Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Jumat, 19 September 2014

Kebenaran mutlak datang hanya dari Allah Azza wa Jalla. Oleh
karena itu, al-haq tidak diambil kecuali dengan petunjuk kitab Allah Azza wa
Jalla dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sepantasnya
orang-orang yang sudah menerima al-haq, hendaknya mereka menerima dan
mengikutinya.
Allah Azza wa Jalla telah memuji orang-orang yang beriman
karena mereka mengkuti al-haq dalam firmannya:
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan
kepadamu dari rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang
yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, [a-Ra'd/13:19]
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang makna ayat ini:
"Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dengan orang yang buta, yang tidak
mengetahui dan memahami kebaikan. Seandainya memahami, dia tidak mematuhinya,
tidak mempercayainya, dan tidak mengikutinya". [2]
Namun, umumnya manusia tidak peduli terhadap kebenaran, tidak
mau mencarinya, dan tidak menelitinya. Sehingga mereka berkubang di dalam
kesesatan dengan sadar atau tanpa sadar. Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ ۖ هَٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُمْ مُعْرِضُونَ
Apakah mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain-Nya?
Katakanlah: "Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`ân) ini adalah peringatan bagi
orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang
sebelumku." Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena
itu mereka berpaling. [al-Anbiyâ'/21:24]
Syaikh `Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa'di rahimahullah berkata:
"Mereka tidak mengetahui kebenaran bukan karena kebenaran itu samar dan
tidak jelas. Namun karena mereka berpaling darinya. Jika mereka tidak berpaling
dan mau memperhatikannya, niscaya kebenaran menjadi jelas bagi mereka dari
kebatilan, dengan kejelasan yang nyata dan gamblang".[3]
Oleh karena itu, jangan sekali-kali seorang Muslim menolak
kebenaran. Siapa pun pembawanya. Karena menolak kebenaran itu merupakan sifat
kesombongan yang dibenci oleh Allah Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada
kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: "Ada seseorang
suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau
menjawab: "Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan.
Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". [4]
Imam Nawawi rahimahullah berkata: "Adapun 'menolak
kebenaran' yaitu menolaknya dan mengingkarinya dengan menganggap dirinya tinggi
dan besar".[5]
Imam Ibnul Atsîr rahimahullah berkata tentang makna 'menolak
kebenaran', yaitu menyatakan batil terhadap perkara yang telah Allah Azza wa
Jalla tetapkan sebagai kebenaran, seperti mentauhidkan-Nya dan beribadah
kepada-Nya. Ada yang mengatakan, maknanya adalah menzhalimi kebenaran, yaitu
tidak menganggapnya sebagai kebenaran. Dan ada yang mengatakan, maknanya adalah
merasa besar terhadap kebenaran, yaitu tidak menerimanya".[6]
Seorang Muslim jangan menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka
mengetahui kebenaran, namun tidak mengikutinya. Allah Azza wa Jalla berfirman
tentang orang-orang Yahudi Madinah yang enggan beriman kepada Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
Dan setelah datang
kepada mereka
(orang-orang Yahudi) al-Qur`ân dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada
mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk
mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka
apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat
Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [al-Baqarah/2:89]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
"Allah Azza wa Jalla menyifati orang-orang Yahudi bahwa mereka dahulu
mengetahui kebenaran sebelum munculnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
berbicara dengan kebenaran dan mendakwahkannya. Namun, setelah Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam datang kepada mereka, beliau berbicara dengan kebenaran.
Karena beliau bukan dari kelompok yang mereka sukai, maka mereka pun tidak
tunduk kepada beliau, dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali dari kelompok
mereka. Padahal, mereka tidak mengikuti perkara yang diwajibkan oleh keyakinan
mereka"[7]
Inilah di antara sifat-sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka
tidak mau menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka saja. Rupanya, sifat
seperti ini menjalar di kalangan ahli bid'ah dulu dan sekarang, mereka tidak
mau menerima kebenaran kecuali dari kelompoknya saja, atau buku-bukunya saja,
atau guru-gurunya saja. Wallâhul Musta'ân.
Sesungguhnya kebenaran itu tetap diterima walau pun datangnya
dari orang kafir. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan hal ini
di dalam beberapa hadits beliau.
Antara lain hadits berikut ini.‘Aisyah
Radhiyallahu anhuma berkata:
دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِيْ إِنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُوْرِهِمْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِي صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Dua nenek Yahudi Madinah masuk menemuiku, keduanya mengatakan
kepadaku: “Sesungguhnya orang-orang yang berada di dalam kubur disiksa di dalam
kubur mereka”. Aku mendustakan keduanya, aku tidak senang membenarkan datang
masuk menemuiku, maka aku keduanya.
Lalu keduanya keluar. Nabi berkata
kepada beliau: “Wahai Rasulullah , sesungguhnya dua nenek...”, aku menyebutkan
kepada beliau. Beliau bersabda: “Keduanya benar. Sesungguhnya mereka disiksa
dengan siksaan yang didengar oleh binatang-binatang semuanya”. Kemudian
tidaklah aku melihat beliau di dalam shalat setelah itu, kecuali beliau
berlindung dari siksa kubur”. [8]
Lihatlah, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
membenarkan dan menerima perkataan dua nenek Yahudi tentang adanya siksa kubur.
Bahkan, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari siksa
kubur di dalam shalatnya setelah itu. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang
Islam di zaman ini, ketika telah disampaikan kepadanya tentang suatu
permasalahan yang benar berdasarkan ayat al-Qur'ân, hadits yang shahîh, dan
penjelasan para Ulama. Mereka tidak menerimanya hanya karena orang yang
menyampaikan berbeda madzhabnya, organisasinya, tempat mengajinya, kebiasaan
masyarakatnya, atau semacamnya.
Di dalam suatu kejadian yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak mengingkari perkataan yang benar dari orang-orang Yahudi. Bahkan
beliau meluruskan amalan umat dari sebab peringatan yang disampaikan oleh
seorang Yahudi! Sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
عَنْ قُتَيْلَةَ امْرَأَةٍ مِنْ جُهَيْنَةَ أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ
Dari Qutailah, seorang wanita dari suku Juhainah, bahwa
seorang laki-laki Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu
berkata: "Sesungguhnya kamu menjadikan tandingan (bagi Allah).
Sesungguhnya kamu menyekutukan (Allah). Kamu mengatakan 'Apa yang Allah
kehendaki dan apa yang engkau kehendaki'. Kamu juga mengatakan 'Demi Ka'bah'.
Maka Nabi memerintahkan kaum Muslimin, jika menghendaki sumpah untuk mengatakan
'Demi Rabb Ka'bah'. Dan agar mereka mengatakan 'Apa yang Allah kehendaki
kemudian apa yang engkau kehendaki'. [9]
Ketika menjelaskan faedah-faedah dari hadits ini, Syaikh
Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn rahimahullah berkata:
Pertama: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari
orang Yahudi tersebut, padahal yang nampak dari niat orang Yahudi itu adalah
mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau. Karena yang
dia katakan memang benar.
Kedua: Disyari'atkan kembali menuju kebenaran walaupun yang
mengingatkan hal itu adalah bukan pengikut kebenaran.
Ketiga: Sepantasnya ketika merubah sesuatu hendaknya
merubahnya kepada sesuatu yang dekat dengannya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam memerintahkan untuk mengatakan 'Demi rabb Ka’bah', dan beliau tidak
mengatakan 'Bersumpahlah dengan nama Allah Azza wa Jalla '. Dan beliau
memerintahkan mereka agar mengatakan 'Apa yang Allah Azza wa Jalla kehendaki,
kemudian apa yang engkau kehendaki'".
Setelah penjelasan ini, Syaikh Muhammad bin Shâlih
al-'Utsaimîn menyampaikan suatu masalah dan jawabannya. Yaitu jika ditanya:
"Kenapa tidak ada yang mengingatkan (kesalahan) perbuatan ini kecuali
seorang Yahudi?" Jawabannya adalah: “Kemungkinan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak mendengarnya dan tidak mengetahuinya.” Jika ditanya
lagi, “Allah Maha mengetahui, kenapa mendiamkan mereka?”, maka dijawab:
“Sesungguhnya itu adalah syirik ashghar (kecil), bukan syirik akbar (besar). Hikmahnya
adalah ujian bagi orang-orang Yahudi. Mereka mengkritik umat Islam atas kata
tersebut, padahal mereka menyekutukan Allah Azza wa Jalla dengan syirik yang
besar, namun mereka tidak melihat aib mereka".[10]
Bahkan sesungguhnya menolak kebenaran itu merupakan sifat
orang-orang kafir. Syaikh Muhammad bin Jamîl Zainu -hafizhahullâh- berkata:
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus para Rasul kepada
manusia, dan memerintahkan mereka dengan dakwah untuk beribadah kepada Allah
Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya. Namun mayoritas umat mendustakan para
rasul. Mereka menolak al-haq yang telah diserukan kepada mereka, yaitu tauhid.
Maka akibatnya adalah kehancuran" [11]
Syaikh juga mengatakan: "Oleh karena ini, wajib menerima
al-haq dari siapa saja, bahkan walaupun dari setan." Kemudian Syaikh
membawakan hadits shahîh seperti di bawah ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ َلأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata:
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan aku untuk menjaga
zakat Ramadhan. Kemudian ada seorang yang mendatangiku lalu mengambil makanan
dengan tangannya. Maka aku menangkapnya, dan kukatakan: "Aku benar-benar
akan membawamu kepada Rasulullah ...kemudian dia menyebutkan hadits itu...lalu
pencuri itu berkata: "Jika engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat
kursi, akan selalu ada seorang penjaga dari Allah atasmu, dan setan tidak akan
mendekatimu sampai waktu subuh". Kemudian Nabi bersabda: "Dia
(pencuri itu) telah berkata benar kepadamu (hai Abu Hurairah), namun dia itu
sangat pendusta, dia adalah setan".[12]
Kesimpulannya adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh
Muhammad bin Jamîl Zainu -hafizhahullâh- : "Berdasarkan ini, seorang
Mukmin tidak boleh menolak kebenaran dan nasehat sehingga tidak menyerupai
orang-orang kafir, dan sehingga tidak terjerumus di dalam kesombongan yang akan
menghalangi pelakunya untuk memasuki surga. Hikmah adalah barang hilang seorang
Mukmin, di mana saja dia menemuinya, dia mengambilnya". [13]
Wallâhu Waliyut Taufîq.
Disalin
dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIII/1431H/2010M.
lihat :
[1] Oleh Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari
[2] Tafsir al-Qur'ânil 'Azhîm, surat . ar-Ra'du/13: 19
[3] Tafsir Taisîr Karîmir Rahmân, surat al-Anbiyâ'/21:24
[2] Tafsir al-Qur'ânil 'Azhîm, surat . ar-Ra'du/13: 19
[3] Tafsir Taisîr Karîmir Rahmân, surat al-Anbiyâ'/21:24
[4]
HR. Muslim, no. 2749, dari `Abdullâh bin Mas'ûd Radhiyallahu anhu
[5]
Syarah Muslim, hadits no. 2749
[6]
An-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts
[7]
Iqtidhâ' Shirâthil Mustaqîm, hlm. 14; syarah Syaikh al-'Utsaimîn; Penerbit. Dâr
Ibni Haitsâm; Kairo; takhrîj: Fathi Shâlih Taufîq
[8]
HR. Bukhâri, no. 6366; Muslim, no. 586
[9]
HR. Nasâi, no. 3773; dishahîhkan oleh al-Albâni
[10]
Al-Qaulul Mufîd, hlm. 522-523; Penerbit Abu Bakar ash-Shiddîq, Mesir, cet. 1,
th. 2007 M / 1428 H; tahqîq: Muhammad Sayyid 'Abdur Rabbir Rasul
[11]
Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140
[12]
HR. Bukhâri, no. 2311, 3275, dengan mu'allaq, namun disambungkan oleh Abu Bakar
al-Ismâ'ili dan Abu Nu'aim, sebagaimana disebutkan di dalam Hadyus sâri, hlm.
42 dan Fathul Bâri 4/488. Lihat penjelasan lengkap di dalam Fathul Mannân, hlm.
458-460, karya Syaikh Masyhûr bin Hasan Alu Salmân
[13]
Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140
Label:
AQIDAH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar