Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Rabu, 10 September 2014
Adalah
kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri jika umat islam pada zaman ini telah
berpecah belah dan terkotak-kotak, setiap kelompok merasa bangga dengan apa
yang ada pada mereka.
Padahal
Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya memerintahkan kita untuk membuang
perpecahan, dan bersatu padu diatas tali-Nya
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا
وَلاَ تَفَرَّقُوْا
“ Dan berpeganglah
kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai “. (QS Ali Imran : 103).
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata :” Allah memerintahkan untuk bersatu dan melarang berpecah
belah. Banyak hadits yang melarang berpecah belah dan menyuruh bersatu
sebagaimana dalam sahih Muslim, Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Sesungguhnya Allah
rela untuk kalian tiga perkara …..(diantaranya disebutkan) : dan agar kalian
berpegang dengan tali Allah dan tidak berpecah belah “. [1].
Allah
Ta’ala juga menyebutkan bahwa perpecahan adalah sifat orang
yang tidak mendapat rahmatNya. Firman Allah ta’ala :
وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِيْنَ إِلاَّ
مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ
“ Dan mereka
senantiasa berselisih kecuali orang yang Allah rahmati…”. (Hud : 118-119).
Abu Muhammad
bin Hazm berkata :” Allah mengecualikan orang yang dirahmati dari himpunan
orang-orang yang berselisih “. [2].
Imam Malik
berkata :” orang-orang yang dirahmati tidak akan berpecah belah “. (idem).
Syeikhul
islam Ibnu Taimiyah berkata :” Allah mengabarkan bahwa orang yang diberikan
rahmat tidak akan berpecah belah, mereka adalah pengikut para nabi baik
perkataan maupun perbuatan, mereka adalah ahli Al Qur’an dan hadits dari umat
ini, barang siapa yang menyalahi mereka akan hilang rahmat tersebut darinya
sesuai dengan kadar penyimpangannya “. [3].
Firman Allah Ta’ala :
وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ
تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ
لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“ Janganlah kamu
seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih
setelah datang kepada mereka keterangan. Dan bagi mereka adzab yang pedih “. (Ali Imran : 105).
Al Muzany
rahimahullah berkata :” Allah mencela perpecahan, dan memerintahkan untuk
kembali kepada al qur’an dan sunnah, kalaulah perpecahan itu termasuk dari
agamaNya tentu Dia tak akan mencelanya, kalaulah perselisihan itu termasuk dari
hukumNya, tentu Allah tidak menyuruh untuk kembali kepada Al Qur’an dan sunnah
“. [4].
Dalil –
dalil tersebut diatas sudah cukup menunjukkan bahwa islam mencela dan membenci
perpecahan serta menganjurkan persatuan.
Hadits tentang perpecahan umat.
Mungkin
diantara kita ada yang bertanya-tanya :” Bukankah Nabi Sallallahu ‘alaihi
wasallam telah mengabarkan bahwa umat islam ini akan berpecah belah ?”
Jawabannya
adalah ; tidak ada bedanya antara perpecahan dengan maksiat, maksudnya bahwa
Allah menghendaki adanya maksiat tapi bukan untuk dilaksanakan tapi untuk
dijauhi, Nabi juga mengabarkan bahwa nanti akan datang suatu zaman dimana
arak akan dinamai dengan bukan nama sebenarnya, hal tersebut
tidak menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut, demikian pula perpecahan. Nabi
mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah, akan tetapi hal tersebut tidak
menunjukkan boleh dilakukan.
Abu Muhammad
bin Hazm rahimahullah berkata :” Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa perpecahan
bukan dari sisiNya, maknanya bahwa Allah tidak meridloinya, tapi Allah
menghendaki keberadaanya hanya sebatas iradah kauniyyah saja, sama seperti
Allah menghendaki adanya kekufuran dan seluruh maksiat “. [5].
Makna persatuan.
sebagian
kaum muslimin memandang persatuan sebagai sesuatu yang harus dikedepankan dari
mengingkari bid’ah yang mereka anggap parsial, sehingga akibatnya bid’ah
didiamkan dan semakin merajalela, sedangkan sunnah menjadi semakin redup, maka
perlu kiranya kita sedikit mengupas seputar persatuan.
Persatuan
dalam pandangan islam tidaklah sama dengan persatuan ala demokrasi yang lebih
mementingkan persatuan badan dan tidak memperhatikan keyakinan, demokrasi
memandang bahwa jumlah mayoritaslah yang harus dijadikan pegangan, walaupun
ternyata pendapat mayoritas tersebut berseberangan dengan al qur’an dan sunnah,
pemahaman inilah yang banyak menghinggapi pemikiran kaum muslimin, sehingga
orang yang tidak mau mengikuti mayoritas dianggap telah
memecah belah umat.
Untuk
memahami makna persatuan, perlu kita melihat beberapa pertanyaan berikut :
Diatas apa kita bersatu ?
Diatas apa kita bersatu ?
Untuk tujuan
apa kita bersatu ?
Dan apa
tolak ukur persatuan ?
Untuk
menjawab pertanyaan pertama, cobalah kita renungkan ayat berikut ini :
وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا
فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ
“ Dan inilah
jalanku yang lurus, maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan lainnya,
niscaya (jalan-jalan lain tersebut) memecah belah kalian dari jalannya…”. (Al
An’am : 153).
Dalam sebuah
hadits sahih Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis lurus dan
bersabda :” ini adalah jalan yang lurus “. Kemudian beliau membuat garis-garis
disamping kiri dan kanannya dan bersabda :” ini adalah jalan-jalan lainnya,
disetiap jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya “. Kemudian beliau membaca
ayat tadi diatas. (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu Mas’ud). Imam Mujahid
seorang ahli tafsir di zaman Tabi’in menerangkan bahwa yang dimaksud dengan
jalan-jalan lainnya adalah bid’ah dan Syubhat [6].
Ayat ini
sangat jelas menyatakan bahwa persatuan haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan
yang lurus. Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rosulullah dan para
sahabatnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits hasan ketika Nabi
Sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah
menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka, beliau
menjelaskan tentang satu golongan yang selamat tersebut yaitu :” apa-apa
yang dipegang olehku dan para sahabatku pada hari ini “.
Jadi
persatuan dalam islam maknanya bersatu diatas jalan Rosulullah dan para
sahabatnya dan perpecahan maknanya berpecah dari jalan tersebut. Maka siapa
saja yang berjalan diatas jalan yang lurus yaitu jalannya Rosulullah dan para
sahabatnya maka ia telah bersatu padu walaupun jumlahnya sedikit, dan siapa
saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya maka
ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak. Ibnu Mas’ud radliyallahu
‘anhu berkata :” Al Jama’ah adalah al haq (kebenaran) walaupun engkau satu
orang “.
Dalam ayat
lain Allah Ta’ala berfirman :
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا
وَلاَ تَفَرَّقُوْا
“ Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai
“. (QS Ali Imran : 103).
Dalam ayat
ini, Allah menyuruh kita untuk bersatu memegang talinya sedangkan Tali Allah
adalah agamaNya, dan agama Allah adalah yang Allah turunkan kepada RosulNya di
dalam Al Qur’an dan Sunnah, kemudian Allah melarang kita bercerai berai, hal
ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mau mengikuti agamaNya sesuai dengan
yang diturunkan kepada rosulNya berarti ia telah bercerai berai.
Tujuan persatuan dan tolok ukurnya
Setelah kita
menjawab pertanyaan pertama, maka mudah untuk menjawab pertanyaan selanjutnya,
yaitu untuk tujuan apa kita bersatu dan apa tolak ukurnya ?
Jawabannya
yaitu untuk meninggikan agama Allah dengan cara berpegang kepadanya, bukan
meninggikan madzhab anu, partai anu, kiyai atau ustadz fulan karena hal itu
hanya akan mencerai beraikan kaum muslimin dan menjadi
terkotak-kotak, dan inilah yang dimaksud ayat :
وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ
مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا
لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
“ Dan
janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang
memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap
kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka “. (Ar-Rum : 31-32).
Di dalam At
Tafsiirul muyassar (hal 407) diterangkan makna ayat tersebut :” (maksudnya)
janganlah kalian seperti kaum musyrikin, ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu
yang merubah-rubah agama, mereka mengambil sebagian agama dan meninggalkan
sebagian lainnya karena mengikuti hawa nafsu, sehingga merekapun
berkelompok-kelompok (hizbiy) karena mengikuti dan membela tokoh dan pendapat
kelompok mereka, sebagian mereka membantu sebagian lainnya didalam kebatilan…”.
Dari sinipun
kita dapat mengetahui bahwa tolak ukur persatuan adalah al qur’an, sunnah dan
pemahaman sahabat bukan pendapat mayoritas, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ
فَرُدُّوْهُ إِلىَ اللهِ وَالرَّسُوْلِ
“ Jika
kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan
RosulNya…(An Nisa : 59).
Kalaulah
pendapat terbanyak itu merupakan tolak ukur dalam perselisihan tentu Allah
tidak akan menyuruh untuk kembali kepada al qur’an dan sunnah.
Adapun
hadits yang sering didengungkan oleh sebagian orang عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ “ Hendaklah
kamu berpegang kepada assawadul a’dzom “. Ia adalah hadits yang lemah menurut para ahli hadits, semua
jalannya tidak lepas dari kelemahan, kalaupun dikatakan shohih maka yang
dimaksud assawadul a’dzom dalam hadits tersebut adalah al haq dan pelakunya
sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al Barbahari dalam kitab syarhussunnah
yaitu para shohabat,tabi’in dan tabi’uttabi’in karena kebenaran pada zaman itu
mayoritas jumlahnya.
Banyaknya pengikut bukan bukti kebenaran
Seringkali kita tertipu dengan jumlah banyak, sehingga banyak manusia menganggap bahwa banyaknya pengikut merupakan bukti kebenaran, padahal opini tersebut telah dibantah oleh Al Qur’an dalam ayat-ayat yang banyak, diantaranya firman Allah Ta’ala :
Banyaknya pengikut bukan bukti kebenaran
Seringkali kita tertipu dengan jumlah banyak, sehingga banyak manusia menganggap bahwa banyaknya pengikut merupakan bukti kebenaran, padahal opini tersebut telah dibantah oleh Al Qur’an dalam ayat-ayat yang banyak, diantaranya firman Allah Ta’ala :
وَ ِإْن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي
الأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ
“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi Ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah “. (Al An’am : 116).
Ayat ini
begitu jelas menyatakan bahwa banyaknya jumlah bukan standar dalam menilai
sebuah kebenaran. Lebih jelas lagi disebutkan dalam sebuah hadits yang
sahih Rasulullah saw Bersabda :” diperlihatkan kepadaku
umat-umat pada hari kiamat, maka aku melihat ada nabi yang diikuti suatu kaum,
ada nabi yang diikuti seorang atau dua orang dan ada nabi yang tidak mempunyai
pengikut sama sekali…(HR Bukhary dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas).
Dalam hadits
tersebut diceritakan adanya nabi yang pengikutnya seorang atau dua orang saja
bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali, tentu tidak boleh
seorang muslimpun mengatakan bahwa nabi tersebut salah karena pengikutnya
sedikit !!
Oleh karena
itu Syeikh Muhammad At Tamimiy menyatakan bahwa menilai kebenaran dengan jumlah
terbanyak adalah salah satu perkara jahiliyyah [7].
Persatuan ala yahudi.
Dalam surat
Al Hasyr : 14 disebutkan :
تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُمْ
شَتَّى
“ Kamu
kira mereka (yahudi) itu bersatu padu padahal hati mereka bercerai berai “.
Dalam ayat
tersebut dijelaskan bahwa orang yahudi badannya bersatu padu tapi hatinya
bercerai berai. Maka persatuan yang hanya mengutamakan kesatuan badan
dan tidak peduli terhadap kesatuan aqidah adalah menyerupai
persatuan yahudi, karena aqidah tempatnya adalah hati.
Maka
persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menerangkan aqidah yang
benar dari aqidah yang batil. Bahkan persatuan tersebut sama saja menghancurkan
sebuah pondasi islam yang sangat penting yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.
Menjelaskan kesalahan adalah wajib.
Sebagian
orang ada yang beranggapan bahwa apabila kita menjelaskan kesalahan suatu
kelompok atau seseorang sama saja memecah belah umat. Padahal kemashlahatan
menyelamatkan umat dari bahaya pemikiran sesat lebih besar, karena jika
kebatilan itu dibiarkan maka akan semakin samarlah kebenaran kepada manusia.
Ibnu
Taimiyah berkata :” para nabi terlindung dari diam untuk mengingkari kesalahan,
berbeda dengan ulama. Oleh karena itu selayaknya bahkan wajib hukumnya
menerangkan kebenaran yang wajib diikuti, walaupun konskwensinya harus
menerangkan kesalahan ulama “. [8].
Maka jika
anda mendengar seseorang menjelaskan tentang kesesatan suatu jama’ah atau
individu, tentunya dengan bukti-bukti akurat dan ilmiyyah, janganlah menggapnya
sebagai pemecah belah umat, karena telah kita ketahui tadi bahwa justru
kesesatanlah yang memecah belah umat dari jalan yang lurus.
Perselisihan
yang terjadi akibat bantahan lebih ringan dari pada tersebarnya bid’ah dan
kesalahan.
Imam Asy
Syathiby ketika membantah sebagian ahli bid’ah berkata :” orang-orang
seperti mereka haruslah disebut dan diingkari, karena kerusakan (bid’ah) mereka
terhadap kaum muslimin lebih besar dari kerusakan menyebut (nama) mereka…”. [9].
Kaidah fiqih
pun menguatkan hal itu yaitu :” apabila bertemu dua kerusakan maka diambil yang
paling ringan dari keduanya “. Maksudnya perselisihan yang terjadi akibat
bantahan lebih ringan kerusakannya dari tersebarnya kesesatan orang tersebut.
tapi kita
harus tetap berpegang kepada adab islami dalam menjelaskan kesalahan
orang seperti menjauhi kata-kata kasar dan sikap arogan.
Peringatan …!!!
Ada sebagian
orang yang mempunyai pemahaman yang harus diluruskan, yaitu ketika kita
menyebutkan kesesatan seseorang atau sebuah kelompok berarti kita telah
memastikannya sebagai ahli neraka. Ini adalah dugaan yang sangat jauh dari
ilmu, karena diantara keyakinan ahlussunnah bahwa tidak boleh kita memastikan
seorangpun dari ahli kiblat sebagai penduduk api neraka kecuali dengan dalil
dari al qur’an dan hadits.
Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata dalam majmu’ fatawa (4/484) :” Nash-nash ancaman
bersifat umum, maka tidak boleh kita memastikan seseorang sebagai penduduk api
neraka, karena boleh jadi ada penghalang yang kuat seperti taubat, atau
kebaikan yang dapat menghapus kesalahan, atau mushibah yang menimpanya, atau
syafa’at yang diterima untuknya atau yang lainnya “.
Harus engkau
bedakan antara memvonis orang sesat dengan vonis sebagai ahli neraka, karena
yang pertama adalah vonis di dunia yang bersandarkan pada sesuatu yang tampak,
sedangkan yang kedua adalah vonis di akhirat yang merupakan hak tunggal bagi
Allah saja.
Permisalan yang indah
Dalam sebuah
hadits Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ
وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكىَ مِنْهُ عُضْوٌ تًَدَاعَى
سَائِرُ الجَسَدِ.
“ Permisalan
kaum mukminin dalam cinta dan kasih sayang mereka bagaikan satu jasad, apabila
salah satu anggota merasa sakit, maka seluruh badan merasakannya “. [10].
Bid’ah dan
kesesatan adalah penyakit yang menimpa umat ini, kita harus merasa sakit bila
ada orang melakukannya, tentu dengan mencari obatnya yang mujarab yaitu sunnah.
Nabi
menyebutkan “ dalam cinta dan kasih sayang” seseorang dikatakan sayang kepada
saudaranya adalah bila ia menginginkan untuknya kebaikan bagi dunia dan
akhiratnya. Maka bila kita melihat seseorang hendak jatuh kedalam jurang
tentulah kita tidak boleh membiarkanya, tapi kita selamatkan dia. sebaliknya
bila anda diam dan membiarkannya jatuh kedalam jurang berarti anda telah
berbuat zalim dan kehilangan kasih sayang.
Kemaksiatan
baik berupa syirik, bid’ah, khurofat dan lain-lain dapat menjerumuskan pelakunya
ke dalam api neraka, bila kita biarkan pelakunya tanpa diberi nasehat berarti
kita telah kehilangan kasih sayang kepada saudara kita sesama muslim.
Bagai bangunan yang kokoh
Dalam hadits
lain, nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan persatuan umat islam bak
sebuah bangunan kokoh yang saling menguatkan satu sama lainnya [11].
Sebuah
bangunan tentu harus mempunyai pondasi yang kuat, dan pondasi itu adalah aqidah
yang benar. Tiang bangunan tersebut adalah amar ma’ruf nahi mungkar, karena
bila kemungkaran dibiarkan merajalela akan robohlah bangunan itu. Dan atapnya
adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.
Akan tetapi
ada seorang da’i yang memahami hadits itu dengan pemahaman yang aneh, katanya
bangunan itu terdiri dari batu, semen, pasir maka bila direkatkan akan
membentuk sebuah bangunan yang kokoh, batu itu ia ibaratkan kelompok keras,
semen kelompok lembut dan pasir bagaikan kelompok tengah-tengah, kalau semua
kelompok itu semuanya direkatkan tentu akan menjadi sebuah bangunan yang kokoh.
Kita
katakan, sungguh benar apa yang bapak katakan, akan tetapi merekatkan
kelompok-kelompok yang ada dalam tubuh umat islam dengan apa ?? apakah dengan
cara mendiamkan penyimpangan-penyimpangan yang ada ataukah dengan cara saling
menasehati dan rujuk kepada kebenaran ? bila masing-masing kelompok mau kembali
kepada Al qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah tentu
bangunan itu akan sangat kuat merekat. Adapun kita biarkan kesyirikan, khurofat
dan tahayyul merajalela, perdukunan, bid’ah dan maksiat berkuasa maka tidak
akan dapat mengokohkan bangunan itu selama-lamanya bahkan akan membuatnya
hancur berkeping-keping.
Dosa
penyebab perpecahan.
Rasululah
Sallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
مَا تَوَادَّ اثنَانِ فِي اللهِ ثُمَّ
يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إلاَّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا.
“ Tidaklah
dua orang yang tadinya saling mencintai karena Allah kemudian berpisah kecuali
disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah satunya “. [12].
Imam Qatadah
berkata :” Ahli rahmat Allah adalah ahli persatuan walaupun rumah dan badannya
berjauhan, dan ahli maksiat adalah ahli perpecahan walaupun rumah dan badan
mereka berkumpul “. [13].
Jadi untuk
mewujudkan persatuan hendaknya kita jauhi sebab utama perpecahan yaitu dosa,
yang paling besar adalah syirik, lalu bid’ah kemudian maksiat.
dari cintasunnah.com
Label:
AQIDAH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar