Popular Posts
-
أخبرنا الشيخ الجليل الزاهد الثقة أبو الحسين المبارك بن عبد الجبار بن أحمد بن القاسم قال: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah ...
-
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Puasa Bulan Rajab Pertanyaan: Akhir-akhir ini, banyak orang ...
-
عن عبد الله بن عمر قال أقبل علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله ...
-
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum,...
-
TIDAK MAU MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH DALAM PERKARA YANG BAIK Demokrasi tegak di atas prinsip pembolehan ...
-
MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunya Allah Ta’ala ke langit dun...
-
KENDURIAN ORANG MATI/TAHLILAN MENURUT KITAB I'ANATUTH THALIBIN Bismillah, Dari sebagian kaum muslimin yang banyak melakuk...
-
Jumhur ulama mengatakan bahwa isbal jika tidak disertai dengan kesombongan, maka hukumnya tidak sampai pada derajat haram. Paling be...
-
Kaum moderat adalah sebuah madzhab baru di abad ini. Mereka bertujuan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Khawarij dan Mu’tazilah. ...
-
Oleh Ustadz Abu Minhal Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan a...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Jabat Tangan Wanita
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Macam-macam Kufur
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Mengolok-Olok Syari'at
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Jangan Menolak Kebenaran
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Pemimpin Ideal
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Realita Umat Islam (4)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam ( 1 )
-
▼
September
(45)
Pages
Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2014
(59)
-
▼
September
(45)
- Realita Umat Islam ( 1 )
- Realita Umat Islam (2)
- Realita Umat Islam (3)
- Realita Umat Islam (4)
- USHULUS SUNNAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL رحمه الله
- Kemaksiatan adalah sebab munculnya penguasa yang d...
- WAKTU KETIKA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA
- FIQIH PADA ZAMAN NABI
- USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN Ibnu Abi Hatim
- ILMU FIQIH PADA ZAMAN SHAHABAT
- SIAPAKAH YANG BERHAK DI SEBUT ULAMA?
- TOLERANSI DALAM ISLAM
- KESESATAN DAKWAH “Penyatuan Agama”
- RAGAM PEMIKIRAN MU'TAZILAH
- KEUTAMAAN NEGERI SYAM DALAM HADITS SHAHIH
- LARANGAN MEMAKI AD-DAHR (MASA)
- PERSATUAN YANG DIPERTUHANKAN
- MENYIKAPI FITNAH SECARA SYAR'I
- Meninggalkan Peperangan Ketika Terjadi Fitnah
- KERUSAKAN PEMILIHAN PEMIMPIN SECARA LANGSUNG
- JENGGOT… HARUSKAH ???
- Pemimpin Ideal
- Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
- Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah ?
- Rapor Merah Ideologi Demokrasi
- Jangan Menolak Kebenaran
- Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin
- Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- Mengolok-Olok Syari'at
- Bahaya Mengolok-Olok Syari’at
- Syubhat Seputar Larangan Isbal
- Jilbab Syar’i Itu Lebar
- Macam-macam Kufur
- Berobat dengan Sesuatu yang Diharamkan
- Islam adalah Agama yang Sempurna
- Jabat Tangan Wanita
- tentang Men-sirr-kan Bismillah
- Hadits-Hadits tentang Pengharaman Isbal
- Ilmu Fiqih pada Zaman Para Tabi’in
- Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in
- Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ra’yi
- Hukum Cadar Pandangan 4 Madzhab
- Dalam Kondisi Darurat Hal Yang Terlarang Dibolehkan
- Menyentuh Al-Qur’an dalam Keadaan Tidak Suci
- Al-Walaa’ wal-Baraa’ dalam Islam
-
▼
September
(45)
About Me
- Unknown
Jumat, 05 September 2014
KEDUA, Kondisi Dakhan
Hal ini anda
dapati dalam petunjuk Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam yang terdapat dalam Hadits Hudzaifah bin al-Yaman ia berkata,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ
أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا
الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ:
هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ،
قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي،
وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ
بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ
جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ
بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي
ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ:
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ
الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ
الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ!»
“orang-orang
bertanya kepada Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan, namun aku bertanya kepada beliau
tentang keburukan, karena khawatir keburukan itu menimpa diriku. Aku
bertanya,’Wahai Rosululloh, dahulu kami berada dalam kejahilan dan keburukan
lalu Allah menurunkan kebaikan ini kepada kami. Adakah keburukan setelah
kebaikan ini?’
“Ya Ada!
Jawab beliau,
“Lalu adakah
kebaikan setelah keburukan itu?” lanjutku,
“Ya ada,
namun dikotori oleh Dakhan {noda}!” jawab beliau,
“Apa
Dakhannya?” tanyaku,
beliau
menjawab,”Yakni satu kaum yang tidak mengikuti Sunnahku dan tidak mentaati
petunjukku. Perbuatan mereka ada yang kalian pandang baik dan ada yang kalian
pandang mungkar.”
Lalu aku
bertanya lagi,’Adakah keburukan setelah kebaikan tersebut?”
Rosul
menjawab,”Ya ada, para juru Dakhwah di depan pintu Jahanam. Barang siapa
mendatangi seruan mereka akan dilemparkan kedalamnya.”
Aku bertanya
lagi,”Wahai Rosululloh, sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada kami.”
“mereka
berasal dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita!” jawab Rosululloh,
“Apa yang
anda anjurkan kepadaku bila aku mendapati hal tersebut?”
Rosul
menjawab,”Tetaplah bersama Jama’ah kaum muslimin dan pemimpin merka.”
“Bagaimana
bila tidak ada Jama’ah kaum muslimin dan tidak ada Imam?” tanyaku lagi.
Muttafaqun
‘Alaihi.
Sesungguhnya
racun yang sangat mematikan yang telah melumpuhkan kekuatan kaum muslimin,
menghambat gerakan dan mencabut keberkahan mereka bukanlah pedang-pedang orang
kafir yang bersatu padu menimpakan makar atas Islam dan kaum muslimin serta Daulah mereka. namun penyebabnya adalah
kuman-kuman yang datang secara bertubi-tubi dan sangat kuat reaksinya.
Amat tepat
sekali perkataan seorang Salibis Yahudi
yang menyebut Daulah Islam tak
ubahnya sorang Sakit. Sebab merekalah yang telah menanamkan bakteri Syahwat dan Virus Syubhat ke dalam tubuh Daulah
Islam. Kemudian bakteri dan virus tersebut berkembang pesat dalam lingkungan
kaum muslimin. Umat ini telah menyedot segala sesuatunya tanpa sisa.
Beraneka
ragam ungkapan yang dikemukakan para pensyarah hadits ini seputar pengertian
Dakhan, akan tetapi bertemu pada satu kesimpulan yang sama.
قالَ الحافظً ابن حجرٍ في (فتح الباري) _(36/1):
وهو الحقدُ، وقيلَ : الدغلُ، وقيلَ:
فسادُالقلبِ، ومعنى الثلاثةِ مُتقاربٌ.يشيرُ إلى أنَّ الخيرَ اَّذي يَجيءُ بعدَ
الشرِّ لايَكونُ خلصا بل فيه كدرٌ.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata,”Makna
Dakhan adalah Hiqd {kedengkian}, ada yang mengatakan ad-Daghal {penghianatan dan Makar}. Adapula yang mengatakan
kerusakan hati. Ketiga makna ini hampir sama, mengisyaratkan bahwa kebaikan
yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni bahkan telah keruh. (Fathul Bari
I/ 36)
Ada lagi
yang mengatakan maksud ad Dakhan
adalah kabut, dan itu mengisyaratkan keruhnya keadaan.
Dan ada pula
yang mengatakan, ad Dakhan ialah
semua perkara yang tidak disukai,
وقالَ أبو عبيدٍ: يفسرُ الُمرادَ بمذا الحديثِ
الحديثُ الآخَرُ : لا ترجغ القلوبُ على ماكانت عليه.
Abu Ubaid berkata,”Maksud Hadits ini ditafsirkan oleh
Hadits yang lain yaitu,
“Hati-hati satu kaum tidak akan kembali pulih seperti sedia
kala.”
Asal kata Dakhan digunakan untuk warna keruh yang
ada pada binatang tunggangan, maka seakan-akan maknanya bahwa sebagian hati
mereka tidak saling menjernihkan.
Imam an-Nawawi telah menukil perkataan Abu Ubaid ini
ونقلَ النوويُّ في (شرحِ صحيح مسلم) قولَ أبي عبيدِ. قال البغويُّ في (شرحِ
السنةِ) وقوله : (فيه دخن)، أي: لايكونَ الخيرُ محضا، بل فيه كدرٌ وظلُمةٌ، وأصلُ
الدّخنِ أن يكونَ في لونِ الدّابّةِ كدورةٌ إلى السوادِ) .هـ
Al-Baghawi mengatakan,”Sabda Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam artinya, kebaikan tersebut tidak murni bahkan ada kekeruhan
dan kegelapan padanya. Asal kata Dakhan mulanya ada warna binatang, yaitu keruh
yang cenderung gelap.”(Syarhu Sunnah
XV/ 15)
ونقلَ العظمُ أنادي في: (عونِ المعبودِ) عن القاري
قول‘ه: (وأصلُ الدّخنِ هو الكدورةُ واللّونُ الَّذي يضربُ إلى السّوادِ، فيكونُ
فيه إشعارٌ إلى أنَّه صلاحٌ مشوبٌ بالفسادِ)أ، هـ
Al ‘Azhim Abadi telah menukilkan perkataan dari al-Qary,”Asal kata Dakhan adalah kekeruhan dan warna yang kehitam-hitaman maka di dalamnya ada satu penunjukan bahwa kebaikan telah terkeruhkan oleh kerusakan.”(Syarhu Sunnah XV/ 15)
Syaikh Salim berkata,”Penjelasan ini dapat disimpulkan menjadi dua perkara.”
Pertama,”Fase Ad
Dakhan tersebut bukanlah fase kebaikan murni, namun terkotori oleh
noda-noda yang merusak kemurniannya, sehingga membuat rasanya menjadi asin dan
pahit, tidak tawar lagi.
Kedua, Kotoran ini merusak hati dan menjadikannya
lemah karena telah terjangkit oleh penyakit yang telah menggerogoti
bangsa-bangsa lain dan telah disambar oleh Syahwat.
Sekarang ini
bukan waktunya membicarakan panjang lebar seluruh syarah untuk menjelaskan yang baik dan yang buruk, yang sehat dan
yang cacat itu. Sebab Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam sendiri telah menjelaskannya, di antaranya,
Pertama, Bid’ah,
Sesungguhnya
ad-Dakhan itu adalah penyimpangan
yang merusak Manhaj Nabawi yang Haq yang sebelumnya mendominasi fase
kebaikan murni. Hal itu berdampak kepada kaburnya Mahhajah al-Baidhaa’, jalan yang putih bersih yang siang dan
malamnya sama terangnya. Bukankah Rosululloh
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan pengertian ad-Dakhan sebagaimana disebutkan dalam
Hadits Hudzaifah ketika ia bertanya
tentangnya, Rosul menjawab,”Mereka adalah satu kaum yang tidak mengikuti
sunnahku dan tidak mengambil petunjukku. Perbuatan mereka ada yang kalian
anggap baik dan ada pula yang kalian pandang Mungkar.”
Itulah
sumber penyakit dan pemicu segala macam bala. Yakni penyimpangan dari Sunnah
dalam perkara Manhaj dan berpaling
dari Akhlak Nabawi dalam berperilaku
dan berMu’amalah.
Dengan
demikian jelaslah pengertian ad-Dakhan
yang telah mengotori kebaikan dan memperkeruh mata air dan merubah rasanya.
Yaitu Bid’ah yang telah tumbuh pesat
dari sarang-sarang kaum Mu’tazilah,
Shufiyyah, Jahmiyah, Khawarij, al-Asy’ariyah, al-Murji’ah, ar-Rafidhah sejak
kurun pertama saat kelompok-kelompok tersebut menebarkan kesesatan dan
memunculkan berbagai macam penyimpangan, pemalsuan dan Takwil-takwil batil.
Sehingga
al-Qur’an hanya tinggal tulisan belaka, Islam hanya tinggal nama dan ibadah
hanya tinggal rangkanya saja.
Dari sini
jelas bahwa perkara Bid’ah amat berbahaya karena ia merusak hati-hati dan
jasmani sedangkan musuh-musuh {Islam} hanya merusak jasmani saja oleh karena itu
bahasa para Shalafushalih menjadi
satu, yaitu wajibnya memerangi Ahlu Bid’ah dan mengisolasinya
{memboikotnya}.
قال مؤرّخُ الإسلامِ
الذَّهبيُّ في كتابه المستطاب : (سير أعلام النبلاءِ) بعد أن نَقلَ قولَ سفيانَ الثوريّ: ( من أصغى
بسمعه إلى صاحبِ بدعةِ وهو يعلمُ، خرجَ من عصمةِ الله، ووكل إلى نفسِه.
Sejarawan
Islam, Imam Adz-Dzahabi Rahimalloh, setelah menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri Rahimalloh,”Barangsiapa
dengan penuh perhatian memasang pendengarannya kepada Ahlu Bid’ah padahal ia mengetahui, maka dia telah keluar dari
penjagaan Allah Ta’ala dan ia
diserahkan kepada dirinya sendiri.”
وعنه : من سمعَ بيدعةٍ فلا يحكها لجلسائه، لا
يلقها في قلوبمم
Juga
perkataan ats-Tsauri Rahimalloh lainnya,”Barangsiapa yang
mendengar suatu Bid’ah maka janganlah dimasukkan ke dalam hati-hati mereka.”
قالَ الذّهبيّ : أكثرُ الشلفِ على هذا التّحذيرِ،
يرونَ أنَّ القلوبَ ضعيفةٌ والشُّبَه خطّافةٌ.
setelah menukil perkataan ats-Tsauri Rahimalloh tersebut maka adz-Dzahabi Rahimalloh berkata dalam kitabnya yang agung,”Kebanyakan para Salaf bersepakat terhadap peringatan ini, mereka memandang hal itu lemah sedangkan Syubhat menyambar-nyambar.”(Siyar A’lam Nubala oleh adz-Dzahabi VII/ 261)
Saya
berkata,”Sungguh benar Imam Adz-Dzahabi
Rahimalloh, dan telah berbuat
kebaikan serta nasehat.”
Dengan Bid’ah itulah akhirnya Umat Islam berada
di deretan paling akhir barisan umat manusia, menjadi pengikut siapa saja yang
berbicara, dan akibatnya kebatilan menjadi kuat di Bumi umat islam. Padahal
kebatilan itu sebenarnya sangat lemah. Setiap Munafik pun berbicara tentang perkara umat islam.
ونَبتت خلوفٌ اتّبعوا الشّهواتِ، واجتالتهم
الشُّبهاتُ؛ فغزا الوهنُ قلوبمم، وظهرت في الأمةِ سكرتَا الجهل وحبِّ العيشِ، فلم
تعد امرةً بالمعروفِ، ناهيةً عن المنكرِ، مجاهدةً في سبيلِ الله، ففقدت خيريّتَها؛
لأنما لم تؤدِّ شرطَ اللهِ فيها
Kemudian
muncullah generasi-generasi penerus yang mengikuti Syahwat dan terjajah oleh Syubhat.
Sehingga penyakit al-Wahn menyerang hati-hati mereka. selanjutnya timbullah
pada umat Islam kebodohan dan cinta kehidupan sehingga tidak lagi mampu beramar Ma’ruf Nahi Munkar dan berjihad Fi Sabilillah. Akibatnya
hilanglah posisi sebagai umat terbaik dikarenakan mereka belum meneunaikan
persyaratan Allah Ta’ala dalam hal
itu.(Tafsir Ibnu
Katsir oleh Ibnu Katsir I/ 339-405.)
روي عن أنسِ رضي الله عنه قال رسولُ اللهصلى الله
عليه وسلم : " أنتم على بينةٍ من ربكم، تأمرونَ بالمعروفِ، وتنهون عن
المنكرِ، وتجاهدونَ في سبيلِ الله، ثمَّ تظهرُ فيكم السَّكرتانِ؛ سكرةُ الجهلِ،
وسكرةُ حبِّ العيشرِ، وستحولونَ عن ذلكَ، فلا تأمرونَ بمعروفٍ، ولا تنهونَ عن
منكرِ، ولا تُجاهدونَ في سبيلِ الله، القائمون يومئذٍ بالكتاب والسّنّةِ لهم أجرُ
لحمسينَ صدّيقا" قالوا: يا رسولَ الله منّا أو منهم؟ قالَ:" لا بل
منكم"
Diriwayatkan
Dari Anas bin Malik beliau
berkata,”Telah bersabda Rosululloh Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam,’Kalian berada pada petunjuk Rabb kalian, mengajak kepada
kebaikan dan mencegah kemungkaran dan berjihad di jalan Allah Ta’ala, kemudian muncul dalam hati
kalian dua penyakit yang memabukkan, kebodohan dan cinta kehidupan {dunia},
lalu kalian berbalik dari sikap kalian dahulu, kalian tidak lagi mengajak
kepada kebaikan, tidak mencegah kemungkaran dan tidak berjihad di jalan Allah Ta’ala. Pada saat itu orang yang
melaksanakan al-Qur’an dan Sunnah mendapatkan pahala lima puluh orang Sidiq. Lalu mereka bertanaya ,’Wahai Rosululloh, {lima puluh orang}
dari kami atau dari mereka?’ beliau menjawab,”Tidak, bahkan dari kalian." (HR. Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyah al-Auliya’ XIII/ 49 dengan
Sanad lemah. Saya dahulu menshahihkan sanadnya dalam kitab Al-Qaul al-Mubin fi
Jama’atil Muslimin hal. 36, kemudian saya mendapatkan kelemahannya dan saya
jelaskan dalam kitab saya al-Qabidhuna ‘Alal Jamri hal. 21-22. pada kesempatan
ini saya sampaikan lagi untuk melepaskan tanggung jawab saya. Semoga Allah
Ta’ala mengampuni kesalahan saya. Ini adalah amanat Ilmiyyah yang saya pegang
teguh.)
insya Allah ...............bersambung Kedua, Benteng kita terancam dari
dalam.
Di salin Rio Kristianto
Di nukil dari Kitab “Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafy”
oleh Syaikh Salim bin I’d al-Hilaly
oleh Syaikh Salim bin I’d al-Hilaly
Label:
MANHAJ
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar