Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Blog Archive

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive

About Me

Jumat, 12 September 2014

Telah dimaklumi bahwasannya salah satu kewajiban seorang Muslim adalah tidak berbicara kecuali mengenai sesuatu yang telah diketahuinya. Seorang Muslim hanya membicarakan mengenai sesuatu yang telah jelas kemaslahatannya unruk agama dan dunia.

Berbicara tanpa ilmu adalah kebohongan belaka. Begitu pula membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sejauh mana Maslahat dan Mafsadahnya, adalah tindakan yang sangat tidak bijak dan tidak bias di terima akal sehat. Terlebih lagi jika sikap asal ngomong ini berkaitan dengan fatwa dan pengambilan keputusan hokum, atau dengan salah satu urusan umat islam yang penting.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ  

“Katakanlah;’Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar,(Mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan Hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.”(QS; al-A’raaf; 33)


Ibnu Qayyim berkata,”Allah menyebutkan empat hal yang diharamkan secara berurutan dan memulainya dengan yang paling ringan, yaitu perbuatan keji. Pada urutan kedua, Allah menyebutkan sesuatu yang lebih haram daripadanya, yaitu perbuatan dosa dan kezhaliman. Pada Urutan ketiga, Allah menyebutkan sesuatu yang lebih besar pengharamannya daripada dua hal sebelumnya, yaitu menyekutukan-Nya. Kemudian pada urutan keempat, Allah menyebutkan sesuatu yang paling berat pengharamannya daripada semuannya, yaitu mengada-ada atas nama-Nya tanpa ilmu. Termasuk di dalamnya kebohongan yang terkait dengan seluruh asma, Sifat, dan perbuatan Allah, serta agama dan Syari’at-Nya.”[1]


Umat-umat terdahulu binasa salah satunya karena mereka mengada-ada atas nama Allah tanpa ilmu. Bila umat ini melakukan hal yang sama, tentu ia akan binasa seperti mereka.


Allah berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الأرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ اِئْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah,’Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah;perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit. Bawalah kepadaku Kitab yang sebelum (al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.”(QS; al-Ahqaaf; 4)


Ibnu Katsir berkata,”Maksudnya;sembahan selain Allah itu tidak mungkin berserikat dengan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi, sebab mereka tidak memiliki apapun walaupun setipis kulit ari. Sesungguhnya hanya Allah yang memiliki dan mampu melakukan semua itu. Lalu bagaimana kalian dapat beribadah kepada selain Allah-disamping ibadah kepada-Nya- dan menyekutukan-Nya? Siapa yang membimbing kalian kepada hal ini? Siapa yang mengajak kalian kepadanya? Apakah Allah yang memerintahkan kalian untuk melakukannya? Ataukah itu adalah keinginan kalian sendiri?


Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman;”Bawalah kepadaku Kitab yang sebelum (al-Qur’an) ini; maksudnya tunjukkan bukti pada salah satu Kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi yang memerintahkan kalian agar beribadah kepada berhala-berhala ini;’Atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu)’, yaitu atau tunjukkan bukti yang jelas atas jalan yang kalian tempuh ini;’Jika kamu adalah orang-orang yang benar.’ Yaitu nyatanya, kalian tidak mempunyai bukti apa pun, baik yang bersifat Naqli (nash) maupun Aqli (logika) atas hal itu.”[2]


Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلائِكَةَ تَسْمِيَةَ الأنْثَى;    وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
  
“Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”(QS; An-Najm; 27-28)


Jelaslah bahwa semua kerusakan yang ada pada umat-umat terdahulu itu disebabkan mereka mengada-ada terhadap Allah tanpa ilmu. Oleh karena itulah, Allah mewanti-wanti umat ini agar tidak mengikuti jejak mereka dan tidak berpegang kepada dugaan atau pendapat pribadi. Cara seperti ini tidak mengadung kebaikan sama sekali, bahkan ia adalah penyebab kesesatan mereka. Sebab, seluruh kebaikan itu terletak pada apa yang telah Allah turunkan.


Allah Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

”Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian dari mereka pun tidak mengikuti Kibvlat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah dating ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang Zhalim.”(QS; al-Baqoroh; 145)


Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah melarang umatnya untuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Rosululloh memerintahkan mereka agar berpegang kepada para ‘Ulama Rabbani dan belajar dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerintahkan umatnya supaya menjauhi orang-orang yang menyesatkan yang menjadikan agama dan ilmu sebagai tunggangan untuk mencapai kepentingan duniawi. Atau dari orang-orang yang ‘aqidahnya dirusak oleh bid’ah-bid’ah dan syubhat-syubhat. Ataupun juga dari orang-orang yang dirinya dipenuhi oleh kepentingan duniawi, syubhat-syubhat bid’ah. Dan hawa nafsu. Sebab, mereka itu sesat dan menyesatkan. Na’udzubillah


Mengenai hal ini, terdapat hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dia berkata:”Aku mendengar Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رؤسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا


“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya secara sekaligus, namun, Dia mencabut ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ulamapun, maka orang-orang akan mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin. Jika mereka ditanya maka mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”[3]


Ibnu Hajar berkata;”Hadits ini mengandung anjuran supayamenjaga ilmu dan larangan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Hadits ini juga mengandung keterangan bahwa fatwa itu merupakan kepemimpinan yang sebenarnya dan bahwa berfatwa tanpa ilmu adalah sesuatu yang tercela.”[4]


Dari ‘Umar bin al-Khaththab, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,


“Sesungguhnya aku mengkhawatirkan setiap orang munafik yang berbicara dengan hikmah namun berbuat zhalim kepada umat ini.”[5]


Dari ‘Imran bin Hushain, dia berkata; Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

أخوف ما أخاف عليكم جدال المنافق عليم اللسان


“Sesungguhny yang  paling aku Khawatirkan terhadap kalian setelahku adalah seorang munafik yang pintar berbicara.”[6]


Berdasarkan nash di atas, jelaslah bahaya mengada-ada terhadap Allah tanpa ilmu, terutama ketika terjadi fitnah. Oleh karena itu, pada kondisi terjadinya fitnah, orang yang memiliki ilmu wajib memberikan kontribusinya sesuai dengan tuntutan kemaslahatan yang ada. Sementara itu, orang yang tidak memiliki ilmu ditintut untuk menjaga diri dan lisannya serta bertanya kepada orang yang lebih mengetahui, agar dia selamat dan Islam tidak semakin terpojok karena ulah darinya.


Ada permasalahan penting lainnya yang harus diperhatikan. Ada orang-orang yang mengaku paham banyak hal. Namun mereka justru menipu orang-orang awam. Menghadapi orang seperti ini, kita di tuntut untuk berhati-hati, melakukan konfirmasi, dan tidak tergesa-gesa menerima ilmu dari orang-orang tersebut. Bahkan, kita harus mengetahui siapa orang itu sebenarnya serta seberapa jauh dia berpegang terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.


Kemudian memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk kepada kebenaran yang masih diperselisihkan, sesungguhnya Dialah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Karena pada zaman fitnah ini banyak orang yang membaca namun sedikit orang yang memahaminya. Ketika itu ilmu diangkat dan kebodohan merajalela, serta banyak orang yang berbicara semaunya. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Abu Hurairah, dia berkata,”Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

يتقارب الزمان ويقبض العلم وتظهر الفتن ويكثر الهرج قالوا وما الهرج قال القتل


Kiamat telah dekat, ilmu semakin berkurang, kebakhilan semakin ditanamkan (dalam hati), fitnah bermunculan dan banyak terjadi al-Harj. Shahabat bertanya,’Wahai Rosululloh apakah yang dimaksud al-Harj? Beliau menjawab,’Pembunuhan, pembunuhan.”[7]


Dari Anas, dia berkata bahwa Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم ويظهر الجهل ويفشو الزنى ويشرب الخمر ويظهر الزنى


“Sesungguhnya di antara tanda Kiamat itu adalah Ilmu diangkat, kebodohan merajalela, Khamer banyak di minum, dan perzinaan dilegalkan.”[8]


Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan umatnya agar berhati-hati ketika terjadi fitnah. Beliau melarang umatnya untuk terjun ke dalam fitnah kecuali dengan pengetahuan yang benar; jika tidak, maka lebih baik diam dan memisahkan diri darinya. Ketika masa fitnah, sebuah pernyataan dan fatwa akan menimbulkan dampak yang sangat besar. Sebab, pada saat itu masyarakat dalam keadaan bingung. Mereka menantikan orang yang mau memberikan fatwa untuk mereka ikuti. Sehingga, sangat mungkin sekali jika mereka mengikuti seseorang dalam kebathilan, akibatnya Islam dan pemeluknya tertimpa musibah yang sangat besar.
 

Hadits mengenai hal ini cukup banyak, di antaranya riwayat dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

ستكون فتن القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي والماشي فيها خير من الساعي من تشرف لها تستشرفه فمن وجد ملجأ أو معاذا فليعذ به


“Kelak akan terjadi bebagai macam fitnah. Orang yang duduk ketika itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri ketika itu lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik daripada orang yang berlalri. Barangsiapa yang bergumul dengan fitnah itu niscaya dia akan binasa karenanya. Barangsiapa mendapatkan tempat berlindung. Maka hendaklah berlindung dengannya.”[9]


Ibnu Hajar berkata;  من تشرف لها Maknanya berusaha untuk mengetahui lebih dalam tentang fitnah itu, dengan cara menghadapi dan menantangnya, dan tidak berpaling darinya. Perkataanya;  تستشرفه  artinya dia akan binasa karenanya. Maksud Hadits ini, barang siapa yang menantangnya maka fitnah itu akan menimpanya. Dan barangsiapa menjauhinya maka fitnah itu juga akan menjauhinya. Kesimpulannya; sesungguhnya orang yang menceburkan diri ke dalam fitnah maka fitnah itu akan menyambutnya dengan keburukan.”[10]


Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata,

بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ ذكر الفتنة فقال إذا رأيتم الناس قد مرجت عهودهم وخفت أماناتهم وكانوا هكذا وشبك بين أصابعه قال فقمت إليه فقلت كيف أفعل عند ذلك جعلني الله فداك قال الزم بيتك واملك عليك لسانك وخذ بما تعرف ودع ما تنكر وعليك بأمر خاصة نفسك ودع عنك أمر العامة


“Ketika kami sedang bersama Rosululloh, sebagian kami bertanya tentang permasalahan fitnah –atau permasalahan fitnah ditanyakan dihadapan beliau, lalu beliau bersabda,’(itu terjadi) ketika kamu menyaksikan orang-orang telah merusak perjanjiannya, sifat amanahnya semakin berkurang, dan mereka menjadi seperti ini- beliau menjalin jari-jarinya.’ Abdullah melanjutkan;”Lalu aku berdiri menghampiri beliau, seraya bertanya;’Apa yang harus aku perbuat katika hal itu terjadi, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu?” Beliau menjawab,”Tetaplah di rumahmu, tahanlah lisanmu, ikutilah apa yang kamu ketahui, dan tinggalkan apa yang kamu ingkari, urusilah dirimu sendiri dan tinggalkanlah urusan-urusan rang lain.”[11]


Renungkanlah wasiat-wasiat penting dari Rosululloh ini ketika terjadi fitnah, dan semoga Allah menjagamu. Bandingkanlah dengan keadaan kebanyakan orang yang terkena fitnah. Mereka sengaja bergumul dengan fitnah itu sehingga mereka binasa karenanya dan bercerai-berai. Bahkan mereka menjadi symbol bagi fitnah-fitnah yang ada. Mereka menjadikan kondisi negaranya tidak karuan, lalu meninggalkannya begitu saja ke Negara lain. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan agar bersabar dan menahan diri dan lisan. Mereka itulah orang yang sesat lagi menyesatkan. Na’udzubillah.


Al-Bukhari meriwayatkan dari Khalaf bin Hausyah,”Mereka senang membuat perumpamaan dengan bait-bait ini ketika terjadi fitnah. Umru-ul Qais berkata,


“Perang pada mulanya bagai gadis belia berlari 
Dengan perhiasannya disetiap orang bodoh 
Hingga ketika perang itu telah berkobar dahsyat 
Dia seperti wanita tua yang tidak diinginkan laki-laki 
Uban di kepala coba ingkari dan tubuhnya telah berubah, 
bahkan bau mulutnya tercium dan
tidak pantas untuk di kecup.”


Maka yang menjadi kewajiban bagi seorang muslim ketika terjadi fitnah adalah bersabar, Manahan lisan dan tangannya, menyerahkan urusan ini kepada Ahlu hall wal ‘Aqdii yang telah Allah amanati untuk mengurus dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya agar dilindungi dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Wallahu a’lam.



Di salin Rio Kristianto


Lihat al-Fitanh wa Mauqiful Muslim Minhaa. Karya Dr. Muhammad bin A.W. al-‘Aqil hal. 88-97 penerbit Adhwaa-us Salaf – Riyadh Arab Saudi cet. 1 1427 H/ 2007 M judul dalam bahasa indomnesia Fitnah Akhir Zaman Mnyingkapi Huru hara dan Kekacauan di akhir Zaman. Penerjemah Ahmad Yunus, M.Si penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’I cetakan pertama Jumadil Awwal 1431 H/ Mei 2010 M Terjemahan ini telah mendapatkan izin dari penulisnya.


[1] I’laam al-Muwaqq’iin I/38 
[2] Tafsiir Ibnu Katsir 9VII/3184 
[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-Nya I/194-Fathul bari dan Muslim dalam Shahih-Nya IV/2058, no. 2673 
[4] Fathul Bari I/194 
[5] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad I/289. Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawaa-id I/187,”Para perawinya Tsiqah.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsillah ash-Shahihah III/11, no. 1013 
[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya I/281, no. 80. 
[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahiih-nya XIII/14-Fathul Bari dan Muslim dalam Shahiih-Nya IV/2057, no. 157  
[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-Nya I/178 Fathul Bari dan Muslim dalam Shahih-nya IV/2056, no. 2671  
[9] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya XIII/30 Fathul Bari dan Muslim dalam Shahih-nya IV/2211, no. 2886 
[10] Fathul Bari XIII/31. Dikutip secara Ringkas 
[11] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya XI/267-ar-Risalah, Abu Dawud dalam Sunan-nya IV/124, no 4343, an-Nasa’I dalam Sunan al Kubra VI/59, no 1003, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak IV/525, al-Hakim dalam al-Mustadrak IV/ 525, al-Hakim menshahihkan hadits ini dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dishahihkan oleh Ahmad Syakir, lihat al-Musnad dengan Tahqiq-Nya XI/172

0 komentar: