Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Jumat, 12 September 2014
Telah
dimaklumi bahwasannya salah satu kewajiban seorang Muslim adalah tidak
berbicara kecuali mengenai sesuatu yang telah diketahuinya. Seorang Muslim
hanya membicarakan mengenai sesuatu yang telah jelas kemaslahatannya unruk
agama dan dunia.
Berbicara
tanpa ilmu adalah kebohongan belaka. Begitu pula membicarakan sesuatu yang
tidak diketahui sejauh mana Maslahat dan Mafsadahnya, adalah tindakan yang
sangat tidak bijak dan tidak bias di terima akal sehat. Terlebih lagi jika
sikap asal ngomong ini berkaitan dengan fatwa dan pengambilan keputusan hokum,
atau dengan salah satu urusan umat islam yang penting.
Allah
Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا
بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا
لا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah;’Rabbku
hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang
benar,(Mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak
menurunkan Hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah
apa saja yang tidak kamu ketahui.”(QS; al-A’raaf; 33)
Ibnu Qayyim berkata,”Allah menyebutkan
empat hal yang diharamkan secara berurutan dan memulainya dengan yang paling
ringan, yaitu perbuatan keji. Pada urutan kedua, Allah menyebutkan sesuatu yang
lebih haram daripadanya, yaitu perbuatan dosa dan kezhaliman. Pada Urutan
ketiga, Allah menyebutkan sesuatu yang lebih besar pengharamannya daripada dua
hal sebelumnya, yaitu menyekutukan-Nya. Kemudian pada urutan keempat, Allah
menyebutkan sesuatu yang paling berat pengharamannya daripada semuannya, yaitu
mengada-ada atas nama-Nya tanpa ilmu. Termasuk di dalamnya kebohongan yang
terkait dengan seluruh asma, Sifat, dan perbuatan Allah, serta agama dan
Syari’at-Nya.”[1]
Umat-umat
terdahulu binasa salah satunya karena mereka mengada-ada atas nama Allah tanpa
ilmu. Bila umat ini melakukan hal yang sama, tentu ia akan binasa seperti
mereka.
Allah
berfirman,
قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا
خَلَقُوا مِنَ الأرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ اِئْتُونِي بِكِتَابٍ
مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah,’Terangkanlah kepadaku tentang
apa yang kamu sembah selain Allah;perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah
mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah)
dalam (penciptaan) langit. Bawalah kepadaku Kitab yang sebelum (al-Qur’an) ini
atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah
orang-orang yang benar.”(QS; al-Ahqaaf; 4)
Ibnu Katsir berkata,”Maksudnya;sembahan
selain Allah itu tidak mungkin berserikat dengan-Nya dalam menciptakan langit
dan bumi, sebab mereka tidak memiliki apapun walaupun setipis kulit ari.
Sesungguhnya hanya Allah yang memiliki dan mampu melakukan semua itu. Lalu
bagaimana kalian dapat beribadah kepada selain Allah-disamping ibadah
kepada-Nya- dan menyekutukan-Nya? Siapa yang membimbing kalian kepada hal ini?
Siapa yang mengajak kalian kepadanya? Apakah Allah yang memerintahkan kalian
untuk melakukannya? Ataukah itu adalah keinginan kalian sendiri?
Karena
itulah, Allah Ta’ala berfirman;”Bawalah kepadaku Kitab yang sebelum (al-Qur’an)
ini; maksudnya tunjukkan bukti pada salah satu Kitab Allah yang diturunkan
kepada para Nabi yang memerintahkan kalian agar beribadah kepada
berhala-berhala ini;’Atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu)’,
yaitu atau tunjukkan bukti yang jelas atas jalan yang kalian tempuh ini;’Jika
kamu adalah orang-orang yang benar.’ Yaitu nyatanya, kalian tidak mempunyai
bukti apa pun, baik yang bersifat Naqli (nash) maupun Aqli (logika) atas hal
itu.”[2]
Allah
berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ
لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلائِكَةَ تَسْمِيَةَ الأنْثَى; وَمَا
لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لا
يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
“Sesungguhnya
orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar
menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai
sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun
terhadap kebenaran.”(QS; An-Najm; 27-28)
Jelaslah
bahwa semua kerusakan yang ada pada umat-umat terdahulu itu disebabkan mereka
mengada-ada terhadap Allah tanpa ilmu. Oleh karena itulah, Allah mewanti-wanti
umat ini agar tidak mengikuti jejak mereka dan tidak berpegang kepada dugaan
atau pendapat pribadi. Cara seperti ini tidak mengadung kebaikan sama sekali,
bahkan ia adalah penyebab kesesatan mereka. Sebab, seluruh kebaikan itu
terletak pada apa yang telah Allah turunkan.
Allah
Ta’ala berfirman,
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا
تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ
بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا
جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
”Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan
kepada orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan
Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu
pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian dari mereka pun tidak
mengikuti Kibvlat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
keinginan mereka setelah dating ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu
termasuk golongan orang-orang yang Zhalim.”(QS; al-Baqoroh; 145)
Rosululloh
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga
telah melarang umatnya untuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Rosululloh
memerintahkan mereka agar berpegang kepada para ‘Ulama Rabbani dan belajar dari
mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerintahkan umatnya supaya
menjauhi orang-orang yang menyesatkan yang menjadikan agama dan ilmu sebagai
tunggangan untuk mencapai kepentingan duniawi. Atau dari orang-orang yang
‘aqidahnya dirusak oleh bid’ah-bid’ah dan syubhat-syubhat. Ataupun juga dari
orang-orang yang dirinya dipenuhi oleh kepentingan duniawi, syubhat-syubhat
bid’ah. Dan hawa nafsu. Sebab, mereka itu sesat dan menyesatkan. Na’udzubillah
Mengenai
hal ini, terdapat hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dia berkata:”Aku
mendengar Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رؤسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
“Sesungguhnya
Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya secara sekaligus, namun, Dia
mencabut ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga ketika Dia tidak menyisakan
seorang ulamapun, maka orang-orang akan mengangkat orang-orang yang bodoh
sebagai pemimpin. Jika mereka ditanya maka mereka akan memberikan fatwa tanpa
ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”[3]
Ibnu Hajar berkata;”Hadits ini
mengandung anjuran supayamenjaga ilmu dan larangan mengangkat orang-orang bodoh
sebagai pemimpin. Hadits ini juga mengandung keterangan bahwa fatwa itu
merupakan kepemimpinan yang sebenarnya dan bahwa berfatwa tanpa ilmu adalah
sesuatu yang tercela.”[4]
Dari
‘Umar bin al-Khaththab, bahwasannya
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda,
“Sesungguhnya aku mengkhawatirkan setiap orang munafik yang berbicara dengan hikmah namun berbuat zhalim kepada umat ini.”[5]
Dari
‘Imran bin Hushain, dia berkata; Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda,
أخوف ما أخاف عليكم جدال المنافق عليم اللسان
“Sesungguhny
yang paling aku Khawatirkan terhadap
kalian setelahku adalah seorang munafik yang pintar berbicara.”[6]
Berdasarkan
nash di atas, jelaslah bahaya mengada-ada terhadap Allah tanpa ilmu, terutama
ketika terjadi fitnah. Oleh karena itu, pada kondisi terjadinya fitnah, orang
yang memiliki ilmu wajib memberikan kontribusinya sesuai dengan tuntutan
kemaslahatan yang ada. Sementara itu, orang yang tidak memiliki ilmu ditintut
untuk menjaga diri dan lisannya serta bertanya kepada orang yang lebih
mengetahui, agar dia selamat dan Islam tidak semakin terpojok karena ulah
darinya.
Ada
permasalahan penting lainnya yang harus diperhatikan. Ada orang-orang yang
mengaku paham banyak hal. Namun mereka justru menipu orang-orang awam.
Menghadapi orang seperti ini, kita di tuntut untuk berhati-hati, melakukan
konfirmasi, dan tidak tergesa-gesa menerima ilmu dari orang-orang tersebut.
Bahkan, kita harus mengetahui siapa orang itu sebenarnya serta seberapa jauh
dia berpegang terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.
Kemudian
memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk kepada kebenaran yang masih
diperselisihkan, sesungguhnya Dialah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Karena pada zaman fitnah ini banyak orang yang membaca namun sedikit orang yang
memahaminya. Ketika itu ilmu diangkat dan kebodohan merajalela, serta banyak
orang yang berbicara semaunya. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Abu
Hurairah, dia berkata,”Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda,
يتقارب الزمان ويقبض العلم وتظهر الفتن ويكثر الهرج قالوا وما الهرج قال القتل
“Kiamat telah dekat, ilmu semakin berkurang,
kebakhilan semakin ditanamkan (dalam hati), fitnah bermunculan dan banyak
terjadi al-Harj. Shahabat bertanya,’Wahai Rosululloh apakah yang dimaksud
al-Harj? Beliau menjawab,’Pembunuhan, pembunuhan.”[7]
Dari
Anas, dia berkata bahwa Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda,
إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم ويظهر الجهل ويفشو الزنى ويشرب الخمر ويظهر الزنى
“Sesungguhnya di antara tanda Kiamat itu
adalah Ilmu diangkat, kebodohan merajalela, Khamer banyak di minum, dan
perzinaan dilegalkan.”[8]
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah
memerintahkan umatnya agar berhati-hati ketika terjadi fitnah. Beliau melarang
umatnya untuk terjun ke dalam fitnah kecuali dengan pengetahuan yang benar;
jika tidak, maka lebih baik diam dan memisahkan diri darinya. Ketika masa
fitnah, sebuah pernyataan dan fatwa akan menimbulkan dampak yang sangat besar.
Sebab, pada saat itu masyarakat dalam keadaan bingung. Mereka menantikan orang
yang mau memberikan fatwa untuk mereka ikuti. Sehingga, sangat mungkin sekali
jika mereka mengikuti seseorang dalam kebathilan, akibatnya Islam dan
pemeluknya tertimpa musibah yang sangat besar.
Hadits
mengenai hal ini cukup banyak, di antaranya riwayat dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
ستكون فتن القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي والماشي فيها خير من الساعي من تشرف لها تستشرفه فمن وجد ملجأ أو معاذا فليعذ به
“Kelak
akan terjadi bebagai macam fitnah. Orang yang duduk ketika itu lebih baik
daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri ketika itu lebih baik daripada
orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik daripada
orang yang berlalri. Barangsiapa yang bergumul dengan fitnah itu niscaya dia
akan binasa karenanya. Barangsiapa mendapatkan tempat berlindung. Maka
hendaklah berlindung dengannya.”[9]
Ibnu Hajar berkata; من تشرف لها Maknanya berusaha
untuk mengetahui lebih dalam tentang fitnah itu, dengan cara menghadapi dan
menantangnya, dan tidak berpaling darinya. Perkataanya; تستشرفه artinya
dia akan binasa karenanya. Maksud Hadits ini, barang siapa yang menantangnya
maka fitnah itu akan menimpanya. Dan barangsiapa menjauhinya maka fitnah itu
juga akan menjauhinya. Kesimpulannya; sesungguhnya orang yang menceburkan diri
ke dalam fitnah maka fitnah itu akan menyambutnya dengan keburukan.”[10]
Dari
Abdullah bin ‘Amr, dia berkata,
بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ ذكر الفتنة فقال إذا رأيتم الناس قد مرجت عهودهم وخفت أماناتهم وكانوا هكذا وشبك بين أصابعه قال فقمت إليه فقلت كيف أفعل عند ذلك جعلني الله فداك قال الزم بيتك واملك عليك لسانك وخذ بما تعرف ودع ما تنكر وعليك بأمر خاصة نفسك ودع عنك أمر العامة
“Ketika
kami sedang bersama Rosululloh, sebagian kami bertanya tentang permasalahan
fitnah –atau permasalahan fitnah ditanyakan dihadapan beliau, lalu beliau
bersabda,’(itu terjadi) ketika kamu menyaksikan orang-orang telah merusak
perjanjiannya, sifat amanahnya semakin berkurang, dan mereka menjadi seperti
ini- beliau menjalin jari-jarinya.’ Abdullah melanjutkan;”Lalu aku berdiri
menghampiri beliau, seraya bertanya;’Apa yang harus aku perbuat katika hal itu
terjadi, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu?” Beliau
menjawab,”Tetaplah di rumahmu, tahanlah lisanmu, ikutilah apa yang kamu
ketahui, dan tinggalkan apa yang kamu ingkari, urusilah dirimu sendiri dan
tinggalkanlah urusan-urusan rang lain.”[11]
Renungkanlah
wasiat-wasiat penting dari Rosululloh ini ketika terjadi fitnah, dan semoga
Allah menjagamu. Bandingkanlah dengan keadaan kebanyakan orang yang terkena
fitnah. Mereka sengaja bergumul dengan fitnah itu sehingga mereka binasa
karenanya dan bercerai-berai. Bahkan mereka menjadi symbol bagi fitnah-fitnah
yang ada. Mereka menjadikan kondisi negaranya tidak karuan, lalu
meninggalkannya begitu saja ke Negara lain. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam memerintahkan agar bersabar dan menahan diri dan lisan. Mereka itulah
orang yang sesat lagi menyesatkan. Na’udzubillah.
Al-Bukhari
meriwayatkan dari Khalaf bin Hausyah,”Mereka senang membuat perumpamaan dengan
bait-bait ini ketika terjadi fitnah. Umru-ul Qais berkata,
“Perang pada mulanya
bagai gadis belia berlari
Dengan perhiasannya
disetiap orang bodoh
Hingga ketika perang
itu telah berkobar dahsyat
Dia seperti wanita
tua yang tidak diinginkan laki-laki
Uban di kepala coba
ingkari dan tubuhnya telah berubah,
bahkan bau mulutnya tercium dan
tidak
pantas untuk di kecup.”
Maka yang menjadi kewajiban bagi
seorang muslim ketika terjadi fitnah adalah bersabar, Manahan lisan dan
tangannya, menyerahkan urusan ini kepada Ahlu hall wal ‘Aqdii yang telah
Allah amanati untuk mengurus dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi
tanggungannya agar dilindungi dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tidak
tampak. Wallahu a’lam.
Di salin Rio Kristianto
Lihat
al-Fitanh wa Mauqiful Muslim Minhaa. Karya Dr. Muhammad bin A.W. al-‘Aqil hal.
88-97 penerbit Adhwaa-us Salaf – Riyadh Arab Saudi cet. 1 1427 H/ 2007 M judul
dalam bahasa indomnesia Fitnah Akhir Zaman Mnyingkapi Huru hara dan Kekacauan
di akhir Zaman. Penerjemah Ahmad Yunus, M.Si penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’I
cetakan pertama Jumadil Awwal 1431 H/ Mei 2010 M Terjemahan ini telah
mendapatkan izin dari penulisnya.
[5]
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad I/289. Al-Haitsami berkata dalam
Majma’ az-Zawaa-id I/187,”Para perawinya Tsiqah.” Hadits ini dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani dalam as-Silsillah ash-Shahihah III/11, no. 1013
[6]
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya I/281, no. 80.
[7]
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahiih-nya XIII/14-Fathul Bari dan Muslim
dalam Shahiih-Nya IV/2057, no. 157
[10]
Fathul Bari XIII/31. Dikutip secara Ringkas
[11]
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya XI/267-ar-Risalah, Abu Dawud
dalam Sunan-nya IV/124, no 4343, an-Nasa’I dalam Sunan al Kubra VI/59, no 1003,
dan al-Hakim dalam al-Mustadrak IV/525, al-Hakim dalam al-Mustadrak IV/ 525,
al-Hakim menshahihkan hadits ini dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini
dishahihkan oleh Ahmad Syakir, lihat al-Musnad dengan Tahqiq-Nya XI/172
Label:
MANHAJ
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar