Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Selasa, 23 September 2014

Hadits-Hadits
Tentang Kesempurnaan Islam
Hadits
Pertama:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
Dari
Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor
burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata
Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan
menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” [1]
Hadits
Kedua:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ عِنْدَنَا مِنْهُ عِلْمٌ
Dari
Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung pun
yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan kami memiliki ilmunya.” [2]
Hadits
Ketiga:
عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا فِى السَّمَاءِ طَائِرٌ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ ذَكَرَنَا مِنْهُ عِلْمًا.
Dari
Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sungguh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor
burung yang terbang di langit melainkan beliau telah menerangkan kepada kami
ilmunya.”[3]
Hadits
Keempat:
عَنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ حَنْطَبٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا تَرَكْتُ شَيْئًَا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَلاَ تَرَكْتُ شَيْـئًا مِمَّا نَـهَاكُمُ اللهُ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ.
Dari
Muththalib bin Hanthab, seorang Tabi’in terpercaya, “Sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari
perintah-perintah Allah kepada kalian, melainkan telah aku perintahkan kepada
kalian. Begitu pula tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari larangan-larangan
Allah kepada kalian melainkan telah aku larang kalian darinya.’” [4]
Hadits
Kelima:
عَنْ
سَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُوْنَ : قَدْ
عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ! فَقَالَ : أَجَلْ !
Dari
Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya
kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu
sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu anhu
menjawab, ‘Ya!’” [5]
Hadits
Keenam:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ ....
Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan
seorang ayah, aku mengajari kalian semua….’” [6]
Hadits
Ketujuh:
عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَامًا، مَا تَرَكَ شَيْئًا يَكُونُ فِيْ مَقَامِهِ ذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ إِلاَّ حَدَّثَ بِهِ، حَفِظَهُ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ ....
Dari
Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah berdiri di hadapan kami (berkhutbah), tidaklah beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam tinggalkan sesuatu pun juga di tempatnya itu (tentang
peristiwa-peristiwa) yang akan terjadi sampai hari Kiamat melainkan beliau
menceritakannya kepada kami. Akan hafal orang yang hafal dan akan lupa orang
yang lupa...” [7]
Hadits
Kedelapan:
قَالَ أَبُوْ زَيْدٍ (يَعْنِيْ عَمْرَو بْنَ أَخْطَبَ): صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ وَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الظُّهْرُ فَنَزَلَ فَصَلَّى، ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الْعَصْرُ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى، ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَأَخْبَرَنَا بِمَا كَانَ وَبِمَا هُوَ كَائِنٌ، فَأَعْلَمُنَا أَحْفَظُنَا.
Dari
Abu Zaid (yaitu ‘Amr bin Akhthab Radhiyallahu anhu), “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam shalat Shubuh berjama’ah (mengimami) kami, lalu (setelah
shalat) beliau naik ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai tiba waktu
shalat Zhuhur. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam turun dari mimbar dan
shalat berjama’ah (mengimami) kami. (Setelah shalat) Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam naik (lagi) ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai tiba
waktu shalat ‘Ashar, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam turun dari mimbar
dan shalat berjama’ah (mengimami) kami. (Setelah shalat) kemudian Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke mimbar lagi dan berkhutbah kepada kami
sampai saat matahari terbenam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengkhabarkan kami tentang apa-apa saja yang sudah terjadi dan yang akan
terjadi. (Abu Zaid) berkata, ‘Orang yang paling mengetahui adalah orang yang
paling hafal di antara kami.’” [8]
Hadits
Kesembilan:
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَامَ فِيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَامًا، فَأَخْبَرَنَا عَنْ بَدْءِ الْخَلْقِ حَتَّى دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مَنَازِلَهُمْ وَ أَهْلُ النَّارِ مَنَازِلَهُمْ، حَفِظَ ذَلِكَ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ.
‘Umar
Radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
berdiri (khutbah) di hadapan kami, lalu menceritakan kepada kami tentang awal
penciptaan makhluk sampai penghuni Surga memasuki tempatnya dan penghuni Neraka
memasuki tempatnya. Telah hafal orang yang menghafalnya dan telah lupa orang
yang melupakannya.” [9]
Hadits
Kesepuluh:
عَنِ الْمُغِيْرَةِ أَنَّهُ قَالَ: قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَامًا، فَأَخْبَرَنَا بِمَا يَكُونُ فِيْ أُمَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَعَاهُ مَنْ وَعَاهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ.
Dari
Mughirah Radhiyallahu anhu bahwa dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam berdiri di antara kami pada suatu tempat, kemudian menceritakan
tentang apa yang terjadi pada umatnya sampai hari Kiamat. Telah hafal orang
yang menghafalnya dan telah lupa orang yang melupakannya.” [10]
Hadits
Kesebelas:
قَالَ أَبُو مُوسَى اْلأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَبَيَّنَ لَنَا سُنَّتَنَا وَعَلَّمَنَا صَلاَتَنَا... ( فى حديث طويل )
Abu
Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami, menjelaskan sunnah-sunnah
kepada kami dan mengajarkan (cara) shalat kepada kami.” (Dalam suatu hadits
yang panjang) [11]
Hadits
Kedua belas:
عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِى خُطْبَتِهِ: أَلاَ إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا ....
“Dari
‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’iy Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda pada suatu hari dalam khutbahnya,
‘Ketahuilah sesungguhnya Rabb-ku telah menyuruhku untuk mengajarkan kalian
hal-hal yang kalian tidak mengetahuinya, dari apa-apa yang Dia telah
mengajarkannya kepadaku hari ini ....” [12]
قَالَ اْلإِمَامُ مَالِِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللهُ: مَنِ ابْتَدَعَ فِى اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، ِلأَنَّ اللهَ يَقُولُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ...) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا، فَلاَ يَكُونُ الْيَوْمَ دِيْنًا.
Imam
Malik bin Anas rahimahullah [13]berkata,
“Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu
baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah
Azza wa Jalla telah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu
untukmu...” [Al-Maa-idah: 3]. (Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata),
“Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun
sesuatu itu bukanlah ajaran agama.” [14]
Risalah
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam datang secara sempurna untuk
seluruh umat manusia dan segenap bangsa jin, orang-orang Arab dan non Arab,
cocok untuk setiap tempat dan waktu, setiap generasi dan kondisi. Tidak ada
suatu kebaikan melainkan telah ditunjukkan oleh Islam dan tidak ada keburukan
melainkan telah diperingatkan oleh Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan
menerima suatu agama dari siapa pun selain agama yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syaikh
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Saya berpesan kepada
mereka yang terjerat dalam perbuatan bid’ah [15],
yang mungkin ia mempunyai tujuan baik dan menghendaki kebaikan. Apabila Anda
memang menghendaki kebaikan, maka demi Allah, tidak ada jalan yang terbaik
melainkan jalan yang telah ditempuh oleh Salafush Shalih Radhiyallahu anhu
Wahai
saudara-saudaraku, berpegang teguhlah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, ikutilah jejak Salafush Shalih dan laksanakanlah apa yang
mereka amalkan dan perhatikanlah apakah hal itu merugikan Anda?!!” [16]
lihat : abiubaidah.com
[1]
HR. At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (II/155-156 no. 1647) dan Ibnu Hibban (no.
65) dengan ringkas dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah
al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1803.
[2]
HR. Ibnu Hiban (no. 65/at-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban) dari
Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu.
Perkataan Abu Dzarr Radhiyallahu anhu di atas diriwayatkan
juga oleh Imam Ahmad (Musnad Imam Ahmad V/153, 162). Kemudian ada syahidnya
dari perkataan Abud Darda Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani
dalam Mu’jam al-Kabir sebagaimana dikatakan Imam al-Haitsami dalam Majma’uz
Zawaa-id (VIII/264).
[4]
Riwayat Imam asy-Syafi’i dalam kitab ar-Risalah (hal. 87-93 no. 289), tahqiq
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir v, al-Baihaqi (VII/76). Lihat Silsilah
al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 1803).
[5]
Riwayat Muslim (no. 262 (57)), Abu Dawud (no. 7), at-Tirmidzi (no. 16) dan Ibnu
Majah (no. 316), dari Salman al-Farisiz.
[6]
HR. Abu Dawud (no. 8) dan lainnya.
[7]
HR. Al-Bukhari (no. 6604), Muslim (no. 2891 (23)), Abu Dawud (no. 4240) dan
al-Hakim (IV/487), lafazh ini milik Muslim dari Shahabat Hudzaifah Radhiyallahu
anhu.
[8]
HR. Muslim (no. 2892), al-Hakim (IV/487) dan Ahmad (V/341) dari Shahabat ‘Amr
bin Akhthab Radhiyallahu anhu.
[9]
HR. Al-Bukhari (no. 3192) secara mu’allaq, dengan lafazh jazm (bersifat pasti).
[10]
Riwayat Ahmad (IV/254) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XX/441 no. 1077)
dan pada sanad hadits ini terdapat periwayat yang lemah, ‘Amr bin Ibrahim bin
Muhammad, akan tetapi hadits ini memiliki beberapa penguat, yaitu hadits-hadits
yang sebelumnya, sehingga derajat hadits ini naik menjadi hasan. Lihat Majma’uz
Zawaa-id (VIII/264).
[11]
HR. Muslim (no. 404 (62)), Abu Dawud (no. 972), an-Nasa-i (II/241), Ibnu Majah
(no. 901), Ahmad (IV/401, 405) dan al-Baihaqi (II/140-141), dari Shahabat Abu
Musa al-‘Asy’ari z.
[12]
HR. Muslim (no. 2865 (63)) dan Ahmad (IV/162, 266 ).
[13]
Beliau adalah gurunya Imam asy-Syafi’i, dan wafat tahun 179 H.
[14] Al-I’tisham (I/ 64-65) tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied
al-Hilaly cet. I, th. 1412 H, Daar Ibni Affan
[15] Definisi bid'ah
menurut takrif etimologi diambil dari asal perkataan al-bida' (اَلْبِدَع) yang
bermakna / artinya : "Mencipta (atau mengada-adakan sesuatu pekerjaan, amalan, benda atau
perkara) yang sama sekali tiada contoh atau misal sebelumnya". (Lihat: الاعتصام للشاطبي Jld. 1. hlm. 36)
[16] Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy
Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (hal. 23) oleh Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin
Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
Label:
AQIDAH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar