Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Blog Archive

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive

About Me

Rabu, 17 September 2014



الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينً

“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maa`idah : 3)



Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala-telah menjelaskan jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim,Allah berfirman:
وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا,واتقوالله إن الله شديد العقاب


“Apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul maka terimalah dia,dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah,dan bertakwalah kepada Allah,sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya”(QS.al-Hasyr:7).

ومن يعص الله ورسوله ويتعد حدوده يدخله نارا خالدا فيها وله عذاب مهين

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan”(QS.an-Nisa:14).



Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:


إني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة نبيه

“Sungguh saya telah tinggalkan pada kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh dengan kedua kalian tidak akan tersesat,al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya” [1]


Dari dalil-dalil di atas kita bisa menyimpulkan bahwa seorang belum bisa disebut muslim hakiki kecuali apabila berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah dalam segala sisi kehidupannya, baik dalam masalah aqidah, fiqih, mu’amalah, do’a, dzikir dan seterusnya, mereka wajib mendahulukan al-Qur’an dan Sunnah atas perkataan manusia siapapun dia, jika perkataan itu bertentangan dengan keduanya.
 

Maka seorang muslim sejati wajib menerima syari’at islam ini secara menyeluruh,tidak membedakan antara perkara kecil dan besar, karena Islam adalah satu kesatuan yang tidak mungkin terpisah-pisah, perkara kecil menurut sebagian orang akan tetapi itu adalah perkara besar menurut kaca mata syari’at Allah berfirman terkait peristiwa Ifiq:


وتحسبونه هينا وهو عند الله عظيم

“Engkau mengira itu perkara enteng, padahal di sisi Allah itu adalah perkara besar”(an-Nur:15).



Allah-ta’ala-berfirman:


ياأيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam agama Islam ini secarakeseluruhannya”(al-Baqarah:208).



Ibnu Katsir as-Syafi’I berkata dalam menafsirkan ayat yang mulia ini:



“Allah berfirman seraya memerintahkan para hamba-Nya kaum mukminin, yang membenarkan Rasul-Nya,supaya mereka mengambil semua syari’at ini secara keseluruhannya, mengamalkan segala perintah-perintahnya, meninggalkan semua larangan-larangannya sekuat tenaga mereka” [2]



Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

تر كتكم على مثل البيضاء، ليلهار ها، لا يزيغ عنها هالك

“Aku meninggalkan kepada kalian dalam keadaan putih terang benderang, yang malamnya bagaikan siangnya. Tidaklah ada seorang pun yang berpaling darinya melainkan ia pasti binasa.”



Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as- Sunnah (48) dari al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga meriwayatkannya (47) dari hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.



Di dalam Shahih Muslim (262) dari Salman beliau berkata :

فيل له : قد عليكم نبيكم صلى الله عليه و سلم كل شيء حتى الخراءة، قال: أجل لقد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط أو بول، أو أن نستنجي باليمين، أو أن نستنجي بأقل من ثلاثه أحجار، أوأن نستنجي بر جيع أو بعظم

“Orang kaf ir berkata kepada beliau : Apakah nabimu Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kepadamu segala sesuatunya sampai-sampai juga di dalam masalah buang air? Salman menjawab : Benar sekali! Beliau telah melarang kami dari menghadap kiblat ketika sedang buang air besar atau kecil, atau melarang dari bercebok dengan tangan kanan, atau melarang kami dari bercebok dengan batu yang kurang dari tiga buah, atau melarang kami bercebok dengan kotoran dan tulang belulang.” Hadits ini menunjukkan akan kesempurnaan syariat dan mencakup semua hal yang diperlukan oleh umat ini, sampaisampai di dalam masalah buang hajat sekalipun.



Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata :


تر كنا رسول الله صلى الله عليهو سلم وما طائر يطير بجنا حيه إلا عندنا منه علم

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meninggalkan kita dan tidaklah seekor burung yang terbang mengepakkan kedua sayapnya melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Dikeluarkan oleh Abu Hatim Ibnu Hibban di dalam shahih-nya (65), dan beliau berkata :

معنى {عندنا منه} يعني بأوامره ونو اهيه وأخباره وأفعاله وإباحته صلى الله عليه و سلم

“Arti ‘telah diterangkan oleh beliau kepada kami’ yaitu menerangkan perintah-perintahnya, larangan-larangannya, berita-beritanya, perbuatan-perbuatannya dan pembolehanpembolehannya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”  

Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih Mawarid azh-Zham`aan f i Zawa`idi Ibni Hibban karya al-Haitsami (I/119).

Pensyari’atan jenggot dalam Islam adalah khusus bagi laki-laki (bukan pada wanita) dan bagi mereka yang memang Allah karuniai jenggot yang tumbuh di pipi dan dagunya [3]. Jika memang seseorang yang ”dari sananya” tidak tumbuh jenggot, tentu tidak dikenai kewajiban (memelihara) jenggot. Allah telah berfirman :

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” [QS. Al-Baqarah : 286].

Jenggot dalam bahasa Arab disebut Al-Lihyah (اَللِّحْيَةُ). Al-Fairuz Abadi berkata tentang definisi dari Al-Lihyah : {شعْرُ الخدَّيْن و الذَّقنِ} ”rambut (yang tumbuh) di kedua pipi dan dagu” [4].

Hal yang sama dinukil dari Ibnu Mandhur dalam Lisaanul-’Arab : { اسم يجمع من الشعر ما نبت على الخدّين والذقَن } ”nama bagi semua rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu”.

Perintah Nabi Agar Memelihara Jenggot



Banyak sekali hadits yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot, diantaranya:


Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب

”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis” [5]


Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى

”Potonglah kumis kalian dan peliharalah jenggot” [6]


Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انهكوا الشوارب وأعفوا اللحى

”Potong sampai habis kumis kalian dan peliharalah jenggot” [7]


Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس

”Potong/cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah jenggot. Selisilah oleh kalian kaum Majusi” [8]

إن أهل الشرك يعفون شواربهم ويحفون لحاهم فخالفوهم فاعفوا اللحى وأحفوا الشوارب

Sesungguhnya orang musyrik itu membiarkan kumis mereka lebat. Maka selisihilah mereka ! Peliharalah jenggot dan potonglah kumis kalian” [9]

عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أمر بإحفاء الشوارب وإعفاء اللحية

Dari Ibnu ’Umar, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Bahwasannya beliau memerintahkan untuk memotong kumis dan memelihara jenggot” [10]


Menurut kaidah ushul-fiqh, semua lafadh yang mengandung perintah menunjukkan makna wajib kecuali ada dalil yang memalingkannya [11] Menurut mereka, tidak ada dalil shahih, sharih (jelas), lagi setara yang memalingkan dari kewajiban ini.


Di samping hadits-hadits yang menggunakan kata perintah di atas, memelihara jenggot juga merupakan sunnah fithroh. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” [12]


Jika seseorang mencukur jenggot, berarti dia telah keluar dari fitroh yang telah Allah fitrohkan bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada penggantian pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30] : 30)


As-Suyuty as-Syafi’I berkata:”Perkataan yang paling bagus tentang pengertian Fithrah ini adalah perilaku yang sudah ada sejak dulu yang dipilih oleh para Nabi, di mana seluruh syari’at telah sepakat tentangnya, seolah-olah perkara itu merupakan perkara alami dan lumrah” [13]Ibnul Atsir berkata:”al-Fithrah yaitu sunnah, tepatnya sunnah para Nabi yang kita diperintah untuk mencontohnya [14]


Selain dalil-dalil di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat tidak suka melihat orang yang jenggotnya dalam keadaan tercukur.

وقد روى ابن سعد والبيهقي وأحمد وغيرهم بأسانيد عن جمع من الصحابة دخل حديث بعضهم في حديث بعض،قالو ا:

Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hambal, al-Baihaqi dan yang lainnya telah meriwayatkan melalui beberapa sanad dari sekelompok Shahabat Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mana hadits-hadits mereka saling mendukung, mereka (Para Shahabat) berkata,

 وبعث رسول لله عبد لله بن حذافة السهمي، وهو أحد الستة، إلى كسرى يدعوه إلى الإسلام و كتب معه كتابا، قال عبد الله

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus ‘Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi keppada Raja Persia, mengajaknya untuk memeluk agama Islam dengan membawa sepucuk surat dari beliau. Dia (‘Abdullah) berkata ;

:(( فدفعت إليه كتاب رسول الله، ثم أخذه فمزقه، فلما بلغ ذلك رسـول الله قال: ( الله م مزق ملكه ))،

“Maka kuserahkan kepadanya surat Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia mengambil dan merobek-robeknya. Ketika berita itu sampai kepada Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda,”Ya Allah, hancurkanlah kerajaanya.”[15]

 و كتب كسرى إلى باذان عامله على اليمن أن ابعث من عندك رجلين جلدين إلى هذا الر جل الذي با لحجاز فليأتيانى بخبره، فبعث بـاذان قهر مان ورجلا آخر، و كتب معهما كتابا، فقد ما المدينـة، فدفعا كتاب باذان إلى النبي ، فتبسم رسـول لله ودعاهما إلى الإ سلم وفر ائصهما ترعد،

Kemudian Raja Persia (Kisra) menulis surat kepada Badzan – gurbernurnya di Yaman – mengistruksikan agar Badzan mengutus dua orang yang berada di negeri Hijaz tersebut (yaitu kepada nRasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) lalu kembali kepadanya untuk memberitakan tentang orang tersebut. Maka Badzan mengutus seseorang teman lain yang menyertainya, dan ia menulis sepucuk surat yang di bawa oleh keduanya. Setibanya di Madinah, mereka menyerahkan surat Badzan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau tersenyum dan mengajak mereka kepada Islam sedang mereka gemetar ketakutan.

وفي رواية: فلما رأى شواربهما مفتولة وخدودهما محلوقة، أشـاح عنـهما وقال:(( ويحكما من أمر كما بهذا)) قالا: أمرناربنـا ـ يعنيان كسرى ـ فقال النبي :

Dalam sebuah riwayat berbunyi,”Tatkala beliau melihat kumis mereka terpintal dan membentuk sebuah lingkaran pada pipi-pipi mereka, maka beliau berpaling dari keduanya dan berkata;”Celaka kalian! Siapakah yang perintahkan kalian berbuat demikian?’ mereka menjawab;’Kami diperintahkan oleh tuhan kami (maksud mereka, raja persia)’. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 (( ولكني أمرني ربي وعزاوجل أن أعفـي لحـيتي وأن أحفـي شـاربي ))،

‘Akan tetapi aku diperintahkan oleh Rabbku untuk membiarkan jenggotku lebat  dan panjang serta memotong (menipiskan) kumisku.’

 وقـال: (( ارجعا عني يومكما هذا حتى تأتياني الغد فأخبر كما نما أر يــد))، فجــاءاه من الغد فقال لهما:

Kemudian beliau berkata;”Pergilah kalian pada hari ini hingga esok hari kalian dating kepadaku, aku akan mengabarkan kepada kalian apa yang aku kehendaki.”


Keesokan harinya mereka dating, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada mereka:

 (( أبلغا صا حبكما أن ربي قد قتل ربه كسرى في هذه الليلة ))، فو جدوه كما قال.

‘Sampaikanlah kepada teman kamu(Badzan) bahwa Rabbku telah membunuh tuhannya (yaitu) sang Kisra (Raja Persia itu) tadi malam,’maka mereka mendapatinya seperti apa yang dikatakan oleh beliau.” [16]


Lihatlah saudaraku, dari dalil-dalil yang ada dapat dilihat bahwasanya memelihara jenggot dan memendekkan kumis adalah suatu yang wajib dan bukanlah mustahab yaitu sekedar anjuran. Dalam hadits yang telah kami bawakan menunjukkan bahwa memelihara jenggot adalah suatu perintah dan berarti wajib. Juga hal ini dilakukan untuk menyelisihi orang-orang musyrik dan Majusi serta perbuatan ini adalah fithroh manusia yang dilarang untuk diubah.


Berdasar hadits-hadits di atas, memelihara jenggot tidak selalu Nabi kaitkan dengan menyelisihi orang kafir. Hanya dalam beberapa hadits namun tidak semua, Nabi kaitkan dengan menyelisihi Musyrikin dan Majusi. Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa perintah memelihara jenggot dikaitkan dengan menyelisihi Yahudi.


Namun sebaliknya, kaum muslimin saat ini (entah karena belum tahu atau sudah tahu namun mengabaikan karena masih menganggap hanya sekedar anjuran) dalam kesehariannya malah melakukan hal sebaliknya yaitu memanjangkan kumis dan memotong habis jenggot.


Sebenarnya sudah cukup, bagi insan muslim yang inshof, untuk menerima kesimpulan wajibnya memanjangkan jenggot ini, dengan berdasar pada dalil Al-Quran, Hadits, dan Ijma’ yang kami sebutkan.


Namun, bila ada yang masih ragu dengan kesimpulan ini, mari kita lihat:


Perkataan Ulama Terdahulu Dalam Masalah Ini


MADZHAB HANAFI
يحرم على الرجل قطع لحيته (الدر المختار407/ 6)

Diharamkan bagi pria memotong jenggotnya. [17]

ولا يأخذ من لحيته شيئا لأنه مُثْلة (البحر الرائق 372 / 2 )

Tidak boleh baginya memangkas jenggotnya, karena itu termasuk mutslah. [18]

وأما الأخذ منها وهي دون ذلك كما يفعله بعض المغاربة ومخنثه الرجال فلم يبحه أحد (فتح القدير 370 /4) (حاشية ابن عابدين 418 /2  )

Adapun memangkas jenggot yang panjangnya kurang dari genggaman tangan, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang Maroko dan para banci, maka tidak ada seorang pun yang membolehkannya. [19].


MADZHAB MALIKI

فلا يجوز حلقُها، ولا نتفُها، ولا قص الكثير منها (المفهم للقرطبي 512 /1 )


Maka tidak boleh mencukur jenggot, tidak boleh mencabutinya, dan tidak boleh pula memangkas sebagian besarnya.  [20]

ويحرم على الرجل حلق اللحية (منح الجليل82/1 )
  
Diharamkan bagi pria mencukur jenggotnya. [21]

وحلق اللحية لا يجوز (مواهب الجليل 313 /1 )

Menggundul jenggot itu tidak diperbolehkan [22]

تنبيه: يحرم على الرجل حلق لحيته (حاشية الدسوقي 90 /1 )

Catatan penting: Diharamkan bagi pria menggundul jenggotnya. [23]

واتفقوا على أن حلق اللحية مثلة لا تجوز (الإقناع في مسائل الإجماع  3953 /2 )

Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya menggundul jenggot, termasuk tindakan mutslah yang tidak diperbolehkan. [24]
 

MADZHAB SYAFI’I

قال الشافعي: ولا يأخذ من شعر رأسه ولا لحيته شيئا لان ذلك إنما يؤخذ زينة أو نسكا (الأم :  640 /2  )

Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan: “Ia (orang yang memandikan mayat) tidak boleh memangkas rambut kepala maupun jenggotnya si mayat, karena kedua rambut itu hanya boleh diambil untuk menghias diri dan ketika ibadah manasik saja”. [25]

وقال أيضا : والحِلاق ليس بجناية لان فيه نسكا في الرأس وليس فيه كثير ألم، وهو -وإن كان في اللحية لا يجوز- فليس كثير ألم ولا ذهاب شعر، لانه يستخلف، ولو استخلف الشعر ناقصا أو لم يستخلف كانت فيه حكومة (الأم  203/ 7)

Imam Syafi’i -rohimahulloh- juga mengatakan: “Menggundul rambut bukanlah kejahatan, karena adanya ibadah dengan menggundul kepala, juga karena tidak adanya rasa sakit yang berlebihan padanya. Tindakan menggundul itu, meski tidak diperbolehkan pada jenggot, namun tidak ada rasa sakit yang berlebihan padanya, juga tidak menyebabkan hilangnya rambut, karena ia tetap akan tumbuh lagi. Seandainya setelah digundul, ternyata rambut yang tumbuh kurang, atau tidak tumbuh lagi, maka hukumannya adalah hukumah. [26]

قال ابن رفعة : إن الشافعي قد نص في الأم على تحريم حلق اللحية (حاشية العبادي على تحفة المحتاج 376 / 9 )

Ibnu Rif’ah -rohimahulloh- mengatakan: Sungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot. [27]

قال الماوردي : نتف اللحية من السفه الذي ترد به الشهادة (الحاوي الكبير  151 / 17)

Imam al-Mawardi -rohimahulloh- mengatakan: Mencabuti jenggot merupakan perbuatan safah yang menyebabkan persaksian seseorang ditolak. [28]

قال الغزالي: وأما نتفها في أول النبات تشبها بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال (إحياء علوم الدين  257 / 2 )

al-Ghozali mengatakan: Adapun mencabuti jenggot di awal munculnya, agar menyerupai orang yang tidak punya jenggot, maka ini termasuk kemungkaran yang besar, karena jenggot adalah penghias bagi laki-laki.  [29]

قال النووي : والصحيح كراهة الاخذ منها مطلقا بل يتركها على حالها كيف كانت، للحديث الصحيح واعفوا اللحي. وأما الحديث عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده “ان النبي صلي الله عليه وسلم كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها” فرواه الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به (المجموع  343 /1)

Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak, tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohihbiarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan  tidak bisa dijadikan hujjah.[30]

قال النووي : والمختار ترك اللحية على حالها وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلا (شرح صحيح مسلم للنووي, حديث رقم  260)

Imam Nawawi juga mengatakan: Pendapat yang kami pilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali [31]

قال أبو شامه : وقد حدث قوم يحلقون لحاهم, وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونه (فتح الباري  411 / 13)

Abu Syamah -rohimahulloh- mengatakan: Telah datang sekelompok kaum yang menggunduli jenggotnya, perbuatan mereka itu lebih parah dari apa yang dinukil dari kaum Majusi, bahwa mereka dulu memendekkannya. [32]

قال الحليمي الشافعي : لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه, وإن كان له أن يحلق سباله, لأن لحلقه فا ئدة, وهي أن لا يعلق به من دسم الطعام ورائحته ما يكره, بخلاف حلق اللحية, فإنه هجنة وشهرة وتشبه بالنساء, فهو كجب الذكر (الإعلام لابن الملقن 711 /1 )

Al-Hulaimi asy-Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan: Tidak seorang pun dibolehkan memangkas habis jenggotnya, juga alisnya, meski ia boleh memangkas habis kumisnya. Karena memangkas habis kumis ada faedahnya, yakni agar lemak makanan dan bau tidak enaknya tidak tertinggal padanya. Berbeda dengan memangkas habis jenggot, karena itu termasuk tindakan hujnah, syuhroh, dan menyerupai wanita, maka ia seperti menghilangkan kemaluan. [33]


MADZHAB HAMBALI

(وَيُحَرَّمُ ) التَّعْزِيرُ (بِحَلْقِ لِحْيَتِهِ ) لِمَا فِيهِ مِنْ الْمُثْلَةِ  (كشاف القناع  126 / 1 )

Diharamkan memberikan ta’ziran (hukuman) dengan menggundul jenggot, karena adanya unsur mutslah di dalamnya. [34]

وَيَحْرُمُ حَلْقُهَا  ذَكَرَهُ شَيْخُنَا (الفروع 130 /1)

Diharamkan menggundul jenggot, itu disebutkan oleh Syeikh kami. [35]

وَيُعْفِيَ لِحْيَتَهُ ...... وَيَحْرُمُ حَلْقُهَا (الإنصاف  121 /1 )

(Termasuk Sunnah Nabi dalam rambut) adalah dengan membiarkan jenggot panjang… dan haram baginya menggundul jenggotnya.[36]
 
َيُعْفِي لِحْيَتَهُ وَيَحْرُمُ حَلْقُهَا , ذَكَرَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ (دقائق أولي النهى لشرح المنتهى 43 /1)

(Termasuk Sunnah Nabi dalam rambut) adalah dengan membiarkan jenggot panjang dan haram baginya menggundul jenggotnya. Hal ini disebutkan oleh Syeikh Taqiyuddin.[37]

قال السفَّاريني : المعتمد في المذهب حرمة حلق اللحية (غذاء الألباب 334/ 1)

Pendapat yang mu’tamad dalam madzhab (Hambali) adalah haramnya menggundul jenggot. [38]


Para pembaca yang dirahmati Alloh…


Itulah ucapan para ulama dari empat madzhab tentang wajibnya memelihara jenggot, semoga bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi para pembaca… amin… (bersambung… Jenggotnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- )


Khilaf Ulama Dalam Masalah Ini.


Pembicaraan atau khilaf mengenai hukum memelihara jenggot itu secara garis besar terangkum dalam 4 (empat) pendapat masyhur. Namun sebelumnya perlu ditekankan bahwa khilaf ini sebatas pada khilaf terhadap jenggot yang panjangnya melebihi genggaman tangan. Khilaf ini tidak mencakup perbuatan mencukur pendek-pendek atau mencukur habis jenggot, sebab madzhab empat dan selainnya (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Dhahiriyyah) telah sepakat tentang keharamannya. Khilaf tersebut adalah sebagai berikut : [39]



1. Tidak memotong jenggot sama sekali dengan membiarkannya sebagaimana adanya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Asy-Syafi’i dalam satu nukilan (Al-’Iraqi), sebagian ulama Syafi’iyyah, sebagian ulama Hanabilah, dan beberapa ulama yang lainnya.



Pendapat ini berhujjah dengan keumuman hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam :

خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب

”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis” [40].

أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى

”Potonglah kumis kalian dan peliharalah jenggot” [41].

انهكوا الشوارب وأعفوا اللحى

”Potong sampai habis kumis kalian dan peliharalah jenggot” [42].

جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس

”Potong/cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah jenggot. Selisilah oleh kalian kaum Majusi” [43].

إن أهل الشرك يعفون شواربهم ويحفون لحاهم فخالفوهم فاعفوا اللحى وأحفوا الشوارب

”Sesungguhnya orang musyrik itu membiarkan kumis mereka lebat. Maka selisihilah mereka ! Peliharalah jenggot dan potonglah kumis kalian” [44].

عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أمر بإحفاء الشوارب وإعفاء اللحية

Dari Ibnu ’Umar, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Bahwasannya beliau memerintahkan untuk memotong kumis dan memelihara jenggot” [45].



Menurut kaidah ushul-fiqh, semua lafadh yang mengandung perintah menunjukkan makna wajib kecuali ada dalil yang memalingkannya.[46] Menurut mereka, tidak ada dalil shahih, sharih (jelas), lagi setara yang memalingkan dari kewajiban ini.



Ahmad bin Qaasim Al-’Abbaadi Asy-Syafi’i berkata :

قال ابن الرِّفْعة في حاشية الكفاية: إن الإمام الشافعي قد نصَّ في الأم على تحريم حلق اللحية ، وكذلك نصَّ الزَّرْكَشِيُّ والحُلَيْميُّ في شُعَب الإيمان وأستاذُه القَفَّالُ الشاشيُّ في محاسن الشريعة على تحريم حلق اللحية

”Telah berkata Ibnur-Rif’ah dalam kitab Haasyiyah Al-Kifaayah : ’Sesungguhnya Imam Asy-Syafi’i telah menegaskan dalam kitab Al-Umm tentang keharaman mencukur jenggot. Dan begitu pula yang ditegaskan oleh Az-Zarkasyi dan Al-Hulaimi dalam kitab Syu’abul-Iman, dan gurunya (yaitu) Al-Qaffaal Asy-Syaasyi dalam kitab Mahaasinusy-Syar’iyyah atas keharaman mencukur jenggot”[47].



An-Nawawi berkata :
والمختار تركها على حالها, وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلاً

”Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot sebagaimana adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali” [48].



Al-Hafidh Al-’Iraqi berkata :

واستدل الجمهور على أن الأولى ترك اللحية على حالها, وأن لا يقطع منها شيء, وهو قول الشافعي وأصحابه

”Jumhur ulama berkesimpulan pada pendapat pertama untuk membiarkan jenggot sebagaimana adanya, tidak memotongnya sedikitpun. Hal itu merupakan perkataan/pendapat Imam Asy-Syafi’i dan para shahabatnya” [49].



Al-Qurthubi berkata :


لا يجوز حلقها ولا نتفها ولا قصها


”Tidak diperbolehkan untuk mencukur, mencabut, dan memangkas jenggot”[50].



As-Saffarini Al-Hanbaly berkata :

المعتمد في المذهب ، حُرمَةُ حَلْقِ اللحية

”Pendapat yang mu’tamad (resmi/dapat dipercaya) dalam Madzhab (Hanabilah) adalah diharamkannya mencukur jenggot” [51].



Abu Syaammah Al-Maqdisy Asy-Syafi’y berkata :

وقد حدث قوم يحلقون لحاهم وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها

”Telah ada suatu kaum yang biasa mencukur jenggotnya (sampai habis). Hal itu lebih parah dari apa yang ternukil dari orang Majusi dimana mereka hanya memotongnya saja (tidak sampai habis)” [52].



2. Membiarkan jenggot sebagaimana adanya, kecuali dalam ibadah haji dan ’umrah dimana diperbolehkan memotong apa-apa yang berada di bawah genggaman tangan dari panjang jenggotnya. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipegang oleh mayoritas tabi’in, Asy-Syafi’i, (hal yang disukai) oleh Malik, dan ulama yang lainnya. Pendapat ini dibangun dengan dalil yang disampaikan oleh pendapat pertama yang kemudian ditaqyid dengan atsar Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma :

عن نافع عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب وكان بن عمر إذا حج أو اعتمر قبض على لحيته فما فضل أخذه

Dari Nafi’, dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda : ”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis”. (Nafi’ berkata : ) ”Adalah Ibnu ’Umar, jika ia menunaikan ibadah haji atau ’umrah, maka ia menggenggam jenggotnya. Maka apa-apa yang melebihi dari genggaman tersebut, ia potong” [53].

عن نافع أن عبد الله بن عمر كان إذا أفطر من رمضان وهو يريد الحج لم يأخذ من رأسه ولا من لحيته شيئا حتى يحج

Dari Nafi’ : Bahwasanya Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma apabila datang bulan Ramadlan, dan ia ingin melakukan ibadah haji, maka ia tidak memotong rambut kepalanya dan jenggotnya sedikitpun hingga ia benar-benar melaksanakan haji” [54].

عن مروان يعني بن سالم المقفع قال رأيت بن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف

Dari Marwan – yaitu Ibnu Saalim Al-Muqaffa’ – ia berkata : ”Aku pernah melihat Ibnu ’Umar menggenggam jenggotnya, lalu ia memotong apa-apa yang melebihi telapak tangannya” [55].



’Atha’ bin Abi Rabbah juga telah menceritakan/menghikayatkan dari sekelompok shahabat (dan tabi’in) dimana ia berkata :

كانوا يحبون أن يعفوا اللحية إلا في حج أو عمر.

”Mereka (para shahabat dan tabi’in) menyukai untuk memelihara jenggot, kecuali saat haji dan ’umrah (dimana mereka memotongnya apa-apa di bawah genggaman tangan)” [56][57] .



Madzhab Imam Malik adalah sebagaimana tertera dalam Al-Muwaththa’ dimana beliau membawakan riwayat Ibnu ’Umar yang membolehkan memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan di waktu haji dan ’umrah [58]. Imam Malik tidak memberikan kelongaran dalam memotong jenggot kecuali saat haji dan ’umrah[59]. Beliau hanya menyukainya saja dan tidak mewajibkannya [60] .



Ar-Rabi’ bin Sulaiman bin ’Abdil-Jabbar bin Kamil (salah seorang murid besar dari Imam Asy-Syafi’i) meriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi’i membolehkan memotong jenggot yang panjangnya melebihi satu genggam berdasarkan riwayat Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Ar-Rabi’ berkata :

قال الشافعي: وأخبرنا مالك عن نافع أن ابن عمر كان إذا حلق في حج أو عمرة أخذ من لحيته وشاربه.
قال الربيع: قلت: فإنا نقول( ) : ليس على أحد الأخذ من لحيته وشاربه، إنما النسك في الرأس؟
قال الشافعي: وهذا مما تركتم عليه بغير رواية عن غيره عندكم علمتها.

”Telah berkata Asy-Syafi’i : Telah mengkhabarkan kepada kami Malik (bin Anas) dari Nafi’ : Bahwasannya Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma apabila mencukur (rambut) ketika ibadah haji, maka beliau memotong jenggotnya (selebih dari genggaman tangan) dan kumisnya”. Aku (yaitu Ar-Rabi’) berkata : ”Sesungguhnya kami berkata : Tidak boleh bagi seorangpun untuk memotong jenggot dan kumisnya. Bukankah dalam ibadah haji hanya disyari’atkan mencukur kepala saja ?”. Maka Asy-Syafi’i berkata : ”Ini termasuk hal yang kalian tinggalkan atasnya tanpa dasar riwayat dari selainnya di sisi kalian yang aku ketahui” [61]. Di sini Imam Asy-Syafi’i memegang atsar Ibnu ’Umar dalam hal tersebut.



Dalam kitab lain Imam Asy-Syafi’i berkata :

وأحب إلي لو أخذ من لحيته وشاربه، حتى يضع من شعره شيئاً لله، وإن لم يفعل فلا شيء عليه، لأن النسك إنما هو في الرأس لا في اللحية.

”Aku menyukai jika ia memotong jenggot dan kumisnya, hingga ia meletakkan dari rambutnya sesuatu karena Allah. Jika ia tidak melakukannya, maka tidak apa-apa baginya, karena dalam ibadah haji yang wajib hanyalah (memotong) rambut kepala, tidak pada jenggot” [62].



3. Diperbolehkan memotong jenggot yang terlalu panjang (yang melebihi batas genggaman tangan) sehingga membuat jelek penampilannya. Pendapat ini merupakan pendapat masyhur dari Malik bin Anas dan Qadli ’Iyadl.



Perkataan Imam Malik tentang bolehnya memotong jenggot karena panjangnya sehingga nampak padanya aib adalah sebagaimana terdapat dalam At-Tamhid karya Ibnu ’Abdil-Barr (24/145) dan Al-Muntaqaa karya Al-Baaji (3/32). [63]



Telah berkata Al-Qadli ’Iyadl ;

يكره حلق اللحية وقصها وتحذيفها وأما الأخذ من طولها وعرضها إذا عظمت فحسن بل تكره الشهرة في تعظيمها كما يكره في تقصيرها

”Mencukur, memangkas, dan mencabut jenggot adalah dibenci. Adapun jika ia memotong karena terlalu panjang dan (menjaga) kehormatannya jika ia membiarkannya (sehingga nampak jelek), maka itu adalah baik. Akan tetapi dibenci untuk membiarkan selama sebulan [64] sebagaimana dibenci untuk memendekkannya” [65].



4. Disukai untuk memotong jenggot yang melebihi satu genggam secara mutlak, tidak dibatasi oleh waktu haji dan ’umrah. Pendapat ini merupakan pendapat masyhur dari kalangan Hanafiyyah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Hanabilah, serta sebagian tabi’in.



Telah berkata Muhammad bin Al-Hasan – shahabat besar Abu Hanifah – rahimahumallah :


أخبرنا أبو حنيفة عن الهيثم عن ابن عمر -رضي الله عنهما-: أنه كان يقبض على لحيته ثم يقص ما تحت القبضة. قال محمد: وبه نأخذ، وهو قول أبي حنيفة.

”Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hanifah, dari Al-Haitsam, dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma : Bahwasannya ia (Ibnu ’Umar) menggenggam jenggotnya, kemudian memotong apa-apa yang berada di bawah genggaman tersebut”. Berkata Muhammad (bin Al-Hasan) : Kami mengambil pendapat tersebut. Dan itulah perkataan Abu Hanifah” [66].



Ibnu ’Abidin Al-Hanafy berkata :


ويحرم على الرجل قطع لحيته ـ أي حلقها, وصرح في النهاية بوجوب قطع ما زاد على القبضة, وأما الأخذ منها وهي دون ذلك كما يفعله بعض المغاربة ومخنثة الرجال, فلم يبحه أحد, وأخذ كلها فعل يهود الهند, ومجوس الأعاجم

”Dan diharamkan bagi seorang laki-laki memotong jenggotnya – yaitu mencukurnya. Dan telah dijelaskan dalam An-Nihayah atas wajibnya memotong apa-apa yang melebihi genggaman tangan. Adapun mengambil kurang dari itu (yaitu memotong jenggot yang belum melebihi satu genggaman tangan) - sebagaimana yang dilakukan sebagian orang-orang Maghrib dan orang-orang banci, maka tidak seorang pun ulama yang membolehkannya. Dan memotong seluruh jenggot merupakan perbuatan orang-orang Yahudi Hindustan dan orang-orang Majusi A’jaam (non-Arab)” [67].



Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal adalah membolehkan memotong/mencukur jenggot selebih genggaman tangan, namun tidak boleh kurang dari itu. Telah berkata Al-Khalaal : Telah mengkhabarkan kepadaku Harb, ia berkata : Ahmad (bin Hanbal) pernah ditanya tentang memotong jenggot. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya Ibnu ’Umar memotongnya, yaitu rambut jenggot yang melebihi genggaman tangannya”. (Harb berkata) : ”Seakan-akan beliau berpendapat dengan perbuatan Ibnu ’Umar tersebut”. Aku (Harb) bertanya kepada beliau : ”Apa hukumnya memelihara (jenggot) ?”. Beliau berkata : ”Telah diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (tentang perintah tersebut)”. Harb berkata : ”Seakan-akan beliau berpendapat tentang wajibnya memelihara jenggot (yaitu tidak boleh memotongnya sama sekali)”. Selanjutnya Al-Khalaal berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Muhammad bin Harun, bahwasannya Ishaq (bin Haani’) telah menceritakan kepada mereka, bahwa ia berkata : ”Aku bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) tentang seorang laki-laki yang memotong rambut yang tumbuh di kedua pipinya”. Maka beliau menjawab : ”Hendaknya ia memotong jenggotnya yang panjangnya melebihi genggaman tangan”. Aku (Ishaaq) berkata : ”Bagaimana dengan hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : Potonglah kumis dan peliharalah jenggot ?”. Maka beliau menjawab : ”Hendaknya ia memotong karena panjang jenggotnya (yang melebihi genggaman tangan), dan (rambut yang tumbuh) di bawah tenggorokannya”. (Ishaq berkata) : Aku melihat Abu ’Abdillah (Ahmad bin Hanbal) memotong panjang jenggotnya (yang melebihi genggaman tangan) dan (rambut yang tumbuh) di bawah tenggorokannya” [68].



Tarjih : Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah pendapat kedua yang membolehkan memotong jenggot jika telah melebihi genggaman tangan pada waktu haji dan ’umrah. Atsar Ibnu ’Umar merupakan pentaqyid yang sangat jelas, yaitu berkaitan dengan waktu dan batasan panjang yang diperbolehkan [69]. Taqyid ini merupakan ijma’ (yaitu jenis ijma’ sukuti) yang terjadi di kalangan shahabat tanpa ternukil adanya pengingkaran. Dan sangat mungkin ini juga merupakan ijma’ yang terjadi di kalangan tabi’in. Apalagi diperkuat oleh atsar shahih dari ’Atha’ dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.



Wajib hukumnya memelihara (membiarkan) jenggot menurut nash yang jelas dari As-Sunnah, dan haram hukumnya memotong lebih pendek dari genggaman tangan atau bahkan mencukur habis keseluruhan jenggot. Namun jika memang sudah terlalu panjang sehingga memperburuk penampilan, diperbolehkan untuk memotongnya dengan batasan yang telah ditentukan syari’at (tidak boleh lebih pendek dari satu genggam).



Di sini mungkin perlu kami ingatkan tentang ucapan Ibnu Hazm :

واتفقوا أن حلق جميع اللحية مثلة لا تجوز

”Para ulama sepakat (ijma’) bahwa mencukur seluruh jenggot adalah tidak diperbolehkan (haram)” [70].



Hal tersebut sebagaimana juga dikatakan oleh Abul-Hasan bin Qaththaan Al-Maliki dalam kitab Al-Iqnaa’ fii Masaailil-Ijmaa’ 2/3953.



Sebagai seorang muslim, menjadi keharusan untuk mematuhi perintah Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan mencontoh sifat-sifat yang ada padanya [71].

selengkapnya lihat di 

- addariny
- abul-jauzaa
- rumaysho 
- muslim.or.id





[1] Shahih at-Targhib no.36. 
[2] Tafsir Ibnu Katsir (1/247). 
[3] Jenggot dalam bahasa Arab disebut Al-Lihyah (اَللِّحْيَةُ). Al-Fairuz Abadi berkata tentang definisi dari Al-Lihyah : {شعْرُ الخدَّيْن و الذَّقنِ} ”rambut (yang tumbuh) di kedua pipi dan dagu” [Al-Qamus Al-Muhith 4/387]. Hal yang sama dinukil dari Ibnu Mandhur dalam Lisaanul-’Arab : { اسم يجمع من الشعر ما نبت على الخدّين والذقَن } ”nama bagi semua rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu”.
[4] Al-Qamus Al-Muhith 4/387 
[5] HR. Al-Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259 
[6] HR. Muslim no. 259 
[7] HR. Al-Bukhari no. 5554 
[8] HR. Muslim no. 260 
[9] HR. Al-Bazzar no. 8123; hasan 
[10] HR. Muslim no. 259 
[11] Dalam pembahasan Ushul Fiqh, para ulama telah menjelaskan :
 
صيغة الأمر عند الإطلاق تقتضي: وجوب المأمور به، والمبادرة بفعله فوراً.

“Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya sesuatu yang diperintahkan dan bersegera dalam melakukannya secara langsung”.
Di antara dalil yang digunakan para ulama untuk membangun kaidah ini antara lain :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم
”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih" [QS. An-Nuur : 63]. [lihat Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushul oleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah]. 
[12] HR. Muslim no. 627 
[13] Tanwirul Hawalik 2/219. 
[14] An-Nihayah 3/257. 
[15] HR. al-Bukhari dalam Shahihnya sampai pada kalimat ini, namun penambahan do’a tersebut dalam riwayat beliau adalah Mursal. 
[16] HR.Ibnu Sa’ad, no.1/259,-260, Ahmad, no.5/43, Al-Baihaqi dalam,Dalailun Nubuwah, no.4/387,-394, Ash-Shahihain oleh Syaikh Al-Albani, 1429,  dan Takhrij atas kitab Fiqhus Sunnah karya Al-Ghozali, 388-389. 
[17] ad-Durruh Mukhtar 6/407 
[18] al-Bahrur Ro’iq 2/372 
[19] Fathul Qodir 4/370, Hasyiah Ibnu Abidin 2/417  
[20] al-Mufhim, karya Imam al-Qurthubi 1/512  
[21] Minahul Jalil 1/82  
[22] Mawahibul Jalil 1/313 
[23] Hasyiah Dasuqi 1/90 
[24] al-Iqna’ fi Masailil Ijma’, karya Abul Hasan al-Qoththon al-Maliki 2/3953 
[25] al-Umm 2/640 
[26] al-Umm 7/203 
[27] Hasyiatul Abbadi ala Tuhfatil Muhtaj 9/376 
[28] al-Hawil Kabir 17/151 
[29] Ihya’ Ulumiddin 2/257 
[30] al-Majmu’ 1/343 
[31] Syarah Shohih Muslim, hadits no: 260 
[32] Fathul Bari 13/411 
[33] al-I’lam, karya Ibnul Mulaqqin 
[34] Kasysyaful qona’ 1/126 
[35] al-Furu’ 1/130 
[36] al-Inshof 1/121 
[37] Daqo’iqu Ulin Nuha li Syarhil Muntaha 1/43 
[38] Ghidza’ul Albab  1/334 
[39] Sebagaimana disarikan oleh Abu Ahmad Al-Hadzaly dalam Multaqaa Ahlil-Hadits yang diambil dari kitab I’faaul-Lihyah hal. 29-30, Fathul-Baari 10/350, dan Juzzul-Masaalik 15/6. 
[40] HR. Al-Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259 
[41] HR. Muslim no. 259 
[42] HR. Al-Bukhari no. 5554 
[43] HR. Muslim no. 260 
[44] HR. Al-Bazzar no. 8123; hasan      
[45] HR. Muslim no. 259 
[46] Dalam pembahasan Ushul Fiqh, para ulama telah menjelaskan :
صيغة الأمر عند الإطلاق تقتضي: وجوب المأمور به، والمبادرة بفعله فوراً.

“Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya sesuatu yang diperintahkan dan bersegera dalam melakukannya secara langsung”.
Di antara dalil yang digunakan para ulama untuk membangun kaidah ini antara lain :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih" [QS. An-Nuur : 63]. [lihat Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushul oleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah]. 
[47] Hukmud-Diin fil-Lihyah wat-Tadkhiin oleh ’Ali Al-Halaby hal. 31 
[48] Syarh Shahih Muslim 2/154 
[49] Tharhut-Tatsrib 2/83 
[50] Tahriimu Halqil-Lihaa oleh ’Abdurrahman bin Qasim Al-’Ashimi Al-Hanbaly hal. 5 
[51] Ghadzaaul-Albaab 1/376 
[52] Fathul-Bari 10/351 no. 5553 

[53] HR. Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259 
[54] HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ Kitaabun-Nikaah 1/396, dan darinya Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Al-Umm 7/253 
[55] HR. Abu Dawud no. 2357; hasan 
[56] HR. Ibnu Abi Syaibah 5/25482 dengan sanad shahih 
[57] ’Atha’ telah memutlakkan perbuatan dari para shahabat dan tabi’in untuk memotong jenggot ketika haji dan ’umrah. Sifat kemutlakan lafadh ’Atha’ ini dalam memotong jenggot ini dijelaskan oleh perbuatan Ibnu ’Umar dalam haji dan ’umrah bahwa yang dipotong itu adalah selebih dari genggaman tangan. ’Atha’ adalah salah satu murid Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Apa yang diriwayatkan oleh ’Atha’ ini sekaligus menafsiri apa yang diriwayatkan oleh ulama dari kalangan tabi’in lain yaitu Al-Qaasim bin Muhammad.
عن أفلح قال: كان القاسم إذا حلق رأسه أخذ من لحيته وشاربه
Dari Aflah ia berkata : ”Adalah Al-Qaasim jika ia mencukur kepalanya (waktu haji atau ’umrah), maka ia pun memotong jenggot dan kumisnya” [HR. Ibnu Abi Syaibah 5/225; shahih].
Al-Qaasim mencukur jenggotnya di waktu haji dan ’umrah adalah selebih dari genggaman tangan sebagaimana dilakukan oleh pembesar shahabat dan tabi’in lainnya. 
[58] Al-Muwaththa’ 1/318 
[59] Ikhtilaaful-Imam Malik wasy-Syafi’i 7/253 
[60] Al-Mudawwanah 2/430 
[61] Ikhtilaaful-Imam Malik wasy-Syafi’i 7/253 
[62] Al-Umm 2/2032 
[63] Dinukil melalui perantaraan risalah Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Asmary yang berjudul : Hukmul-Akhdzi minal-Lihyah yang dipublikasikan dalam www.saaid.net; sebagaimana juga ternukil dalam pembahasan Multaqaa Ahlil-Hadiits (berjudul :
 هل يوجد قول معتبر يجوز الأخذ من اللحية ما دون القبضة ؟؟). 
[64] Perkataan Al-Qadli ‘Iyadl tentang dibencinya membiarkan jenggot selama satu bulan jangan diartikan boleh mencukur selama satu bulan secara mutlak (sebagaimana dijadikan hujjah sebagian orang muta’akhkhirin). Maksud perkataan beliau adalah bahwa beliau membenci jenggot dibiarkan selama satu bulan jika telah melebihi satu genggaman tangan jika membuat jeleknya penampilan. Beliau berkata dalam Syarah Shahih Muslim sebagai berikut :
 
يُكْرَه حَلْقهَا وَقَصّهَا وَتَحْرِيقهَا , وَأَمَّا الْأَخْذ مِنْ طُولهَا وَعَرْضهَا فَحَسَن , وَتُكْرَه الشُّهْرَة فِي تَعْظِيمهَا كَمَا تُكْرَه فِي قَصِّهَا وَجَزّهَا . قَالَ : وَقَدْ اِخْتَلَفَ السَّلَف هَلْ لِذَلِكَ حَدّ ؟ فَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يُحَدِّد شَيْئًا فِي ذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَتْرُكهَا لِحَدّ الشُّهْرَة وَيَأْخُذ مِنْهَا , وَكَرِهَ مَالِك طُولهَا جِدًّا , وَمِنْهُمْ مَنْ حَدَّدَ بِمَا زَادَ عَلَى الْقَبْضَة فَيُزَال , وَمِنْهُمْ مَنْ كَرِهَ الْأَخْذ مِنْهَا إِلَّا فِي حَجّ أَوْ عَمْرَة

”Dimakruhkan untuk mencukur, memotong, dan membakar jenggot. Adapun memotong karena saking panjangnya dan (menjaga) kehormatannya (yang jika dibiarkan nampak jelek/keji), maka hal itu baik. Dan dimakruhkan membiarkannya selama sebulan sebagaimana dimakruhkan untuk memotong dan mencukurnya. Dan para ulama salaf telah berbeda pendapat, apakah dalam hal ini terdapat batasan ? Diantara mereka ada yang tidak memberikan batasan apapun, namun mereka tidak membiarkannya terus memanjang selama satu bulan, dan segera memotongnya bila telah mencapai satu bulan. Dan Malik membenci/memakruhkan jika jenggot tersebut terlalu panjang. Di antara mereka (ulama) ada yang memberi batasan, apa-apa yang melebihi genggaman tangan maka boleh dihilangkan/dipotong. Dan di antara mereka ada pula yang membenci memotongnya kecuali saat haji dan ’umrah” [selesai].
Di sini jelas bahwa Al-Qadli ’Iyadl tidak memperbolehkan memotong jenggot yang panjangnya kurang dari genggaman tangan, sebab yang menjadi sebab adalah terlalu panjang sehingga memperburuk penampilan. Wallaahu a’lam. 
[65] Fathul-Baari 10/351 no. 5553 
[66] Al-Aatsaar 900 
[67] Raddul-Mukhtaar 2/418 
[68] Kitab At-Tarajjul min Kitaabil-Jaami’ hal. 113-114 
[69] Jika ada dalil muthlaq dan muqayyad tentang satu hal yang mempunyai kesamaan sebab dan hukum, maka dalil muthlaq harus dibawa kepada dalil muqayyad (hamlul-muthlaq ‘alal-muqayyad wajibun) [silakan lihat kaidah ini dalam kitab Irsyaadul-Fuhuul oleh Imam Asy-Syaukani hal. 213-214; Maktabah Sahab]. 
[70] Maraatibul-Ijmaa’ hal 157 
[71] Dan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam adalah orang yang memelihara jenggotnya, sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik tentang jenggot beliau :
 
ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع عشرة شعرة بيضاء

”Tidaklah aku menghitung sesuatu di kepala dan jenggot Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melainkan aku dapatkan sebanyak empatbelas buah uban [HR. Tirmidzi dalam Mukhtashar Asy-Syamaail no. 31; shahih].


0 komentar: