Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Blog Archive

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive

About Me

Jumat, 05 September 2014


KEDUA, Kondisi Dakhan

Hal ini anda dapati dalam petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terdapat dalam Hadits Hudzaifah bin al-Yaman ia berkata,


كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ!»



“orang-orang bertanya kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan, namun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir keburukan itu menimpa diriku. Aku bertanya,’Wahai Rosululloh, dahulu kami berada dalam kejahilan dan keburukan lalu Allah menurunkan kebaikan ini kepada kami. Adakah keburukan setelah kebaikan ini?’



“Ya Ada! Jawab beliau,



“Lalu adakah kebaikan setelah keburukan itu?” lanjutku,



“Ya ada, namun dikotori oleh Dakhan {noda}!” jawab beliau,



“Apa Dakhannya?” tanyaku,



beliau menjawab,”Yakni satu kaum yang tidak mengikuti Sunnahku dan tidak mentaati petunjukku. Perbuatan mereka ada yang kalian pandang baik dan ada yang kalian pandang mungkar.”



Lalu aku bertanya lagi,’Adakah keburukan setelah kebaikan tersebut?”



Rosul menjawab,”Ya ada, para juru Dakhwah di depan pintu Jahanam. Barang siapa mendatangi seruan mereka akan dilemparkan kedalamnya.”



Aku bertanya lagi,”Wahai Rosululloh, sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada kami.”



“mereka berasal dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita!” jawab Rosululloh,



“Apa yang anda anjurkan kepadaku bila aku mendapati hal tersebut?”



Rosul menjawab,”Tetaplah bersama Jama’ah kaum muslimin dan pemimpin merka.”



“Bagaimana bila tidak ada Jama’ah kaum muslimin dan tidak ada Imam?” tanyaku lagi.


“Rosul menjawab,”Tinggalkanlah kelompok-kelompok itu seluruhnya meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga ajal datang menjemput sedang engkau berada di atas pendirianmu.”
 Muttafaqun ‘Alaihi.

Sesungguhnya racun yang sangat mematikan yang telah melumpuhkan kekuatan kaum muslimin, menghambat gerakan dan mencabut keberkahan mereka bukanlah pedang-pedang orang kafir yang bersatu padu menimpakan makar atas Islam dan kaum muslimin serta Daulah mereka. namun penyebabnya adalah kuman-kuman yang datang secara bertubi-tubi dan sangat kuat reaksinya.

Amat tepat sekali perkataan seorang Salibis Yahudi yang menyebut Daulah Islam tak ubahnya sorang Sakit. Sebab merekalah yang telah menanamkan bakteri Syahwat dan Virus Syubhat ke dalam tubuh Daulah Islam. Kemudian bakteri dan virus tersebut berkembang pesat dalam lingkungan kaum muslimin. Umat ini telah menyedot segala sesuatunya tanpa sisa.

Beraneka ragam ungkapan yang dikemukakan para pensyarah hadits ini seputar pengertian Dakhan, akan tetapi bertemu pada satu kesimpulan yang sama.


قالَ الحافظً ابن حجرٍ في (فتح الباري) _(36/1):
وهو الحقدُ، وقيلَ : الدغلُ، وقيلَ: فسادُالقلبِ، ومعنى الثلاثةِ مُتقاربٌ.يشيرُ إلى أنَّ الخيرَ اَّذي يَجيءُ بعدَ الشرِّ لايَكونُ خلصا بل فيه كدرٌ.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata,”Makna Dakhan adalah Hiqd {kedengkian}, ada yang mengatakan ad-Daghal {penghianatan dan Makar}. Adapula yang mengatakan kerusakan hati. Ketiga makna ini hampir sama, mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni bahkan telah keruh. (Fathul Bari I/ 36)

Ada lagi yang mengatakan maksud ad Dakhan adalah kabut, dan itu mengisyaratkan keruhnya keadaan. 

Dan ada pula yang mengatakan, ad Dakhan ialah semua perkara yang tidak disukai, 

وقالَ أبو عبيدٍ: يفسرُ الُمرادَ بمذا الحديثِ الحديثُ الآخَرُ : لا ترجغ القلوبُ على ماكانت عليه. 

Abu Ubaid berkata,”Maksud Hadits ini ditafsirkan oleh Hadits yang lain yaitu, “Hati-hati satu kaum tidak akan kembali pulih seperti sedia kala.”

Asal kata Dakhan digunakan untuk warna keruh yang ada pada binatang tunggangan, maka seakan-akan maknanya bahwa sebagian hati mereka tidak saling menjernihkan.

Imam an-Nawawi telah menukil perkataan Abu Ubaid ini

ونقلَ النوويُّ في (شرحِ صحيح مسلم)    قولَ أبي عبيدِ. قال البغويُّ في (شرحِ السنةِ) وقوله : (فيه دخن)، أي: لايكونَ الخيرُ محضا، بل فيه كدرٌ وظلُمةٌ، وأصلُ الدّخنِ أن يكونَ في لونِ الدّابّةِ كدورةٌ إلى السوادِ) .هـ

Al-Baghawi  mengatakan,”Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam artinya, kebaikan tersebut tidak murni bahkan ada kekeruhan dan kegelapan padanya. Asal kata Dakhan mulanya ada warna binatang, yaitu keruh yang cenderung gelap.”(Syarhu Sunnah XV/ 15)


ونقلَ العظمُ أنادي في: (عونِ المعبودِ) عن القاري قول‘ه: (وأصلُ الدّخنِ هو الكدورةُ واللّونُ الَّذي يضربُ إلى السّوادِ، فيكونُ فيه إشعارٌ إلى أنَّه صلاحٌ مشوبٌ بالفسادِ)أ، هـ

Al ‘Azhim Abadi telah menukilkan perkataan dari al-Qary,”Asal kata Dakhan adalah kekeruhan dan warna yang kehitam-hitaman maka di dalamnya ada satu penunjukan bahwa kebaikan telah terkeruhkan oleh kerusakan.”(Syarhu Sunnah XV/ 15)

Syaikh Salim berkata,”Penjelasan ini dapat disimpulkan menjadi dua perkara.”


Pertama,”Fase Ad Dakhan tersebut bukanlah fase kebaikan murni, namun terkotori oleh noda-noda yang merusak kemurniannya, sehingga membuat rasanya menjadi asin dan pahit, tidak tawar lagi.
 
Kedua, Kotoran ini merusak hati dan menjadikannya lemah karena telah terjangkit oleh penyakit yang telah menggerogoti bangsa-bangsa lain dan telah disambar oleh Syahwat.


Sekarang ini bukan waktunya membicarakan panjang lebar seluruh syarah untuk menjelaskan yang baik dan yang buruk, yang sehat dan yang cacat itu. Sebab Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri telah menjelaskannya, di antaranya,


Pertama, Bid’ah,


Sesungguhnya ad-Dakhan itu adalah penyimpangan yang merusak Manhaj Nabawi yang Haq yang sebelumnya mendominasi fase kebaikan murni. Hal itu berdampak kepada kaburnya Mahhajah al-Baidhaa’, jalan yang putih bersih yang siang dan malamnya sama terangnya. Bukankah Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan pengertian ad-Dakhan sebagaimana disebutkan dalam Hadits Hudzaifah ketika ia bertanya tentangnya, Rosul menjawab,”Mereka adalah satu kaum yang tidak mengikuti sunnahku dan tidak mengambil petunjukku. Perbuatan mereka ada yang kalian anggap baik dan ada pula yang kalian pandang Mungkar.”


Itulah sumber penyakit dan pemicu segala macam bala. Yakni penyimpangan dari Sunnah dalam perkara Manhaj dan berpaling dari Akhlak Nabawi dalam berperilaku dan berMu’amalah.




Dengan demikian jelaslah pengertian ad-Dakhan yang telah mengotori kebaikan dan memperkeruh mata air dan merubah rasanya. Yaitu Bid’ah yang telah tumbuh pesat dari sarang-sarang kaum Mu’tazilah, Shufiyyah, Jahmiyah, Khawarij, al-Asy’ariyah, al-Murji’ah, ar-Rafidhah sejak kurun pertama saat kelompok-kelompok tersebut menebarkan kesesatan dan memunculkan berbagai macam penyimpangan, pemalsuan dan Takwil-takwil batil.


Sehingga al-Qur’an hanya tinggal tulisan belaka, Islam hanya tinggal nama dan ibadah hanya tinggal rangkanya saja.


Dari sini jelas bahwa perkara Bid’ah amat berbahaya karena ia merusak hati-hati dan jasmani sedangkan musuh-musuh {Islam} hanya merusak jasmani saja oleh karena itu bahasa para Shalafushalih menjadi satu, yaitu wajibnya memerangi Ahlu Bid’ah dan mengisolasinya {memboikotnya}.


قال مؤرّخُ الإسلامِ الذَّهبيُّ في كتابه المستطاب : (سير أعلام النبلاءِ)  بعد أن نَقلَ قولَ سفيانَ الثوريّ: ( من أصغى بسمعه إلى صاحبِ بدعةِ وهو يعلمُ، خرجَ من عصمةِ الله، ووكل إلى نفسِه.

Sejarawan Islam, Imam Adz-Dzahabi Rahimalloh, setelah menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri Rahimalloh,”Barangsiapa dengan penuh perhatian memasang pendengarannya kepada Ahlu Bid’ah padahal ia mengetahui, maka dia telah keluar dari penjagaan Allah Ta’ala dan ia diserahkan kepada dirinya sendiri.”


وعنه : من سمعَ بيدعةٍ فلا يحكها لجلسائه، لا يلقها في قلوبمم



Juga perkataan ats-Tsauri Rahimalloh lainnya,”Barangsiapa yang mendengar suatu Bid’ah maka janganlah dimasukkan ke dalam hati-hati mereka.” 


قالَ الذّهبيّ : أكثرُ الشلفِ على هذا التّحذيرِ، يرونَ أنَّ القلوبَ ضعيفةٌ والشُّبَه خطّافةٌ.

setelah menukil perkataan ats-Tsauri Rahimalloh tersebut maka adz-Dzahabi Rahimalloh berkata dalam kitabnya yang agung,”Kebanyakan para Salaf bersepakat terhadap peringatan ini, mereka memandang hal itu lemah sedangkan Syubhat menyambar-nyambar.”(Siyar A’lam Nubala oleh adz-Dzahabi VII/ 261)

Saya berkata,”Sungguh benar Imam Adz-Dzahabi Rahimalloh, dan telah berbuat kebaikan serta nasehat.”


Dengan Bid’ah itulah akhirnya Umat Islam berada di deretan paling akhir barisan umat manusia, menjadi pengikut siapa saja yang berbicara, dan akibatnya kebatilan menjadi kuat di Bumi umat islam. Padahal kebatilan itu sebenarnya sangat lemah. Setiap Munafik pun berbicara tentang perkara umat islam.


ونَبتت خلوفٌ اتّبعوا الشّهواتِ، واجتالتهم الشُّبهاتُ؛ فغزا الوهنُ قلوبمم، وظهرت في الأمةِ سكرتَا الجهل وحبِّ العيشِ، فلم تعد امرةً بالمعروفِ، ناهيةً عن المنكرِ، مجاهدةً في سبيلِ الله، ففقدت خيريّتَها؛ لأنما لم تؤدِّ شرطَ اللهِ فيها

Kemudian muncullah generasi-generasi penerus yang mengikuti Syahwat dan terjajah oleh Syubhat. Sehingga penyakit al-Wahn menyerang hati-hati mereka. selanjutnya timbullah pada umat Islam kebodohan dan cinta kehidupan sehingga tidak lagi mampu beramar Ma’ruf Nahi Munkar dan berjihad Fi Sabilillah. Akibatnya hilanglah posisi sebagai umat terbaik dikarenakan mereka belum meneunaikan persyaratan Allah Ta’ala dalam hal itu.(Tafsir Ibnu Katsir  oleh Ibnu Katsir I/ 339-405.)

روي عن أنسِ رضي الله عنه قال رسولُ اللهصلى الله عليه وسلم : " أنتم على بينةٍ من ربكم، تأمرونَ بالمعروفِ، وتنهون عن المنكرِ، وتجاهدونَ في سبيلِ الله، ثمَّ تظهرُ فيكم السَّكرتانِ؛ سكرةُ الجهلِ، وسكرةُ حبِّ العيشرِ، وستحولونَ عن ذلكَ، فلا تأمرونَ بمعروفٍ، ولا تنهونَ عن منكرِ، ولا تُجاهدونَ في سبيلِ الله، القائمون يومئذٍ بالكتاب والسّنّةِ لهم أجرُ لحمسينَ صدّيقا" قالوا: يا رسولَ الله منّا أو منهم؟ قالَ:" لا بل منكم"

Diriwayatkan Dari Anas bin Malik beliau berkata,”Telah bersabda Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,’Kalian berada pada petunjuk Rabb kalian, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan berjihad di jalan Allah Ta’ala, kemudian muncul dalam hati kalian dua penyakit yang memabukkan, kebodohan dan cinta kehidupan {dunia}, lalu kalian berbalik dari sikap kalian dahulu, kalian tidak lagi mengajak kepada kebaikan, tidak mencegah kemungkaran dan tidak berjihad di jalan Allah Ta’ala. Pada saat itu orang yang melaksanakan al-Qur’an dan Sunnah mendapatkan pahala lima puluh orang Sidiq. Lalu mereka bertanaya ,’Wahai Rosululloh, {lima puluh orang} dari kami atau dari mereka?’ beliau menjawab,”Tidak, bahkan dari kalian." (HR. Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyah al-Auliya’ XIII/ 49 dengan Sanad lemah. Saya dahulu menshahihkan sanadnya dalam kitab Al-Qaul al-Mubin fi Jama’atil Muslimin hal. 36, kemudian saya mendapatkan kelemahannya dan saya jelaskan dalam kitab saya al-Qabidhuna ‘Alal Jamri hal. 21-22. pada kesempatan ini saya sampaikan lagi untuk melepaskan tanggung jawab saya. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan saya. Ini adalah amanat Ilmiyyah yang saya pegang teguh.)

insya Allah ...............bersambung Kedua, Benteng kita terancam dari dalam.




Di salin  Rio Kristianto

Di nukil dari Kitab “Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafy” 
oleh Syaikh Salim  bin I’d al-Hilaly











0 komentar: