
إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: كُنَّا مَعَ
سَلْمَانَ فَخَرَجَ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ جَاءَ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا
عَبْدِ اللَّهِ، لَوْ تَوَضَّأْتَ لَعَلَّنَا أَنْ نَسْأَلَكَ عَنْ آيَاتٍ،
فَقَالَ: إِنِّي لَسْتُ أَمَسُّهُ إِنَّمَا لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ،
فَقَرَأَ عَلَيْنَا مَا شئنا".
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad
: Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami
Wakii’ : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari
‘Abdurrahmaan bin Yaziid, ia berkata : Kami pernah bersama Salmaan
(Al-Faarisiy). Lalu ia keluar untuk menunaikan hajatnya. Tidak lama kemudian ia
kembali. Aku berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahmaan, seandainya engkau berwudlu,
karena barangkali kami akan bertanya kepadamu tentang beberapa ayat Al-Quran”.
Ia menjawab : “Sesungguhnya aku tidak menyentuhnya, karena tidaklah menyentuh
Al-Qur’an kecuali hamba-hamba yang disucikan”. Lalu ia membacakan kepada kami
(beberapa ayat) sesuai yang kami inginkan [3].
عَنْ
إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ
سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ أُمْسِكُ الْمُصْحَفَ عَلَى
سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ فَاحْتَكَكْتُ، فَقَالَ سَعْدٌ: " لَعَلَّكَ
مَسَسْتَ ذَكَرَكَ "، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَالَ: " قُمْ
فَتَوَضَّأْ "، فَقُمْتُ فَتَوَضَّأْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ
Dari Ismaa’iil bin Muhammad bin Sa’d bin Abi
Waqqaash, dari Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqaash, ia berkata : Aku pernah
memegang mushhaf di hadapan Sa’d bin Abi Waqqaash, lalu aku
menggaruk-garuk (badanku). Sa’d berkata : “Barangkali engkau telah menggaruk
kemaluanmu ?”. Aku berkata : “Benar”. Ia berkata : “Berdiri dan ambillah
wudlu”. Aku pun berdiri, setelah itu aku kembali kepadanya [4].
حَدَّثَنَا
هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْخَصِيبِ، قَالا:
قَالَ وَكِيعٌ: كَانَ سُفْيَانُ يَكْرَهُ أَنْ يَمَسَّ الْمُصْحَفَ وَهُوَ عَلَى
غَيْرِ وُضُوءٍ "
Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ishaaq
dan ‘Aliy bin Muhammad bin Abil-Khashiib, mereka berdua berkata : Telah berkata
Wakii’ : “Sufyaan (Ats-Tsauriy) membenci menyentuh mushhaf tanpa
berwudlu” [5].
Bahkan dihikayatkan ijmaa’ tentang larangan
ini.
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
وَلَا
يَمَسُّ الْمُصْحَفَ إلَّا طَاهِرٌ يَعْنِي طَاهِرًا مِنْ الْحَدَثَيْنِ جَمِيعًا
.
رُوِيَ
هَذَا عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَالْحَسَنِ وَعَطَاءٍ وَطَاوُسٍ وَالشَّعْبِيِّ
وَالْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَصْحَابِ
الرَّأْيِ ، وَلَا نَعْلَمُ مُخَالِفًا لَهُمْ إلَّا دَاوُد فَإِنَّهُ أَبَاحَ
مَسَّهُ
“Tidak boleh menyentuh mushhaf kecuali orang
yang suci, yaitu suci dari dua macam hadats secara bersamaan (hadats kecil
dan besar). Telah diriwayatkan hal itu dari Ibnu ‘Umar, Al-Hasan, ‘Athaa’,
Thaawuus, Asy-Sya’biy, dan Al-Qaasim bin Muhammad. Pendapat itulah yang
dipegang oleh Maalik, Asy-Syaafi’iy, dan ashhaabur-ra’yi. Kami tidak
mengetahui orang yang menyelisihi mereka kecuali Daawud (Adh-Dhaaahiriy),
karena ia membolehkan menyentuhnya (meski berhadats)” [6].
Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata
:
وأصل
هَذهِ المسألة : منع المحدث مِن مس المصحف ، وسواء كانَ حدثه حدثاً أكبر ، وَهوَ
مِن يجب عليهِ الغسل ، أو أصغر ، وَهوَ مِن يجب عليهِ الوضوء .
هَذا
قول جماهير العلماء ، وروي ذَلِكَ عَن علي وسعد وابن عمر وسلمان ، ولا يعرف لَهُم
مخالف مِن الصحابة ، وفيه أحاديث عَن النبي - صلى الله عليه وسلم - متصلة ومرسلة
.وخالف في ذَلِكَ أهل الظاهر
“Pokok permasalahan ini adalah : Larangan bagi
orang yang berhadats menyentuh mushhaf, sama saja apakah hadats-nya
adalah hadats besar yang diwajibkan padanya mandi, ataukah hadats kecil
yang hanya diwajibkan padanya wudlu. Ini adalah perkataan jumhur ulama. Dan
diriwayatkan tentangnya dari ‘Aliy, Sa’d, Ibnu ‘Umar, dan Salmaan. Tidak
diketahui bagi mereka adanya orang yang menyelisihi dari kalangan shahabat.
Terdapat hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang muttashil
dan mursal tentang hal tersebut. Dan kalangan Dhahiriyyah
menyelisihi mereka dalam masalah tersebut”[7]
.
Pendapat Kedua Membolehkannya.
Dalil mereka adalah kaedah al-baraa’atul-ashliyyah,
karena tidak didapatkan dalil yang shahih lagi shariih larangan
menyentuh mushhaf bagi orang yang tidak suci dari Al-Qur’an maupun
As-Sunnah.
Terdapat beberapa riwayat dari salaf yang
membolehkannya, antara lain :
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا أَبُو
الْوَرْقَاءِ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ خَرَجَ مِنْ غَائِطٍ أَوْ
بَوْلٍ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَمَسَحَ بِهِ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَأَخَذَ
الْمُصْحَفَ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Basysyaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa : Telah
menceritakan kepada kami Abul-Warqaa’, ia berkata : Aku mendengar Sa’iid bin
Jubair keluar dari buang air besar atau buang air kecil. Ia meminta air, lalu
ia mengusap muka dan kedua hastanya, dan ia memegang mushhaf” [8].
Sa’iid bin Jubair adalah salah seorang ulama taabi’iin
generasi yang tsiqah, tsabt, lagi faqiih. Wafat tahun
95 H.
Ibnu Abi Daawud memasukkan riwayat di atas dalam
Bab : Diberikan Keringanan Menyentuh Mushhaf dalam Keadaan Tidak Suci.
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا، حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ،
عَنْ أَبِي الْهُذَيْلِ، قَالَ: أَتَيْتُ أَبَا رَزِينٍ، فَأَمَرَنِي أَنْ
أَقْرَأَ فِي الْمُصْحَفِ وَقَدْ بُلْتُ فَأَبَيْتُ، فَلَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ
فَقُلْتُ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَحْسَنْتَ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Zakariyyaa : Telah menceritakan kepada kami Abu Rajaa’ : Telah menceritakan
kepada kami Israaiil, dari Abu Hudzail, ia berkata : Aku pernah mendatangi Abu
Raziin, lalu ia menyuruhku membaca mushhaf, padahal aku telah kencing
(dan belum berwudlu), sehingga aku menolaknya. Lalu aku menemui Ibraahiim dan
aku katakan kepadanya perihal tersebut. Ia berkata : “Bagus” [9].
حَدَّثَنَا
هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْخَصِيبِ، قَالا:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ غَالِبٍ أَبِي الْهُذَيْلِ،
قَالَ: أَمَرَنِي أَبُو رُزَيْنٍ أَنْ أَفْتَحَ الْمُصْحَفَ، وَأَنَا عَلَى غَيْرِ
وُضُوءٍ، قَالَ: فَسَأَلْتُ إِبْرَاهِيمَ، فَكَرِهَهُ
Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ishaaq
dan ‘Aliy bin Muhammad bin Abil-Khashiib, mereka berdua berkata : Telah menceritakan
kepada kami Wakii, dari ‘Aliy bin Shaalih, dari Ghaalib Abul-Hudzail, ia
berkata : “Abu Raziin menyuruhku membuka mushhaf padahal aku tidak dalam
keadaan mempunyai wudlu. Lalu aku bertanya kepada Ibraahiim (An-Nakhaa’iy)
(tentang masalah tersebut), dan ia membencinya” [10].
Abu Raziin namanya adalah : Mas’uud bin Maalik, Abu
Raziin Al-Asadiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi mempunyai
keutamaan. Termasuk thabaqah ke-2 (kibaarut-taabi’iin), dan wafat
tahun 85 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim,
Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [11].
حَدَّثَنَا
أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ: " أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَرَى
بَأْسًا أَنْ يَحولَ الرَّجُلُ الْمُصْحَفَ، وَهُوَ غَيْرُ طَاهِرٍ "
Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari
Hisyaam, dari Muhammad (bin Siiriin) : Bahwasannya ia berpendapat tidak mengapa
bagi seorang laki-laki memindahkan mushhaf dalam keadaan tidak suci [12].
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ أَشْعَثَ، عَنِ الْحَسَنِ: " أَنَّهُ
كَانَ لَا يَرَى بِهِ بَأْسًا "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi
‘Adiy, dari Asy’ats, dari Al-Hasan (Al-Bashriy) : Bahwasannya ia berpendapat
tidak mengapa memegang mushhaf dalam keadaan tidak suci [13].
حَدَّثَنَا
حَجَّاجٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ،
أَنَّهُ أَرَادَ أَنْ يَتَّخِذَ مُصْحَفًا، قَالَ: فَأَعْطَاهُ نَصْرَانِيًّا
فَكَتَبَهُ لَهُ
Telah menceritakan kepada kami Hajjaaj, dari
Syu’bah, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Alqamah : Bahwasanya ia ingin
membuat mushhaf. Maka ia mengupah seorang Nashraaniy, lalu ia menuliskan
untuknya [14].
‘Alqamah bin Qais An-Nakhaa’iy; seorang yang tsiqah,
tsabat, faqiih , lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-2 (kibaarut-taabi’iin),
wafat tahun 60 H/70 H di Kuufah. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud,
At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [15].
Tarjih
Setelah melihat dalil dan pendapat yang ada, saya
lebih condong pada pendapat kedua yang membolehkannya dengan alasan :
1. Tentang
ayat :
لا
يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang
disucikan” [QS. Al-Waaqi’ah : 79].
maka, tidak ada pendalilan dalam ayat ini untuk
larangan menyentuh mushhaf (Al-Qur’an) bagi yang tidak suci (dari hadats).
Konteks pendalilan mereka tidak tepat karena Al-Qur’an yang dimaksudkan adalah
Al-Qur’an yang ada di Al-Lauhul-Mahfuudh, sedangkan hamba-hamba yang
disucikan itu maksudnya adalah malaikat. Itu terlihat jelas dari ayat
sebelumnya :
إِنَّهُ
لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ * فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ * لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang
sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (LauhMahfuudh), tidak menyentuhnya
kecuali hamba-hamba yang disucikan” [QS. Al-Waaqi’ah : 77-79].
Juga dalam ayat :
بَلْ
هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ * فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an
yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuudh” [QS. Al-Buruuj : 21-22].
حَدَّثَنِي
إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ، عَنْ حَكِيمٍ، عَنْ
سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ:
" الْكِتَابُ الَّذِي فِي السَّمَاءِ
Telah menceritakan kepadaku Ismaa’iil bin Muusaa,
ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syariik, dari Hakiim, dari Sa’iid
bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman-Nya : ‘Tidak menyentuhnya
kecuali hamba-hamba yang disucikan’ (QS. Al-Waaqi’ah : 79), ia berkata :
“(Yaitu) Kitaab yang ada di langit”[16]
.
حَدَّثَنَا
رَوْحُ بْنُ الْفَرَجِ، قَالَ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عَدِيٍّ، قَالَ:
حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ، فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ: لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ،
قَالَ " الْمَلَائِكَةُ "
Telah menceritakan kepada kami Rauh bin Al-Faraj,
ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin ‘Adiy, ia berkata :
Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari ‘Aashim bin Al-Ahwal, dari
Anas bin Maalik tentang firman-Nya : ‘Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba
yang disucikan’ (QS. Al-Waaqi’ah : 79), ia berkata : “(Maksudnya) ia adalah
para malaikat” [17].
Ath-Thahawiy
rahimahullah menguatkan penafsiran Ibnu ‘Abbaas dan Anas radliyallaahu
‘anhum atas ayat tersebut, karena ayat tersebut merupakan pengkhabaran
(dengan bentuk : laa yamassuhu – dengan rafa’) dari Allah ta’ala
[18].
حَدَّثَنَا
بِشْرٌ، قَالَ: ثَنَا يَزِيدُ، قَالَ: ثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، قَوْلَهُ:
لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ: " ذَاكُمْ عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
فَأَمَّا عِنْدَكُمْ فَيَمَسُّهُ الْمُشْرِكُ النَّجِسُ، وَالْمُنَافِقُ الرِّجِسُ
"
Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata :
Telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepada
kami Sa’iid, dari Qataadah tentang firman-Nya ta’ala : ‘Tidak
menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali hamba-hamba yang disucikan” (QS.
Al-Waaqi’ah : 79), ia berkata : “Itu yang ada di sisi Rabbul-‘Aalamiin.
Adapun yang ada di sisi kalian (di dunia), maka ia disentuh oleh orang musyrik
yang najis dan orang munafiq yang kotor” [19].
2. Tentang
hadits :
عَنْ
أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، قَالَ: فِي كِتَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: " لا يُمَسُّ الْقُرْآنُ إِلا عَلَى طُهْرٍ
"
Dari Abu Bakr bin Hazm, ia berkata : “Dalam kitab
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dituliskan untuk ‘Amru bin Hazm
: ‘Al-Qur’an tidak boleh disentuh kecuali dalam keadaan suci” [20].
maka, yang ia adalah lemah karena mursal.
Adapun yang muttashil hingga pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
tidak shahih sanadnya [21].
Kalaupun dianggap shahih, maka musykil dipahami
dari hadits tersebut larangan menyentuh mushhaf Al-Qur’an, karena di
jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Al-Qur’an belum
dibukukan/dikumpulkan dalam satu mushhaf.
3. Tentang
klaim ijmaa’, maka itu tidak benar karena sebagaimana yang Pembaca
lihat, salaf telah berbeda pendapat dalam masalah ini.
Bahkan Asy-Sya’biy rahimahullah (ulama besar
dari kalangan taabi’iin) membatasi larangan tersebut hanya pada orang
yang berhadats besar.
حَدَّثَنَا
هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْخَصِيبِ، قَالا:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنْ عَامِرٍ،
قَالَ: " مَسَّ الْمُصْحَفَ مَا لَمْ تَكُنْ جُنُبًا "
Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ishaaq
dan ‘Aliy bin Muhammad bin Abil-Khashiib, mereka berdua berkata : Telah
menceritakan kepada kami Wakii’, dari Al-Hasan bin Shaalih, dari Mutharrif,
dari ‘Aamir, ia berkata : “Diperbolehkan menyentuh mushhaf selama tidak
junub” [22].
‘Aamir Asy-Sya’biy hanya mengecualikan larangan
menyentuh mushhaf bagi orang yang berhadats besar (junub) saja. Riwayat
Asy-Sya’biy ini berkesesuaian dengan riwayat berikut :
حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: " سَأَلْتُ عَامِرًا عَنْ
مَسِّ الْمُصْحَفِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ؟ فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari
Israaill, dari Jaabir, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada ‘Aamir tentang
menyentuh mushhaf tanpa berwudlu, lalu ia menjawab : “Tidak mengapa
dengannya” [23].
Adapun beberapa perkataan shahabat, maka masih ada
kemungkinan perkataan itu hanyalah merupakan ta’dhiim (pengagungan)
terhadap Al-Qur’an, bukan larangan. Oleh karena itu, suci merupakan anjuran
saja. Dan diketahui bahwa sebagian salaf sangat menyukai kesucian dalam
berbagai keadaan, di antaranya sebagaimana riwayat :
عَنْ
مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ لا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ إِلا
طَاهِرًا
Dari Maalik, dari Naafi’, ia berkata : “Ibnu ‘Umar
tidak membaca Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci” [24].
أَخْبَرَنَا
أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، أَنَّهُ لَمْ يَرَ ابْنَ
عُمَرَ قَطُّ جَالِسًا إِلا طَاهِرًا
Telah mengkhabarkan kepada kami Usaamah bin Zaid,
ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Naafi’ : Bahwasannya ia tidak pernah
sedikitpun melihat Ibnu ‘Umar duduk kecuali dalam keadaan suci [25].
وَأَخْبَرَنَا
أَحْمَدُ بْنُ قَاسِمِ بْنِ عِيسَى الْمُقْرِئُ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ حُبَابَةَ الْبَغْدَادِيُّ، بِبَغْدَادَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيُّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، ثنا شُعْبَةُ، قَالَ: "
كَانَ قَتَادَةُ لا يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِلا وَهُوَ عَلَى طَهَارَةٍ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Qaasim
bin ‘Iisaa Al-Muqri’ : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Muhammad
bin Hubaabah Al-Baghdaadiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin
Muhammad Al-Baghawiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Ja’d : Telah
menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata : “Qataadah tidak meriwayatkan
hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali ia dalam
keadaan suci” [26]
Dan yang lainnya.
4. Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Dihyah Al-Kalbiy untuk
menyampaikan surat beliau kepada Heraklius yang isinya (di antaranya memuat
ayat Al-Qur’an) :
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى
هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، أَمَّا بَعْدُ،
فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ
أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ
الْأَرِيسِيِّينَ، وَيَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ، أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ
شَيْئًا، وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ،
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا: اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad seorang
hamba Allah dan utusan-Nya, kepada Heraklius penguasa negeri Romawi.
Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du. Masuklah
Islam, niscaya engkau akan selamat, dan Allah akan memberikan pahala kepadamu
dua kali. Jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa kaum
Arisiyyiin. (("Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita
sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan
tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain
Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah,
bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) – QS. Aali
‘Imraan : 64))"[27]
.
Hiraklus yang notabene kafir (yang tentunya tidak
pernah bersuci) boleh menyentuh surat yang diantara isinya adalah ayat
Al-Qur’an, maka orang muslim yang mempunyai hadats lebih boleh lagi.
Jika ada yang berkata :
“Yang diharamkan adalah menyentuh mushhaf Al-Qur’an,
bukan menyentuh kertas yang berisi sebagian ayat saja”.
Dijawab :
Tidak ada beda antara yang ini dan yang itu jika ‘illat larangannya
adalah adanya hadats. Satu bendel kertas kosong tidak mempunyai hukum
apa-apa, kecuali setelah di dalamnya ditulisi ayat Al-Qur’an. Jika ditulis
semua ayat Al-Qur’an, maka satu bendel kertas tadi dinamakan mushhaf Al-Qur’an.
Kalaulah seandainya satu bendel kertas semuanya telah selesai ditulis, kecuali
dua ayat terakhir, apakah mereka berpendapat orang yang berhadats menjadi boleh
menyentuh/memegangnya ?. Bagaimana halnya jika sepertiga atau separuh belum
selesai, apakah setengah atau duapertiga Al-Qur’an yang telah selesai ditulis
tersebut boleh disentuh/dipegang oleh orang yang berhadats ?. Lantas, bagaimana
memegang kertas yang berisi satu juz dari ayat Al-Qur’an atau hanya satu surat
?. [28]
Bagaimana jika mushhaf tersebut tercampuri tulisan-tulisan selain
ayat Al-Qur’an ?. Sedikit ? Banyak ? atau separuhnya ? atau separuh lebih
sedikit ?.
5. Anak
kecil boleh memegang mushhaf meski mempunyai hadats tanpa adanya
pengingkaran dari mereka. Hal ini menunjukkan larangan menyentuh mushhaf Al-Qur’an
bukan karena keberadaan hadats.
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
lihat : abul-jauzaa.blogspot.com
[1] Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 1/341-342 no. 1328,
Al-Faakihiy dalam Akhbaar Makkah no. 2923, dan Al-Qaasim bin Sallaam
dalam Fadlaailul-Qur’aan 2/239 no. 91
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/361 (5/138) no.
7506; shahih
[3] Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy no. 443; shahih
[4] Diriwayatkan oleh Maalik 1/297-298 no. 59, dan
darinya Al-Mundziriy dalam Al-Ausath no. 86 dan Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif
hal. 635 no. 733; shahih
[5] Diriwayatkan Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif
hal 639 no. 740; shahih
[6] Al-Mughniy, 1/256
[7] Fathul-Baariy, 2/81
[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif
hal. 645-646 no. 760; shahih
[9] Diriwayatkan Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif
hal. 639-640 no. 741
[10] Diriwayatkan Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif
hal. 640 no. 742; shahih. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah 2/361 (5/138)
no. 7505
[11] Taqriibut-Tahdziib, hal. 936 no. 6656
[12] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/361 (5/138) no.
7504; shahih
[13] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 7499; shahih.
Diriwayatkan juga oleh Al-Qaasim bin Sallaam dalam Fadlaailul-Qur’aan no.
922
[14] Diriwayatkan oleh Al-Qaasim bin Sallaam dalam Fadlaailul-Qur’aan
no. 332 & 925; shahih. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Daawud hal. 502
no. 388
[15] Taqriibut-Tahdziib, hal. 689 no. 4715
[16] Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya
23/149
[17] Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Ahkaamul-Qur’aan
1/117 no. 140; shahih
[18] Ahkaamul-Qur’aan, 1/118
[19] Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya
23/152; shahih
[20] Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 1/341-342 no. 1328,
Al-Faakihiy dalam Akhbaar Makkah no. 2923, dan Al-Qaasim bin Sallaam
dalam Fadlaailul-Qur’aan 2/239 no. 918
[21] Sanal-Adlwaa' fii Hukmi Massil-Mushhaf, hal.
57-58
[22] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif
hal. 646 no. 761; shahih
[23] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/361 (5/139) no.
7508; sanadnya dla’iif karena Jaabir Al-Ju’fiy
[24] Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 1314; shahih
[25] Diriwayatkan Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhd no.
291; sanadnya hasan
[26] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’
Bayaanil-‘Ilmi wa Fadllihi no. 2393; shahih
[27] Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7
[28] Para ulama yang melarang menyentuh/memegang mushhaf
Al-Qur’an bagi orang yang berhadats/tidak suci telah berselisih pendapat
tentang hukum menyentuh sebagian juz Al-Qur’an (tidak satu mushhaf penuh).
Madzhab Maalikiyyah membolehkan menyentuh sebagian juz Al-Qur’an dalam rangka
pengajaran
Label:
FIQIH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar